Tomorrow Never Know – part 1

Tomorrow Never Know

Story by : Hanazuki 

Chara : Tanaka Juri, Jesse Lewis (SixTONES), Kazuya Aika

Yuhuuu ~~~

tulisan yang sudah sangat lama teronggok di dfrat akhirnya kesentuh. nggak jadi one shoot tapi ternyata bersambung hehe ^^

Spesial buat kesayangan author, anunya Jure, Gita. Jessenya belum muncul banyak nih! tunggu yaa >//<

Selamat membaca, ditunggu caciannya ^^

***

Kazuya Aika menatap sosok didepannya yang sedang terbaring lemah. entah sudah berapa botol infus bertenger menopang tubuhnya sejak awal dia masuk rumah sakit. Tubuh kurus yang terbaring di tempat tidur tampak makin tak berdaya. Denyut jantung yang tergambar juga makin tak teratur. Alih alih lebih cepat sadar, dokter justru beberapa kali mengingatkan untuk menghadapi kenyataan terpahit yang mungkin terjadi.

Tak jauh dari tempatnya duduk, pria lain masih duduk jambil menyangga dagunya menatap dari kejauhan. Keduanya tampak sama-sama pasrah menanti hasil yang masih tidak jelas.***

Sinar lampu panggung menyala menwarnai panggung di tengah lapangan tempat diadakannya festival yang diadakan Hokone Akademi. Sebagai akademi seni tak asing festival semacam ini dilangsungkan, bahkan sejak 5 tahun lalu festival seni rutin diadakan 2 bulan sekali selama satu hari penuh. Dari seni musik, sastra, lukis, tari, semua tumpah dalam satu panggung bergantian. Tak jarang beberapa pencari bakat.

Tak jarang beberapa pencari bakat datang ke acara tersebut untuk melakukan perekrutan bibit-bibit seniman baru.

Kazuya Aika, mahasiswa baru di Hokone Akademi begiu terpana melihat penampilan dari StonesMan, band berisikan 6 orang dari siswa tahun kedua jurusan seni musik. Matanya terfokus pada performa apik dari gitaris band yang terlihat urakan tapi permainan gitarnya terasa sempurna.

Performance dari band StonesMan begitu memukau khalayak penonton. Gerimis ringan di sore hari tak menghentikan penonton yang masih membatu terpukau performance apiknya. Pun Aika, masih mematung tepat didepan panggung, di depan gitaris yang sedari awal begitu memukau dirinya.

“Hei kamu yang di depan panggung, gadis manis kuncir kuda yang berkacamata. tangkap yaaa…”Tanaka Juri, gitaris yang sedari tadi membuat Aika terpaku tiba-tiba merebut microfon untuk mengagetkan dan menarik perhatian penonton. dilemparkan handuk yang dari tadi menemaninya diatas panggung.

Aika tertegun menangkap handuk yang dilempas pas sampai di tangkapannya, mengedipkan matanya berkali-kali tak percaya. Juri tiba-tiba turun panggung dan mengalungkan handuknya ke leher Aika. Sontak semua fans wanita di sana berteriak heboh dan iri.

Aika tak bisa berkata-kata. wajahnya memerah panas, menahan malu dan bahagia yang bercampur jadi satu.

Juri meninggalkannya kembali naik panggung mengambil gitarnya dan bersiap kembali di posisinya. Fans di bawah terus saja meneriakkan ancore berkali-kali hingga bandpun luluh dan memberikan servis terakhir sebelum turun panggung. 

 

Lagu lawas nan mellow dari band Gazette, Cassis, tak hentinya membuat penonton ikut bernyanyi sepanjang lagu. Bahkan Jesse Lewis, vokalis band itu sepanjang lagu hanya mengadahkan microfonnya ke penonton, hanya sesekali dirinya menyanyi.

Hujan gerimis, senja, hembusan angin, performa akustik apik dari StonesMan benar-benang menghangatkan penonton yang merasa kedinginan di tengah hujan

***

Sehari setelah kejadian Juri turun panggung dan ke arah Aika rupanya menjadi perbincangan paling panas di kampus. Tentu saja, hal itu seperti sebuah skandal antara artis terkenal dan rakyat jelata, sebab kabar burung menyebutkan StonesMan sudah dikontrak salah satu label terkenal yang juga membawahi banyak band rock papan atas Jepang.

“Eh… itu cewek cupu yang kemaren kan…”

“Apa bagusnya dia sih..?”

“Dia dari jurusan seni lukis? Kau pernah liat lukisannya?”

“Ah.. harusnya Juri-kun ke arahku kemaren…”

“Dia pakai mantra apa sih sampai didatengin Juri?”

“Bukannya Juri udah punya pacar yaa?”

“Dia mau ngerebut Juri dari sisi Jesse? Tidak akan kubiarkan!”

“Katanya dia anak orang kaya yaa? ah pasti cuman mau dimanfaatin Juri tuh”

Suara-suara sumbang dan tatapan aneh masih saja menggangu Aika. Kalaupun bisa berteriak ia akan berteriak kalo dia juga tak pakai mantra apapun untuk menarik Juri turun panggung dan datang ke arahnya.

“Aika ….” sapa seorang gadis cantik yang menghampiri Aika yang sibuk menggambar sendiri di taman sekolah.

“Aya chan..”, balasnya

“Aku sudah dengar, seisi kampus banyak membicarakanmu yaa…Tenaaang aku ada selalu di pihakmu kook”. Akane Hayakawa, satu-satunya teman yang paling dekat dengan Aika. Aika memang terkanal sebagai anak orang kaya yang mungkin tanpa sekolah di universitas ini bisa jadi seniman hebat, tapi ia menolak. Ia selalu ingin menjalani hidup layaknya orang normal, mencari teman yang mau menerima dia apa adanya, tapi jalan yang coba dipilih sepertinya lebih susah dari imajinasinya.

“Arigatou Ayaa… Kau emang teman terbaik”, Aika mengembangkan senyumnya.

“Eh, Ai. Lihat itu.. bukannya itu Juri dan Jesse?” Ayaka menyipitkan matanya, menunjukkan ke arah dua pemuda yang sedang bersama menuju hutan kampus.

“Eh Juri kun …..”Aika terdiam kaget melihat pemadangan yang dilihatnya. Apa yang digosipkan selama ini sepertinya benar, kalau ada hubungan misterius antara Juri dan Jesse. Tangannya masih menutup mulutnya karna kaget. Ayaka-pun sama. Keduanya terdiam. Alat gambar yang sedari tadi dipangkuan Aika berjatuhan seiring Aika yang berdiri meninggalkan Ayaka.

***

Hari-hari berlalu, suara-suara sumbang tentang Aika perlahan memudar, tapi otak Aika masih tergambar jelas apa yang dilihat antara Jesse dan Juri saat itu. Tapi ia sendiri juga masih tak bisa melupakan kenangan saat Juri turun panggung dan mengalungkan handuknya ke leher Aika.

Sebulan lagi festival sekolah kembali diadakan, dan kali ini adalah kesempatannya memajang hasil lukisannya, tapi ia belum dapat gambar yang menurutnya sempurna untuk dipajang.

Taman belakang kampus, spot favorit Aika untuk menggambar. Pemandangan danau dan hutan belakang kampus serta burung dan serangga yang kerap muncul seringkali membawa inspirasi untuknya.

“Tempai ini indah yaa.. aku juga suka ke sini untuk menulis lagu..”. Suara yang tak asing mengagetkan Aika

“Eh… Juri kun.” Aika terdiam, wajahnya menunduk karena merah. Semoga suara degupan jantungnya yang mengeras tak didengan Juri, batinnya.

“Ah! kau yang waktu itu!”, Juri tersenyum melihat Aika. Aika sangat senang ternyata Juri mengingatnya. “Apa kau masih menyimpan handukku? itu handuk kesayanganku looh sejak pertama kali aku perform dengan StonesMan dia selalu menemani hahaha”. Juri membenarkan posisi duduknya. Aika mengangguk, masih memperhatikan Juri yang kini mengambil posisi tiduran di sebelahnya.

“Juri kun suka kemari? padahal aku pikir ini tempat rahasia ku karena tak ada satupun yang ke mari” Aika melanjutkan menggoreskan pensilnya.

“Kalau begitu kita jodoh dong?” Juri mengadahkan kepalanya ke arah Aika yang sukses membut warna wajahnya memerah. “Ah iya aku belum tau namamu”. Juri kini sudah duduk tepat disebelah Aika

“Kazuya Aika”, jawab Aika singkat sambil mencoba menyembunyikan gambarnya karna malu.

“Gambarmu bagus Aika chan…”Juri mengambil gambar Aika menatapnya sambil mengembangkan senyum membuat Aika kehabisan kata-kata.

triiing

Kau dimana bodoh! latihan dimulai 5 menit lagi. kalau kau tak datang tepat waktu Yasui san akan memarahi kita!

“Ah maaf Aika, aku harus pergi. em…”Juri mengambil pena di tempat pensil Aika, meraih tangan Aika dan menuliskan nomor hpnya di telapak tangan Aika. “Hubungi aku yaaa… byeee~~~”

Sosok juri berlalu seiring hembusan angin dan suara burung. Aika berdegup sangat kencang. Tangannya masih bergetar mengingat yang terjadi barusan. Bagaimana mungkin seorang Tanaka Juri yang menjadi idola semua wanita bisa bertindak sangat biasa dihadapannya, bahkan menuliskan nomor hpnya ke telapak tangannya.

***

 “Juri.. kau liat perform kita tadi? kau tidak bisa main lebih jelek dari itu apaa?” dibelakang panggung Jesse berteriak keras ke arah Juri. Member lain hanya bisa diam menatap Juri.

“Sudahlah Jess, kita tidak bisa seratus persen mengatakan ini kesalahan Juri, karna kita juga terlalu menggantungkan ke Juri selama ini.”, Matsumura Hokuto menengahi.

“Hokuto benar, kita juga salah karna selama ini hanya Juri kun yang membuat lagu dan mengaransemen lagu untuk kita.”, Kyomoto Taiga menambahi

“Apa kalian tahu sejak Juri dekat dengan gais pelukis itu dia jadi seperti ini? kalian tidak merasa lirik yang dia buat makin kacau?”Jesse kembali menambahkan. Juri masih saja diam. Otaknya terlalu lelah untuk mencerna perkataan Jesse.

Memang benar belakangan ini ia jarang sekali bisa tidur nyenyak saat malam. Belum lagi tugas kuliah dan tuntutan membuat lagu sebelum StonesMan debut yang harus ia kerjakan. Sejak awal ia memang menawarkan diri untuk membuat dan mengaransemen lagu untuk bandnya dan menolak tawaran yang diberikan teman-temannya.

Konsumsi alkohol dan rokoknya belakangan juga meningkat, padahal sebelumnya ia sama sekali tak pernah menyentuh rokok, berbeda dari kakak-kakaknya.

“Kalau kau memang ada masalah setidaknya kau bisa bicarakan pada kita Juri.” Jesse menurunkan nada bicaranya sambil menepuk kepala Juri yang masih tampak tak sadarkan diri.

“Gomenn… aku mengacaukan hari ini” Juri meneguk air minumnya.”Aku juga harus pergi, Aika menungguku.”, Juri mengambil tas jinjingnya, berpamitan cepat ke teman-temannya yang makin bingung dengan kelakuan Juri yang belakangan mulai berubah.

.

Aika sudah menunggu Juri di cafe dekat kampus sejak sejam yang lalu, kopi yang dipesannya sudah hampir habis dan dingin. Tapi belum ada tanda tanda kedatangan Juri. Padahal menurut jadwal, festival kampus selesai 2 jam lalu dan hari sudah mulai gelap. HP juri juga tidak bisa dihubungi Aika.

“Aika gomenn membuatmu menunggu”Juri datang dengan nafas terengah. Belum selesai menjawab Juri menarik Aika keluar dari cafe, membawanya ke tempat yang belum pernah ia tau sebelumnya.

“Juri kun.. mau kemana kita?” Aika ikut saja kemana Juri menariknya. sampai keduanya berhenti di sebuah bar.

Juri memaksa Aika melangkah kedalamnya. Memesan minuman favoritnya untuknya dan Aika. Hal yang belum pernah iAika lakukan sebelumnya.

“Tapi Juri kun.. aku tidak pernah minum beginian…”Belum selesai Aika bicara tapi Juri memaksakan minuman itu padanya. Aika pasrah. Tak banyak ia minum tapi kepalanya mendadak pusing. Juri tersenyum melihat Aika sambil minum miliknya sendiri.

.

Jadi benar, Juri lebih memilih bersama gadis polos itu dari pada bersama bandnya?, batin Jesse yang ternyata mengikuti Juri dan Aika dan melihat dari jauh. Tentu saja Jesse kesal.

Ingat siapa yang membawa Juri masuk dan mengenalkannya ke anggota StonesMan yang lain, siapa yang menemani Juri saat terakhir putus cinta dengan cinta pertamanya di SMP kalau bukan Jesse.

Dan sekarang Juri dengan mudahnya berpaling ke gadis yang jauh lebih polos dari cinta pertamanya dulu. Ada sedikit perasaan kesal di batin Jesse.

.

Juri menggendong Aika yang mabuk dan tak sadarkan diri masuk apartemennya. Juri sendiri juga sedikit mabuk. Sesaat setelah menaruh Aika di kasurnya, Juri justru terjaga sambil masih meminum beberapa botol bir dan siap dengan gitar di tangannya.

Beberapa kali terdengan Aika memanggil namanya dalam lelap, tapi Juri diam dan membiarkannya.

Otaknya belakngan tak bisa menulis lagu bagus, meski begitu terus saja dia mencoba sampai ruangannya tampak seperti tempat sampah dan sangat berantakan.

Suara petikan gitar mengalun perlahan, goresan pena dikertas, begitu terus tapi tak satupun yang memuaskan harinya. Sudah banyak robekan kertas yang dibuang. Mungkin kali ini ia tak dapat tidur lagi seperti hari sebelumnya. Ditemani kepulan asap, kaleng bir, dan Aika yang masih tak sadarkan diri, Juri terus saja menulis tanpa henti, meski ternyata hasilnya berakhir di tong sampahnya lagi.

“Juri kun… uhuk uhuk..” Aika terbangun, memegang kepalanya yang pusing, kepulan asap rokok diruangan dan bau bir yang menyengan membangunkannya. Ia melihat Juri yang tampak berantakan dan masih terlihat sama saat terakhir ia sadar.

Aika bangun dengan terhuyung dari tempatnya menuju Juri, memeluk Juri dari belakang ..

***

to be continued

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s