Crazy Journey – Part 1

“Crazy Journey”

20170219141104

Story by : Hanazuki, Dindobidari

Cast : Fujiwara Jouichiro, Ohashi Kazuuya, Imae Daichi, Hayashi Matori, Asada Junya, Suezawa Seiya, Kusuma Richard Keita, Koja Nairu (Fungky8),  Onishi Ryuusei, Nishihata Daigo, Koji Mukai, Akana Ryunosuke, Kojima Ken, Yoshinori Masakado, Takahashi Kyohei, Nagao Kento, Ryuta Muro, Onishi Fuga (Kansai Johnnys Jr), Kirie Hazuki, Inaba Kaede (OC)

Genre : Drama, Friendship

All cast are under Johnnys Entertainemnt, kecuali untuk OC. Selamat membaca, ditunggu commentnya ^^

***

“Papa…. aku bosaaaan… kapan aku bisa main main dengan manusia lagi, papah…” pria kecil itu mengayun-ayunkan kakinya masih sambil duduk di ayunan yang didorong papahnya.

“Iya yaaa sudah berapa puluh tahun yaa kita tidak menyambut tamu manusia lagi”, pria tampak dewasa yang dipanggil papah itu masih mengayunkan anak lelaki kecilnya.

“Papah ngga mau bilang ke pimpinan untuk ajak manusia ke sini lagi pah? Aaaah aku ingin bermain bersama oneechan dan oniichan lagi…”

“Ojisaaaan… Fuuchan….”, gadis manis berkuncir kuda datang terengah menghampiri papah dan anak yang sedang bermain ayunan itu.

“ONIICHAN! BUKAN OJISAN!” Balas pria tadi sambil masih gemas. Pasalnya sudah ratusan kali si gadis tadi memanggilnya Ojisan padahal dia belum setua itu. Anak kecilnya tertawa melihat tingkah papahnya.

“Urusee! Barusan pimpinan mengadakan pengumuman sayembara penting! Sebaiknya Ojisan dan Fuuchan secepatnya ke balai kota atau kalian akan melewatkan kesempatan emas ini”, si gadis berhenti sejenak, mengambil nafas dengan masih terengah. “Fuuchan, ikut oneechan yuuk?” Tambahnya sambil membuka tangannya.

“Nggak mau… aku mau sama papah aja”

***

Jouichiro menatap keluar dari jendela kelasnya. Mata pelajaran filsafat Eropa di hari Jum’at benar-benar bikin ingin kabur saja.

Kalau bukan karena Daichi Imae, teman dekatnya sejak kecil memaksanya mengambil mata kuliah ini, pastinya ia sedang berada di kolam renang kampus untuk mendinginkan diri. Sementara si Daichi yang tak bertanggung jawab itu meninggalkannya dan duduk dengan asik di barisan depan.

“Fujiwara Jouichiro….”.
Jouichiro merasa namanya dipanggil, tapi nyatanya kicauan burung di luar gedung lebih menarik baginya.

“Fujiwara Jouichiro..”. Masih dengan posisi menyandarkan kepalanya di meja saat Jouichiro sadar kalau suaranya bertambah dekat, tapi tetap saja ia abaikan

“Fujiwara Jouichiro!”

“Apa sih berisik amat!” Jouichiro spontan menaikkan nada suaranya dan bangkit dari posisi melamun saat ia sadar dosen mata kuliahnya sudah berada di sebelahnya. Tidak bisa berkutik, Jouichiro hanya tersenyum memaksa sambil mengelus rambutnya sendiri.

“Libur musim panas belum mulai, jangan melamun!” Uchi sensei menaikkan posisi kacamatanya sambil menaruh berkas materi di hadapan Jouichiro. Kini 25 orang dalam kelas itu menatapnya sambil menyembunyikan tawa.

*

“Aaaaakh lelaaah sekali. Lagian kenapa aku begitu bodoh dan mengiyakan ajakanmu masuk kelas filsafat Eropa”, sambil melahap nasi karenya Jouichiro masih saja mengumpat kesal. Selalu, setiap kali kelas Filsafat Eropa selesai.

“Jadi kau menyesal ya, Jo? Seharusnya kau bilang saja dari awal kan”, Daichi sibuk mengaduk es kopi yang dipesannya.

“Daichiiii kuuun…”. Kazuya Ohashi datang dan seketika memeluk Daichi dari belakang. Keita Richard Kusama yang datang bersamanya hanya bisa nyengir dengan kebiasaan temannya itu.

“Jadi, sekarang kau lebih memilih Daichi? Jangan pernah datang lagi padaku kalau ada apa – apa! Huh” kesal dengan kelakuan Kazuya, Jouichiro makin tak berselera untuk makan nasi karenya yang tinggal setengah.

“Kalau kau tidak mau makan, biar aku saja yang makan. Hmmm oishiii”, tanpa basa basi Kazuya justru mengambil nasi kare dan melahapnya.

“Sudah, sudah, kalian suami istri tolong jangan bertengkar di tempat umum”, Richard mencoba menghentikan Kazuya dan Jouichiro.

“Siapa yang suami istri! Errrr”, Jouichiro merebut kembali nasi karenya sambil melahap dan mengunyah cepat.

Daichi hanya bisa tertawa melihat tingkah teman – temannya. Ya, mereka memang seperti itu, dan dia sudah terbiasa.

Jouichiro adalah teman Daichi sejak kecil, dan selalu bersekolah di tempat yang sama hingga masuk kuliah, sedangkan Kazuya dan Richard, mereka bertemu ketika ospek mahasiswa baru dan menjadi akrab. Sesama orang tersesat, katanya. Walaupun mata kuliah yang diambil berbeda, tapi mereka sering bertemu ketika jam kuliah usai.

***

-Toko Musik Yamada-

“Terima kasih, silahkan datang kembali..” Matori berusaha keras menjaga ekspresinya tetap ramah di depan tamu – tamunya.

Sekarang masih sore, tapi dia sudah ngantuk sekali. Semalam Matori bekerja lembur, mengerjakan tugas kelompok struktur bangunan bersama Yuma. Hari ini pengumpulan tugas, dan dia harus langsung bekerja sambilan sepulang dari kampus.

“Untungnya pekerjaan hari ini tidak terlalu berat. Hooaaahhmmm” Matori meregangkan badannya dan kembali mengelap piano yang baru datang. Tiga puluh menit lagi jam kerjanya usai, dan dia bisa pulang lalu tidur lebih awal.

“Tori-chan daijoubu? Matamu merah seperti zombie”

“Oh, Koja. Kalau aku zombie, lalu kau apa? Plant?”

“Hmm boleh juga, tanaman yang paling tampan apa ya?”

Matori seketika melempar serbet yang digunakan untuk mengelap piano ke wajah Koja. Serbet itu pun sukses bertengger di jambul Koja.

“Huaaachiimmm!” Koja menggosok hidungnya, dan matanya berair karena debu.

“Hei, aku kan cuma bercanda! Kau ini kenapa sih? Tidak biasanya. PMS?”

“What the.. Suasana hatiku tidak terlalu bagus, aku kurang tidur semalam, lembur tugas” Matori pun menguap lagi.

“Oh pantas saja mirip zombie hahaha” Koja melempar balik serbet berdebu tadi.

“Ah sudahlah dasar beruang laut!”

“Oh iya, tadi Asada berpesan, kalau kau pulang, dia titip belikan kecap asin di konbini.”

“Ah baiklah, pas sekali jam kerjaku sudah selesai. Nih, aku pulang dulu ya..” Matori melirik jam tangannya, lalu menyerahkan celemek kerja kepada Koja sebagai tanda pergantian ke shift malam.

Hayashi Matori dan Koja Nairu tinggal di rumah kost yang sama, dan Asada Junya adalah anak pemilik kost yang biasa memasak untuk mereka.

“Otsukaresama deshita” Matori pun berpamitan dan mulai berjalan pulang.

*

“Tadaima..”

“Okaeri, Hayashi-chan. Apakah Koja menyampaikan pesanku?” Suara Junya terdengar dari dapur.

Matori mencium aroma masakan dan menghampiri Junya ke dapur.

“Tentu saja, nih kecap asin pesananmu. Masak apa hari ini?”

“Karaage saus lemon, dengan salad wortel. Kau kenapa? Kelihatannya letih sekali”

“Iya, aku habis lembur tugas semalam, jadi kurang tidur. Hmmm kelihatannya enak, aku lapar ahaha” Matori menggosok – gosok perutnya pertanda lapar.

“Wah kalau begitu gantilah bajumu dan makan malam sini, lalu tidurlah lebih awal”

“Yap, aku ke atas dulu, Jun-chan” Matori beranjak naik ke kamarnya.

“Tadaima….” ucap Jouichiro, Daichi, Richard, dan Kazuya bersamaan memasuki rumah kos mereka. Aroma masakan yg begitu menggoda menyambut kedatangan mereka. Sepertinya dewa keberuntungan menarik mereka pulang ke rumah di waktu yang sangat tepat.

Tanpa basa basi, Joe melepas asal barang bawaannya dan mencomot salad wortel di meja.

Oishiiii

Saat tengah asik menikmati makan malam bersama, Suezawa datang dengan terhuyung. Nafasnya bau alkohol menyengat.

Kabarnya, dia menang taruhan dan mendapat 9 tiket gratis liburan ke Akita.

“Jadi, kita mau ke sana ber-8?” kata Richard yang masih sibuk melahap karaagenya.

“Tapi, itu sehari sebelum liburan musim panasku”, Junya menimpal

“Bagaimana dengan baitomu, Matori?”

“Emmm kalau Koja juga ikut mungkin kita akan coba tukar shift dengan Yuma senpai dan Hokuto senpai”

“Ok! Deal yaaaa minggu depan kita berangkat” Jou menimpali.

“Kaede chan… Kaede chann” Suezawa menggumam maih setengah sadar. Kazuya justru sibuk mencoret-coret wajah mabuknya yg terlihat begitu pasrah

***

“Pimpinan, aku berhasil memancing seorang pria bodoh untuk datang ke sini”, Kaede Inaba menghampiri pimpinannya sambil menebar senyuman yang memabukkan bagi yang melihat.

“Ah, hanya seonggok pria bodoh? Kau tidak bisa memilih yang sedikit pintar dan tampan agar disini lebih berwarna?” Hazuki menimpali, masih sibuk mengoles kuteks di kuku kakinya.

“Uruseee daripada kamu hanya bisa menggoda pria – pria di sini tanpa bisa membawa mainan baru?” Timpal Kaede jutek.

“Sudah, sudah, kalian jangan bertengkar. Kalian bisa membangunkan trio chibi. Kalian mau mengurusnya kalau mereka bangun?” Pimpinan mencoba menengahi pertengkaran dua gadis bak malaikat di kota itu.

“Uh, terserahlah, aku mau main sama dedek Fuuchan dan papahnya. Byee” Kaede memamitkan diri, sedikit cuek.

Kaede dan Hazuki sebenarnya adalah saudara, keduanya anak dari kakak perempuan pimpinan dengan ayah yg berbeda.

“Dasar cupu sana pergi weeeeek”, Hazuki menjulurkan lidah mengiringi kepergian Kaede. Hampir saja kuteks di kuku kakinya yang sudah susah payah ia bentuk jadi indah rusak tergores kuku tangannya sendiri.

***

Hari ini hari Minggu. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi, tapi rumah kos masih sepi. Anak – anak kos kelelahan, karena minggu – minggu ini adalah puncak – puncaknya deadline pengumpulan tugas sebelum masuk liburan musim panas minggu depan. Bahkan malam minggu pun mereka harus bekerja keras.

Pengecualian untuk Asada Junya. Sejak Junya memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah, ia memilih untuk bekerja freelance sebagai guru les piano, sehingga jadwalnya lebih longgar dan ia bisa mengurus rumah kos dengan bahagia.

“Fiuuhhh.. akhirnya selesai juga pekerjaan beres – beresnya” Junya menghempaskan diri di sofa lalu mengusap keringat di dahinya.

“Hari ini panas sekali sih, es krim enak kali ya..” Junya bangkit dan meletakkan sapu di tempatnya, kemudian menuju ke dapur dan membuka kulkas.

“DEMI DEWA, MANA ESKRIMKU!!!” Ia ingat sekali kemarin baru saja membeli segalon es krim dan sekarang sudah raib tanpa jejak.

“Ada apa sih pagi – pagi sudah berisik. Mengganggu tidurku saja.” Richard datang sambil menguap, diikuti Kazuya yang membawa boneka kelinci. Mereka masih acak – acakan karena bangun tidur. Kamar mereka paling dekat dengan dapur, jadi teriakan Junya jelas terdengar.

“INI ES KRIM! ES KRIM! MANA ES KRIM!”

“Hey selow lah.. bicara yang benar” Richard menanggapi.

“Es krim! Aku ingat kemarin aku baru membeli segalon es krim, kenapa sekarang hilang??”

“Mana aku tahu, aku kan kemarin seharian di kampus..”

“Iya aku juga, lagipula aku sedang diet, mana mungkin makan es krim” Kazuya menimpali

“Yasudah aku beli lagi saja!” Dengan wajah cemberut, Junya mengambil dompet dan pergi ke supermarket.

*

Junya berjalan pulang sambil menenteng tas belanjaan yang cukup penuh. Tadinya niatnya hanya membeli es krim, tapi melihat hamparan sayuran dan ikan segar membuatnya lupa akan kejengkelannya. Tanpa pikir panjang, keranjang belanjaan pun penuh dengan bahan makanan.

Ketika akan masuk rumah, Junya bertemu dengan Jouichiro yang sedang mengelap sepeda kesayangannya di teras.

“Tadaima, Jou-kun! Rajin sekali kau pagi – pagi sudah mengelap sepeda”

“Ah Jun-chan. Iya dong, mumpung hari Minggu, waktunya perawatan” Jou terkekeh. “Habis dari supermarket kah? Sepertinya belanja banyak. Mau kubantu bawa?”

“Tidak usah, terima kasih. Ini ringan kok. Tadinya aku hanya ingin beli es krim, karena es krimku di freezer raib, tapi susah menahan godaan semua ini.”

“Oh es krim? Sepertinya kemarin aku melihat Suezawa menggendong segalon es krim ke kamarnya”

“Serius?? Dasar anak itu minta dihajar. Aku masuk dulu ya” Junya bergegas masuk membawa belanjaannya.

*

“Seiyaaaaaan!! Bangun!!” Junya menggedor pintu kamar Suezawa Seiya.

“Ada apa sih berisik deh” Seiya membuka pintu, lalu kembali menyusup ke dalam selimutnya.

Junya masuk kamar Seiya dan mendapati wadah es krimnya kosong, diletakkan begitu saja di atas meja.

“Cepat bangun! Kau yang mengambil es krimku kan ayo ngaku!” Junya menarik – narik selimut Seiya.

“Aduuh kenapa pagi – pagi meributkan es krim sih” Seiya menguap dan meregangkan badannya. “Iya benar, memang aku memakannya kemarin. Aku membutuhkan banyak zat gula untuk berpikir, supaya tugas kuliahku cepat selesai, dan bisa bertemu Kaede-chaan..” ungkapnya, lalu berguling di atas kasur. “Lagipula kau bisa beli lagi kan”

“Iya aku memang beli lagi! Kalau kau butuh zat gula kenapa tidak makan gula saja sih!”

“Memangnya kau pikir aku semut?? Ah sudahlah maafkan aku, nanti akan kuganti”

“Baguslah kalau kau sadar!” Junya keluar dari kamar Seiya tanpa menutup pintunya. Biarkan saja, toh Seiya menyebalkan. Lebih baik menyiapkan sarapan deh, batinnya. Ia pun beranjak menuju ke dapur.

Richard dan Kazuya menatap Junya yang bermuka masam berjalan ke dapur. Keduanya saling berpandangan. Bisa terancam makan siang mereka kalau Junya masak sambil marah marah.

Richard dan Kazuya beranjak dari posisi duduk mereka dan berusaha mengejar Junya, tapi langkah mereka terhenti saat melihat Koja tiba tiba merangkul Junya dari belakang.

Richard kembali bertatapan dengan Kazuya. Keduanya tersenyum, membatalkan rencana menghampiri Junya dan kembali asik memainkan game.

*

“Hari ini kau banyak beli sayuran? Kau mau menjadikan kami kambing?”, Koja tiba – tiba datang dan merangkul Junya.

“Bukan kok, cuman sapi”, Junya masih ketus.

“Ayolaaah aku tau kau beli daging juga. Sukiyaki! Ayo kita makan itu yayaya”, iseng Koja menunjukk-nunjukkan jari telunjuknya ke pipi Junya. Justru Junya berbalik iseng mencoba menggigit jari itu.

“Okeeey. Sukiyaki. Tapi ….,”

“Apaaa apaaaa?”

“Es krim!”

“Roger!”

***

Suara dentuman alat musik berebut memenuhi ruangan 3×6 itu.

Semula memang dentuman dari setiap alat musik beradu menjadi alunan nada yang indah, namun dalam sekejap alunan nada menjadi berantakan dan memekakkan telinga setiap orang yang mendengar.

“Terus saja begini. Sampai tua pun nada-nada kita tak akan pernah bersatu!”, Akana Ryunosuke memukul keras drumnya, membiarkan stiknya terbaring berantakan begitu saja di lantai studio.

“Akanaa…” Kojima Ken mengejar Akana yang langsung keluar studio. Suara pintu yang dibanting masih menggema di ruangan.

Tiga anggota yang tersisa masih saling terdiam.

Chocopie, sebuah grup musik yang dipaksa dibentuk demi acara ulang tahun desa. Namun usaha itu nyatanya gagal total, bahkan sejak pertama kali.

Memang sejak awal Akana Ryunosuke, Kojima Ken, dan Masakado Yoshinori adalah teman yang sangat dekat, namun menjadikannya satu grup bersama duo Nishihata Daigo dan Onishi Ryuusei adalah bencana. Benar saja. Semua benar terjadi, dan Chocopie yang diharap – harapkan pun berubah jadi ToxicPie.

“Kan sudah kubilang lebih baik kita berdua duet seperti biasa, kaaan?”, Ryuusei menatap Daigo, sedikit memajukan bibirnya.

“Udahlah yuk kita pergi. Ryuuchan… kau tau es serut yang lagi hits?”. Ryuusei mengangguk.

“Yuuk kesanaa!”

Segera saja Ryuusei menaruh gitarnya dan keluar bersamaan dengan menggandeng tangan Daigo.

Yoshinori masih di dalam studio, sendirian dan tak tahu apapun yang terjadi. Baginya mengulik lagu dan menciptakan nada – nada baru lebih menarik dari gadis seksi manapun.

“Eh, kok udah pada ilang sih?”

Cukup lama Yoshinori menyadari tinggal ia sendiri di studio. Ia mencoba menghubungi Akana maupun Ken, tapi nihil.

“Dih, jahat amat aku ditinggal. Tidak tahu aku udah berhasil bikin satu lagu apa.” Sambil mengguman Yoshinori membereskan studio, memasukkan gitar bassnya dan keluar ruangan.

Baru membuka pintu, Yoshinori cepat menutupnya kembali.

Suara jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa yang dilihat itu hanya ilusi, tapi tetap saja adegan itu terpampang jelas di ingatannya.

*

Akana membanting pintu studio. Pikirannya kembali ke masa dia mati – matian menolak perintah kepala desa untuk membentuk band bersama duo Daigo dan Ryuusei.

“Sudah kubilang, kan! Aku lebih baik hanya bersama Ken dan Yoshinori. Kenapa harus tambah mereka berdua?!” Teriaknya.

“Itu sudah keputusan bersama para petinggi desa, kau harus terima, Akana”

Akana mengacak-acak rambutnya yang makin berantakan. Angin panas diluar studio nyatanya hanya menambah panas kepalanya.

“Oiiii”. Ken yang menyusul Akana menempelkan botol air dingin ke kepala Akana. “Ayolaaah masih aja dipikirkan? Sampai kapan? Kau sih udah memblok dulu, kan latihan kita jadi selalu berantakan”

“Jadi salahku?” Akana nyaris tersedak air yang dia minum.

“Ehh bukan bukan… kau salah mengerti, Akana”

Akana melempar botol air minum tadi dan meninggalkan Ken sendirian.

Akana melangkahkan kakinya menuju tempat yang memang tak tahu kemana harus dituju. Hanya berjalan mengikuti langkah kakinya. Ya, salah satu cara melampiaskan kekesalannya selain main drum dan karate adalah jalan – jalan sendiri.

“Akanaaaa……”. Akana menoleh ke arah suara yang memanggilnya.

“Hazuki, apa yang kau lakukan disini?”. Melihat Hazuki memainkan kucing, Akana jadi ikut-ikutan.

“Eeem.. kucingnya lucu, rasanya aku baru melihatnya di desa ini”

“Yaudah bawa pulang, pelihara”

“Mana boleeeh…”

Akana dan Hazuki masih asik mengobrol sambil main bersama kucing jalan saat dia ingat smartphonenya tertinggal di studio.
“Gomenn Hazu, aku tak jadi mengantarmu. Handphoneku ketinggalan di studio. Gomeeen”

“Ikut yaaa yayaa”, bak sihir yang kuat, tatapan memohon Hazuki memang selalu melemahkan.

Akana menangguk. Tak terlalu jauh memang jarak ke studio, hanya 5 menit jalan kaki.

“Tunggu sebentar yaaa”.

Akana menuju pintu studio saat tangannya ditarik Hazuki.

Chuuuup

Sebuah sentuhan dari bibir ke bibir antara keduanya. Akana terdiam. Hazuki menarik tubuh Akana, mendekapkan dengan tubuhnya. Keduanya terlarut dalam ciuman sesaat yang cukup dalam.

“Hazuki, cukup”. Akana melepas ciuman Hazuki. Bukan tak mau, tapi ia hanya takut terjerumus lebih dalam dan mengasikkan.

***

to be continued

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s