Sick (?)

  • PhotoGrid_1485610079217.pngSICK (?)

Story by : Hanazuki

Chara : Yasui Kentaro, Hagiya Keigo ( Love Tune)

Genre: Romance, Shounen-Ai, Yaoi, BDSM (?)

Rating    : NC-18

Disclaimer: I don’t own all characters here. Love Tune members are under Johnnys & Associates. 

Comment are love. Ditunggu caciannya yaaaah 💜

***

Tiga bulan setelah Hagiya Keigo benar-benar lulus dari kuliahnya dan mejadi karyawan di perusahaan Dream, tempat magangnya dulu, kini ia benar-benar mulai sibuk. Sangat jauh berbeda dengan masa magangnya bersama Nagatsuma Reo.

Bukan tempat yang asing sebenarnya bagi Hagiya, waktu 6 bulan magang sudah membuatnya terjerumus dalam banyak hal di divisi itu. Rekan kerja, artis, studio rekaman, make up artis, fans, bahkan cinta.

Di sanalah pertama kali Hagiya merasakan jatuh cinta. Bukan dengan wanita cantik yang merupakan idol di perusahaan itu, bukan.  Muda, tampan, punya jabatan, siapa yang tak kenal Yasui Kentaro, supervisor divisi Humas. Karismanya tak hanya memabukkan wanita di divisi lain, tapi bahkan hati polos milik Hagiya Keigo juga berhasil dibuat mabuk bukan main.

“Hagiya, bagaimana jadwal 7Colour bulan depan? sudah kamu fix-kan bukan?”, Yasui menyela ditengah Hagiya yang tampak sibuk mengatur berkas dokumen di mejanya. Sejak satu bulan yang lalu Hagiya memang diberi kesempatan mengatur jadwal dan memonitor grup debutan 7Colour, grup berisi 7 ikemen yang mewakili masing-masing perfecture di Jepang.

“Um… sudah di email yaa Yasui-san. kemarin memang sedikit ada revisi dari Daisuke-san, tapi kurasa yang kali ini sudah benar. hmm aku juga memastikan ke pihak majalah dan sponsor pakaian renang yang akan mereka promosikan” Jawab Hagiya masih sibuk memilah berkasnya.

Yasui mengangguk meninggalkan meja Hagiya dan memonitor karyawan lain. memang tugas divisi humas harus bekerja sama dengan managar grup, tapi Yasui tidak mau kalau Hagiya terlalu capek bekerja.

Jam kantor menunjukkan pukul 8 malam, sudah lebih dari jam pulang memang. Hagiya tampak masih sibuk berhadapan dengan komputernya. hanya tersisa Yasui dan Hagiya di ruangan itu.

“Aku pulang dulu, jangan terlalu memforsir dirimu. Aku akan beli makan malam juga untukmu, jadi pastikan kau makan di rumah ya!”. Yasui mengelus kepala Hagiya, memberikan kecupan mesra pada orang yang nampak masih sibuk itu.

Semenjak bekerja keduanya memutuskan tinggal dalam satu apartemen bersama. Tidak terlalu besar memang, tapi cukup untuk istirahat, masak, makan, dan bersantai berdua. Jarak apartemen dengan kantorpun tak terlalu jauh, hanya 5 menit dengan berjalan kaki.

Selisih satu jam dari jam pulang Yasui, Hagiya menuju apartemen mereka. Nampak Yasui yang sedang memanaskan makan malam untuknya.

Mata Hagiya terbelak, nafasnya sedikit terhenti, jantungnya berdegup kencang. Apa-apaan pria di depannya ini! semacam sengaja sekali dengan yang dia lakukan, batinnya.

“Keigo, okaerinasai…” Yasui memerah wajahnya, tak menyangka Hagiya akan pulang secepat ini.

“ah.. Tadaima… Ken.. emmm …. emmm…” Hagiya melempar tasnya, langsung menuju dan memeluk Yasui di depannya. Memang keduanya sudah sama-sama melihat bagian intimnya masing-masing, tapi melihat Yasui berpenampilan seperti itu rasanya seperti mimpi.

“Keigo…. sesak… ugh!”

“Kau kesurupan apa? hahaha” Hagiya sambil meremas pantat Yasui yang terpampang begitu jelas. Apron yang hanya menutupi bagian tubuh Yasui, warna merah hati dan dengan motif garis warna hitam yang sangat menggoda.

“ugh… Kei! lepaskan aku akan pakai baju dulu!” Yasui menggerang atas sentuhan Hagiya.

Hagiya tak peduli, tangannya masih asik meremas pantat Yasui yang halus, sambil sibuk menggigit pelan daun telinga Yasui. Yasui mendesah pelan, menggigit bibir bagian bawahnya menikmati sentuhan Hagiya.

Sudah hampir menegang, Hagiya tiba-tiba menghentikan permainannya.

“Gomenn… besok kita masih harus kerja. aku tidak mau kau terlalu lelah. Ingat besok kau ada meeting dengan sachou.” Hagiya memeluk kencang Yasui sambil meninggalkan kecupan yang memakan waktu beberapa detik.

***

Dua minggu lamanya Hagiya harus meninggalkan Yasui sendirian. Kali ini ia harus mengikuti tur keliling Hokkaido grup 7Colour. Tentu saja Yasui tidak bisa ikut meski mereka satu divisi, banyak tugas supervisor yang tidak bisa ditinggalkannya begitu saja.

Hagiya sampai di rumah, tapi belum terlihat tanda-tanda Yasui pulang. Padahal ia sudah mengabari Yasui dan keduanya berjanji akan makan malam bersama.

“Harusnya dia bilang kalau ada lembur. atau jangan-jangan dia kembali pada Jurina?”, pikiran Hagiya mulai gila sendiri.

Suara pintu terbuka membangunkan Hagiya yang tertidur di sofa ruang tv.

Jam 2 pagi. Kentaro pulang selarut ini? Pasti bohong! Batinnya kacau

Benarsaja, Yasui Kentaro dengan baju berantakan dan wajah yang sama sekali tidak enak diluhat masuk sambil tersenyum, “oh kau sudah pulang yaa”.

Ingin sekali rasanya Hagiya memukul Yasui yang menyambut kepulangannya dengan kelakuan seperti itu. Bau alkohol yang tajam, juga samar bau parfum wanita! Menjengkelkan.

Kesal, Hagiya meninggalkan Yasui yang masih kacau, masuk dan mengunci kamar. Bodo amat dengan Yasui, mau dia mati kedinginan juga terserah, terlanjur kesal.

.

“Keigo…keigo….buka pintunya keigo…”ketukan pintu yg begitu keras membangunkan Hagiya. Memang hari ini hari minggu, karnanya Hagiya sengaja mengurung diri dikamar lebih lama, masih kesal juga dengan Yasui karna kejadian semalam tepatnya.

Hagiya keigo tak menjawab. Yasui masih saja mengetuk pintu, tak tau apa yang membuat kekasihnya seperti itu.

“Ayolah Kei, kau pergi 2 minggu dan saat kembali kau mengurung diri seperti itu?”. Hagiya masih diam

“Kalau kau mau melakukannya, kita bisa lakukan bersama, jangan lakukan sendiri Kei!” Yasui masihmencoba membujuk Hagiya saat tiba tiba suara pukulan dari dalam kamar mengagetkannya

“Uruseee! Pergi sana dengan teman wanitamu dan jangan kembali!”teriak Hagiya dari balik pintu kamar.

Eh? Teman wanita? Apa? Siapa? Apa yang terjadi semalam Yasui sama sekali tidak ingat.

Ah baka! Yasui menepuk jidatnya sendiri. Jangan jangan semalam….

“Kei, aku bisa jelaskan! Kemarin karna kalah taruhan, Aran harus crosdress sebagai cewek, aku, Sanada, dan Shoki mendandaninya sebagai pengantin wanita dan mengubah Myuto jadi pengantin prianya. Kami terlalu asik minum sampai lupa waktu. Ayolaaah Kei…. “, Yasui mencoba menjelaskan dari balik pintu, tak terlalu yakin Hagiya akan mendengarnya sebenarnya

Belum ada tanda-tanda Hagiya akan membukakan kamar, pun setelah penjelasan panjang dari Yasui.

“Baiklah kalau kau tidak mau keluar menemuiku, setidaknya kau harus tetap sarapan. Akan kuambilkan…”

Yasui bergegas menyiapkan sarapan Hagiya, semalam apun dia pulang, selalu sempat baginya bangun pagi dan memasak sarapan

 Tok tok….

Masih tidak ada jawaban dari Hagiya

Tok tok …

“Kei, aku tinggalkan sarapanmu di depan pintu, jangan lupa makan. Aku akan tunggu di ruang tengah sampai kau selesai ngambek”

Suara kunci pintu terbuka, Hagiya tiba tiba membuka pintu dan menarik Yasui yang sudah berbalik badan.

“Kei…. apa yang kau…”

Belum sempat melanjutkan kalimatnya, Hagiya sudah mengunci erat mulut Yasuu. Bibirnya menyentuh dengan sedikit kasar, lidahnya memaksa memasuki mulut Yasui. Gigi keduanya saling bergesekan memunculkan suara yang menggetarkan pemiliknya

“Aku marah! Aku marah karna kau melupakan janji kita! Aku kesal karna kau membuatku berfikir kau kembali dengan Jurina san”, Hagiya menjatuhkan kepalanya ke pundak Yasui

“Gomenne…”Yasui mengelus pelan kepala Hagiya. Hubungan mereka yang sudah terjalin begitu lama membuat Yasui sadar kalau Hagiya benar-benar memikirkannya sedalam itu.

“Jadi, benar itu parfum Aran? Bukan Jurina?”, Hagiya menatap mata Yasui dalam. Yasui mengangguk, membelai rambut berantakan Hagiya. Melayangkan ciuman ke bibir mungilnya

Hagiya makin memantapkan ciumannya ke Yasui. Beralaskan tenbok ruangan yang keras keduanya beradu memanjakan mulut masing-masing. Air liur yang menyatu menambah kenikmatan sensasi pagi itu.

Yasui menghentikan sejenak ciumannya, menatap Hagiya yang tampak kecewa, “masih pagi…”, ucapnya

Hagiya menggeleng, menarik Yasui ke kasur, mendudukkannya di pinggiran, “apa bedanya pagi, siang, sore, malam? Toh ini antara kita?”

Yasui tersenyum simpul, menjatuhkan dirinya, siap untuk kembali dieksplorasi Hagiya.

Keduanya melanjutkan ciuman yang sempat tertunda. Begitu dalam dan hangat. Beberapa kali Yasui mengerang, menambah nafsu Hagiya untuk semakin buas membelai tubuh Yasui.

Tangannya sudah sibuk melepas kaos Yasui. Bau sabun, batinnya sambil tersenyum menatap Yasui. Si punya tubuh sudah siap dan asrah diapakan saja dengan pria diatasnya yang juga sudah bertelanjang dada.

Hagiya mulai menciumi tubuh Yasui. Menggigit pelan puting kanannya sambil memainkan puting satunya. Yasui memeluk leher Hagiya, menahan kenikmatan yang coba disalurkan Hagiya.

Tak berhenti disitu, Hagiya mengambil dasi yang terlihat dipinggir kasur. Mengikatnya paksa ke tangan Yasui, lalu mengikat ke pinggiran kasur.

“KEI!

Hagiya seakan sudah buta, senyumnya begitu tampak bahagia saat melihat tangn yasui terikat dan Yasui kesakitan.

Kembali ciuman dilayangkan ke bibir Yasui, turun ke leher dan meninggalkan beberapa bekas merah. Turun ke dada, perut, sambil tangannya memainkan area sensitif Yasui.

Tak bisa melawan, yasui masih nerintih kesakitan. Hagiya kembali tersenyum menatap Yasui yang memerah dan masih kesakitan. Tangannya melepas celana kolornya dan memaksa lepas celana pendek Yasui.

Sebuah gigitan perlahan Hagiya ke area sensitif Yasui. Perlahan sambil menjilat bagian yang sudah basah dan keras itu.

Yasui tak berkutik dengan perlakuan Hagiya. Semakin kencang ikatan di tangannya, semakin sakit, semakin ia melihat kelakuan nakal Hagiya, semakin ia meraskan debaran aneh di dirinya.

Hagiya makin panas, mulai memainkan jarinya ke belakang Yasui, perlahan. Yasui mengerang menahan sakit yang justru dirasa makin nikmat akibat ikatan di tangannya. Kini Hagiya tak mampu lagi menahan dan memasukkan batang kejantanannya ke pintu belakang yasui. Perlahan, semakin dalam, semakin keras. Yasui menjerit. Sensasi yang hanya dirasakan keduanya, berbaur menjadi satu kenikmatan.

***

Sudah seminggu sejak pertama kali Hagiya mengikat tangan Yasui saat berhubungan intim. Sampai sekarangpun ketika Yasui mulai diikat bagian tubuhnya oleh apapun yang ditemukan Hagiya, ia tak pernah melawan. Sensasi aneh yang membuatnya makin menikmati debaran saat tubuh mereka menyatu.

Yasui meletakkan kepalanya di meja, menco menelaah yang terjadi pada dirinya. Beberapa kali ia sengaja menjedukkan kepalanya bahkan.

“Yasui san, daijoubu?” Aran yang kebetulan lewat cukup khawatir dengan atasannya itu. Pasalnya belakangan ia merasa aneh dengan Yasui yang tak pernah melepas kancing atas kemejanya dan melengkin lengan kemejanya. Bahkan beberapa kali terlihat Yasui memplester bagian tubuhnya yang susah untuk ditutupi.

“Ah, Aran. Terimakasih atas perhatiannya. Tapi sepertinya kau harus lebih mengkhawatirkan Myuto yang semakin kurus.” Yasui berdiri. Berpamitan menuju pantri.

Pikirannya kacau, bahkan kopi yang dituangnyapun berceceran.

“Yasui san?”. Suara Hagiya sontak mengagetkannya. “Kau terlihat pucat hari ini? Apa sebaiknya kau pulang dan istirahat “

Yasui menggeleng. “Kau nanti pulang dulu saja, ada sesuatu yang harus ku beli”. Yasui tersenyum sambil menyeruput kopinya

Hagiya mengangguk, membelai rambut dan pipi Yasui yang tak berubah. Meninggalkan kecupan singkat. “Jangan pernah menyembunyikan apapun dariku yaa”

.

Yasui berjalan sendirian, mencari toko yang kabarnya menjual barang yang dicarinya. Ia berencana membuat kejutan untuk Hagiya. Terlebih hari ini hari ulang tahun Hagiya.

Toko yang dicari berhasil ditemukan. Dengan malu-malu Yasui masuk dan mrmilah apa yang menurutnya memberikan tantangan lebih.

Tak perlu waktu lama Yasui memantapkan diri dan memilih beberapa barang untuk dibawa pulang.

.

“Tadaima… Kei…”

“Okaeri…. sudah puas jalan jalan sendiriannya?” Hagiya memeluk kencang Yasui yang baru pulang. “Ayo kita makan”. Yasui menangguk, sambil tersenyum mengikuti Hagiya ke ruang makan.

Ebi furai mayonaise, salad tomat dengan taburan Keju, sengaja Hagiya siapkan untuk hari ini.

“Jadi, orang satu divisi melihat lukamu?” Wajah Hiya terlihat sedih. Ia merasa bersalah atas yang dia lakukan ke Yasui. Yasui menggeleng sambl melahap ebi furainya.

“Maaf….”. Yasui menggeleng. Hagiya tak perlu minta maaf, karna Yasui-pun sebenarnya juga menikmati siksaan darinya.

Selesai makan keduanya menuju ruang TV. Dorama sabtu malam memang selalu menarik bagi keduanya. Hagiya menidurkan dirinya di paha Yasui. Beberapa kali yasui mengusap-usap rambut Hagiya.

“Kei…”

“Uhmm? … “

“Mau melakukannya lagi malam ini?”

“Kau yakin Ken? Luka kemarin?”

Yasui tidak menjawab, ia melayangkan ciuman ke bibir Hagiya yang masih berbaring di pahanya

Tak berhenti, ciuman Yasui semakin dalam. Kini ia mencoba mengambil alih diri Hagiya.

Yasui berhenti, membangunkan tubuh Hagiya. “tunggu sebentar”, Yasui bangkit, mengambil sesuatu dari dalam tas kerjanya

Hagiya terdiam tak percaya pada benda-benda yang dikeluarkan Yasui. Borgol warna merah, alat getar bergigi, tali berbulu, dan tusukan berbulu yang membuatnya sendiri bergidik sedikit ngeri. Pasalnya selama ini ia hanya menggunakan apa yang ditemukan disekitarnya untuk bermain dengan Yasui. Benar-benar tak percaya Yasui ternyata begitu menikmati dan bahkan membawa barang-barang nakal itu.

Hagiya tersenyum melihat wajah malu Yasui saat menyerahkan barang nakal itu. Keduanya menuju kamar untuk menciba memainkannya.

Yasui menyerahkan tangannya untuk diborgol Hagiya . Tanpa ragu Hagiya menurutin keinginan Yasui.

Ciuman dilayangkan. Yasui terlihat begitu menikmati sentuhannya kali ini. Perlahan lidah mereka beradu, semakin dalam semakin membangkitkan gelora diri. Tak berhenti disitu, tangan Hagiya tak bisa menganggur. Dipakainya satu alat nakal untuk membuat Yasui makin bangkit. Sensai geli dari benda berbulu membuat Yasui bangkit lebih xepat dari biasanya. Hagiya tersenyum melihat Yasui yang menggerang keasikan

Hagiya mengeksplorasi tubuh Yasui yang terikat tali. Tangannya memainkan manja kejantanan milih partnernya. Beberapa kali disentuhkan dengan at getar.

Uuh

Suara desahan Hagiya terdengar begitu indah ditelinga Yasui. Di sentuhkan batang keras miliknya ke milik Hagiya dan ditambah alat getar diantaranya. Tangannya memainkan lubang velakang Yasui, mulutbya masih sibuk mencium bibir Yasui yang memerah.

Semakin intens permainan mereka tubuh Yasui semakin terikat kencang. Rintihan kesakitan Yasui dirasa Hagiya menambah kenikmatan hubungan mereka malam ini.

Dimasukkan perlahan miliknya. Kaki yasui yang sudah terikat memudahkan jalannya. Keluar masuk perlahan, pelan, memberikan sensasi berbeda bagi keduanya.

Yasui merintih kesakitan. Jantungnya berdegup begitu kencang. Hagiya makin intens. Beberapa kali yasui menjerit kesakitan tapi tak dipedulikan Hagiya yang sedang memuncak.

Nafas keduanya hampir habis, dengan keringat yang bercucuran, Hagiya melepaskan dirinya, melepas ikatan Yasui san menjatuhkan diri ke sebelahnya.

Hagiya merasa ada yang aneh dengan Yasui yang begitu diam. Saat ia baru sadar tangan dan mulut Yasui mengeluarkan darah.

Panik!

Hagiya segera menelpin ambulans, memakai bajunya dan memakaikan baju ke Yasui yang semakin tak sadarkan diri.

Sirine ambulans menjerit membengkakkan telinga. Dengan panik Hagiya masih menggeggam tangan Yasui di dalam ambulance.

Cepat cepat Yasui diangkut ke ruang UGD. Dokter cepat menangani Yasui yang detak jantungnya makin tak beraturan.

Cukup lama Hagiya menunggu dokter menyelamatkan nyawa Yasui. Tentu saja panik. bagaimana bisa tiba tiba Yasui menjadi seperti itu.

“Sensei, bagaimana keadaan teman saya?” Hagiya buru-buru menghampiri dokter yang baru keluar dari tempat Yasui

“Terlalu banyak memar ditubuhnya, saya tak tau apa yang baru saja terjadi dengan tubuhnya. Beberapa pembuluh darahnya pecah. Untung kau cepat membawanya ke rumah sakit. Bila terlambat sedikit mungkin akusudah tidak bisa berbuat apa apa,”

Hagiya tertunduk ngeri mendengar penjelasan dokter.

“Sekarang biarkan dia istirahat, mungkin butuh beberapa hari untuk penulihan.” Dokterpun meninggalkan Hagiya yang masih tertunduk.

Sempoyongan ia berjalan menghampiri Yasui yang tak sadarkan diri. Kantong infus dan kantong darah sama-sama tergantung dan berebut masuk ke tubuhnya.

Hagiya meneteskan air matanya mematap Yasui yang nampak kesakitan.

Semalaman Hagiya menunggui Yasui yang masih belum sadar.

Gerakan tangan Yasui membangunkan Hagiya.

Cepat-cepat ia memanggil perawat untuk memastikan keadaan Yasui.

Setelah diyakini Yasui baik saja dan cukup sadar, dokter dan perawat meninggalkannya bersama Hagiya

Hagiya masih menatap sendu Yasui.

“Ayolah jangan menatapku seperti itu. Menyakitkan tau”, Yasui coba menghibur Hagiya.

Sempat sempatnya pria ini begitu, batin Hagiya kelu.

“Maafkan aku Ken.. gara-gara aku kau jadi begini”

“Sudahlah Kei, aku yang memintamu melakukannya kan, jangan meminta maaf lagi yaaa”, Yasui ciba menggapaikan tangannya untuk membelai pipi Hagiya

“Besok lagi…. kita lakukan seperti awal lagi yaaa… “, Hagiya memaksakan diri untuk tersenyum

Yasui balas dengan senyuman. Hagiya menyenderkan kepalanya ke pundak Yasui, berharap kekasihnya itu cepat sembuh dan bisa cepat bersamanya lagi

***

END

Advertisements

One thought on “Sick (?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s