TRY – part 1

TRY

RenKai-TRYstory by : Hanazuki 

Chara : Nagase Ren, Takahashi Kaito (Mr. King) 

Genre : boylove, romance 

Disclaimer : Mr. King are under Johnnys assosiation. Author cuman pinjem nama saja untuk dikhilafin yaa karena beberapa saat belakangan RenKai so cute together lah ~

Dibagi jadi beberapa part (?) semoga kelar. Kenapa? Karena kalo langsung abis nanti kepanjangan, author ga suka yang panjang-panjang (?) *okay ini ambigu, abaikan saja* 

Special buat Fufuchan yang rekues. semoga tidak mengecewakan. 

Ditunggu caciannya ❤ 

 

***

Ciiit ciiit ciiiit … 

Suara decitan sepatu berebut tempat di stadion futsal di pusat kota Tokyo. Hari yang cerah di musim gugur sebagai hari dimulainya latih tanding antara timnas futsal U-20 Jepang dan timnas futsal U-20 Thailand. Penonton yang memenuhi stadion didominasi perempuan, bukan mustahil karena tahun ini timnas U-20 didominasi ikemen bak model majalah fashion, tetap dengan kemampuan yang tidak bsia dianggap remeh.

Spanduk dan suara dukungan semangat bergema berebut dengan suara decitan sepatu. Tak sedikit penonton perempuan histeris meneriakkan nama pemain yang didukungnya, tak sedikit pula teriakan histeris bila pemain favorit mereka bertubrukan dengan pemain lawan.

2×20 menit sudah hampir selesai, tapi dua buang angka bulat masih menghiasi layar skor dua tim. Keadaan semakin memanas saat tim Jepang mendapat tendangan sudut. Pemain bernomor punggung 11 mengambil alih, tendangan sudut cukup keras dilayangkan tepat di depan gawang tim Thailand. bola berhasil ditangkas kiper lawan saat rebound mengarah ke pemain nomor 9 yang tanpa penjagaan.

Priiiiiiitt……

priiiit priiit priiiiiiiit…. 

Peluti panjang menandai pertandingan sengit hari itu. Tepat di detik terakhir sebelum peluit, tendangan melambung jauh dari pemain nomor 9 berhasil merubah angka dari tim Jepang. Kemenanganpun ditangan.

Kelima anggota tim saling berpelukan merayakan kemenganan. Si nomor 9 yang menjadi pahlawan melambaikan tangannya ke bangku penonton, disambut teriakan histeris fansnya. Tapi matanya tak berpaling dari pria berkacamata yang sedari tadi duduk fokus menahan debaran jantung yang tak berhenti dari bangku penonton. Keduanya bertukar senyum dan ratusan kata lewat tatapan mata.

.

.

.

.

***

Beberapa bulan sebelumnya 

.

.

.

“Anak yang mengidap disleksia, disgrafia, maupun diskalkulia perlu mendapat penanganan khusus dalam kegiatan belajarnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu dengan memanfaatkan support teacher . Guru pendukung biasanya bertugas menangani para siswa pengidap sindrom-sindrom yang disebutkan di atas di samping melakukan remedial teaching “, Yamada sensei menjelaskan.

Sreeek…

Pintu dibuka perlahan, sudah lebih dari 15 menit sejak mata kuliah psikologi pendidikan dimulai.

“ssssssssssst….” kode diberikan dari pria yang datang terlambat tadi pada teman sebelahnya-yang sebenarnya hanya bangku itu yang kosong-.

“Baiklah Nagase Ren, tolong jelaskan kembali apa perbedaan hambatan belajar yang sudah saya jelaskan sebelumnya”, Yamada sensei tiba-tiba menunjuk pria yang datang terlambat tadi.

Sial! ketahuan! Sialan banget sih sensei satu ini,  batinnya sambil melepas tas slempangnya.  “Em… anooo… itu sensei …” jawabnya sambil menggigit bibir bawahnya.  Sementara pria disebelahnya masih sibuk mencatat kembali apa yang sudah ada di buku materi.

“Saya tau kamu sudah direkrut timnas, tapi tolong saat pelajaran saya kau bisa perhatikan penjelasan dengan baik!” ungkapnya galak. Yamada Sensei, dosen mata kuliah psikologi pendidikan sekaligus dosen walinya. Sial tujuh turunan bagi Nagase Ren karena terpaksa mendapat dosen yang terkenal lebih buas dari godzilla ini.

“Baiklah, untuk semua juga bila kalian macam-macam, silahkan kalian bisa tinggalkan kelas dan pilih dosen lain saya tidak keberatan”, tambahnya.

Seisi kelas hening, sibuk memperhatikan penjelasan Yamada sensei. Beberapa sibuk mencubit dirinya sendiri menahan kantung yang teramat sangat, bisa mati muda sebelum menikah kalau ketahuan ngantuk di kelas Yamada sensei.

“Jyaa, untuk tugas akhir yang tinggal beberapa bulan lagi silahkan dicatat. Tugasnya adalah kalian dalam kelompok berisi dua orang dan silahkan bikin kurikulum pendidikan dan bahan ajar untuk anak berkebutuhan khusus.” Jelasnya sambil menutup kelas berdurasi 3×50 menit yang teramat mencengkram.

Seisi kelas berhamburan keluar, secepatnya mencari udara segar setelah berhadapan dengan sensei yang dipanggil godzilla itu.

“Eh tunggu”, Ren mendadak menarik lengan pria yang duduk disampingnya tadi. “Anooo siapa namamu kemarin emmm Taka? Takami? Tataka? Takabuchi? Ahhhh siapa sih errr aku bodoh dalam menghafal nama” Ren mengacak rambutnya sendiri yang mungkin sudah lama tak dicuci itu.

“Takahashi Kaito desu” jawabnya

“Ah iya! Takahasi san, aku sekelompok denganmu yaaa… pliiiis…”

“Kenapa aku harus sekelompok dengan orang yang terlihat malas sepertimu?”

“Kalau aku pemalas aku tidak akan masuk timnas futsal” Ren memanyunkan bibirnya. “Ya…ya… yaaa… aku belum punya teman dikelas ini, semua temanku tak ada yang mengambil mata kuliah gojila sensei… yaaaa pliiiisss”, Ren memohon

“Baiklah”, jawab Kaito diiringi sorakan bahagia dari Ren.

“Jadi, kau mau kemana setelah ini? kantin yuuuk” Ren tiba tiba merangkul pundak Kaito. Reflek Kaito melepaskannya.

“Gausah sok akrab yaaa  atau aku tak akan sekelompok denganmu”

“Yaaah jangan gitu doong…. gomeen gomenn. yaudah yuk ke kantin bareng”. Keduanya bersama ke kantin. Suatu pemandangan yang aneh di kampus yang didominasi wanita itu seorang Nagase Ren berjalan dengan orang lain, lebih lagi Takahashi Kaito, mahasiswa dengan IP sempurna sejak tahun pertama masuk dan masih mendapat gelar mahasiswa teladan.

Di kanting saat keduanya makan pun masih terdengan suara bisikan bisikan membicarakan keduanya. Ren hanya tersenyum dan melambaikan tangan ke orang yang menatapnya. Sok artis sekali, yaah meski di kampus juga tak ada yang tak mengenal sosok Nagase Ren.

“Gochisosama ….Aku duluan ya Takahashi! aku lupa sore ini ada latihan tim futsal. Ah iyaaa pinjem hp mu dong..” Kaito memberikan handphonenya, Ren mentransfer alamat email dan nomornya ke HP kaito.

“Nah sekarang aku punya kontakmu, begitupun kamu. Nanti kuhubungi yaaa. byeee”

Berisik, batin Kaito melihat punggung Ren yang menjauh.

.

Kaito…. aku punya ide nih untuk tugas kit. Besok kita bahas yaaa… 

Oyasumi 

Kaito menatap layar hpnya. Mungkin pria ini tidak terlalu buruk, pikirnya.

.

.

“Takahashi kun serem…”

“Dia makan apa sih bisa pinter gitu?”

“Kau lihat caranya bicara sok diplomatis banget”

“Dia nggak punya pacar yaa… eh jangankan pacar, temen aja nggak punya…”

“Dia manusia apa robot keluarga sih?

“Hidupnya cuman buat belajar yaa? Kasian amat..”

“Ah sayang sekali ketampanannya cuman pajangan kalau otaknya terlalu bagus kita tidak bisa dekat-dekat” 

“Kau dengar gosip temannya saat SMP bunuh diri karena tidak bisa mengimbangi kepintarannya?” 

Kaito terbangun dengan keringat mengucur keras dari badannya. Sudah hampir jam 10 dan kali pertama ia nyaris terlambat masuk kuliah.

“Kau kenapa hari ini pucet banget?”. Ren tiba tiba mengagetkan Kaito yang sedang melamun di perpustakaan.

“Eh, Nagase. Aku.. tidak apa-apa kok”

“Uso! aku tahu kamu bohong.”, Ren membenarkan posisi duduknya di hadapan Kaito. Membuka acak tumpukan buku yang dianggurkan di depan pria itu.

“Ano nee, hari ini aku tak ada latihan. Ikut aku yuuk, kuliahmu sudah selesai kan?” Ajaknya paksa

“Kemana?”

“Udah ayooo..” Ren berdiri, menarik tangan Kaito. Kaito ikut saja dengan ajakan Ren, mungkin sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya akan terjadi hari ini.

“Karaoke?” Kaito kaget saat berdiri di depan tempat karaoke.

“um! aku biasa ke sini kalau lagi suntuk dan bosan, jadi kau juga harus mencobanya.”

“tapi… akuu…”. Belum selesai Ren sudah menarik Kaito masuk ke ruangan yang sudah dipesan. Ren menyerahkan remot ke Kaito untuk memilih lagunya. Terlihat jelas kalau Kaito belum pernah pergi ke karaoke sebelumnya. Ren tersenyum gelei, memperlihatkan caranya dan memilih lagu, bersiap menyanyi keras.

Kimi to Shake It Up, Baby Tomaranai
Owaru koto no nai, yume o mitai
Sono kokoro tsukamu made 
Down Down Down For U

Ren menggerak gerakkan tubuhnya mengikuti alunan lagu, Kaito hanya menatapnya kaget, bingung, dan entah apa yang ada dipikirannya saat ini. 20 tahun hidupnya terasa sia-sia karena baru ini dia pergi ke tempat bernama Karaoke itu.

“Huaaah capek juga lagu ini. Ayo sekarang kau pilih lagu”, ren menjatuhkan diri ke sebelah Kaito

“Tapi, aku tidak tau aku harus bernyanyi apa dan juga aku tidak tau lagu…..”

“udah gapapa setaunya… “

You seem to find the dark when everything is bright
You look for all thats wrong instead of all thats right
Does it feel good to you to rain on my parade
You never say a word unless its to complain
Its driving me insane

If i were you
Holding the world right in my hands
The first thing I’d do
Is thank the stars for all that i have
If i were you

Giliran Ren yang sekarang tertegun melihat Kaito bernyanyi. Lagu dengan full bahasa Inggris yang bahkan ia tak tahu siapa penyanyinya, judulnya, dan isi lagunya.

Ren bertepuk tangan keras selesai Kaito bernyanyi

“waaa sugee Takahashi kuun!! Ayo lagi….”

Dua jam mereka habiskan di tempat karaoke, dari Kaito belum paham sampai mulai bisa menikmati waktunya bersama Ren. Renpun sedikit lega bisa melihat senyum mengembang dari muka manis milik Kaito.

“Ayo kita makan, aku tau kedai makanan enak di sekitar sini. Takahashi kun maukah makan ramen? Kedai Ramen milik Kosaka san enak loooh”, ucap ren sambil berjalan keluar dari tempat karaoke.

“Baiklah… aku mengandalkanmu sensei,” goda Kaito.

Keduanya melangkahkan kaki ke kedai ramen milik Kosaka san, yang menjadi langgan Ren.

Tak salah Ren merekomendasikan ramen ini karena rasanya memang enak, Kaitoun mengakui setelah selesai menyantap ramen cumi specialnya.

“Takahasi kun, kau tinggal di apartemen sendiri dekat kampus kan? aku mampir yaaa.. udah malem, sepertinya kereta terakhir udah lewat”

“Em… baiklah..”

Kaito menunjukkan jalan ke apartemennya, tak terlalu jauh dari tempat mereka sekarang.

“Waaaah… ruangannya besar, rapi juga.” Ren menjatuhkan diri ke kasur milih Kaito. Sementara Kaito sibuk mencari baju untuk ganti Ren dan menyiapkan kasur lipat. Setelah semua dirasa cukup, Ren berganti pakaian, dan persebatan tidak penting lain, keduanya memutuskan untuk tidur dan mengakhiri hari ini.

“oyasuminasai Takahashi Kaito kun”,

“Oyasumi Nagase kun”

.

Kaito membuka matanya, untungnya hari ini hanya ada kuliah jam 2 soang, jadi ia bisa sedikit bersantai. Ia melihat sekeliling, tampak rapi, tapi Ren sudah tidak ada ditempatnya semalem.

Maaf aku pulang dulu pagi-pagi. Aku tidak tega membangunkanmu. Hari ini aku ada latihan pagi. Sampai bertemu di kampus! 

❤ Ren 

Apa-apaan pergi begitu saja dan meninggalkan note macam ini di rumah orang.

Kaito bergegas, meski kuliah siang ia tak akan absen satu haripun ke perpustakaan.

***

Sudah sebulan sejak Kaito dan Ren memutuskan satu kelompok untuk tugas akhir psikologi pendidikan, anehnya sejak saat itu pula lah keduanya menjadi dekat dan sering pergi bersama. Kaito mengajari Ren beberapa mata kuliah yang masih dirasa susah untuk Ren, sebaliknya Ren membantu Kaito lebih menikmati hidupnya sebagai seoarang remaja.

“Jadi bagaimana menurutmu dengan simulasi permainan yang kubuat?”, Ren menyeruput es kopinya

“Cukup bagus, tapi aku pikir bila subjek kita anak dibawah 13 tahun akan sedikit terlalu sudah permainannya.” Kaito memutar-mutar pensilnya.

Ren berfikir keas, mencari cara lain agar tugas mereka bisa selesai dengan sempurna.

“Bagaimana kalau kita gunakan media cat air, mereka pasti akan lebih antusias memainkannya.”

“Tapi kau harus pikirkan juga bagaimana anak-anak itu berfikir Ren, kalau cat air bukankah hanya akan menjadi basah dan meninggalkan noda bila dibuat mainan?”

Diskusi demi diskusi diselingi beberapa candaan terus berlanjut. Sesekali Ren menghabiskan malamnya ditempat Kaito yang tak keberatan kamarnya dibuat berantakan.

Sama seperti malam ini, Ren kembali menginap di tempat Kaito. Bukannya mengerjakan tugas, keduanya justru bermain game online. Sepertinya virus Ren mulai menghinggapi Kaito. Meski tak belajar sekeras sebelumnya, nilai dan kepintaran Kaito tak berkurang sama sekali.

Malam semakin larut menyapa, membawa keduanya ke alam mimpi masing-masing. Bergegas sebelum didahului senyuman menggoda dari matahari pagi.

.

Tubuh Kaito terasa berat karena tidur semalam, pendingin ruangan juga tidak terasa.

“UWAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!”

bruuuuuk

Jantung Kaito berdegup kencang. Apa yang terjadi semalam? bagaimana bisa ia bangun dalam kondisi ada dipelukan Ren dan sekujur tubuhnya panas?

“Ittai ….” Ren bangun dengan terpaksa, punggungnya sakit karna jatuh mendadak dari tempat tidur Kaito.

“REEEEN!!! APA YANG KAU….”

“oh itu… Gomenn Kai, semalam dingin dan aku pikir dikasurmu lebih hangat hehe.. maaf yaaaa”

“DASAR!!!” Kaito melempar bantalnya ke arah Ren, disambut tawa Ren yang menyebalkan.

***

Tim futsal fakultas sedang berlatih demi kesiapan turnamen. Nampak Ren paling semangat diantara yang lainnya. Jadwal hari ini untuk Kaito pertama kalinya menonton Ren berlatih futsal, hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.

Mata Kaito tak hentinya menatap Ren yang berlari kesana-kemari mengatur barisan teman satu timnya. Tak satupun momen dilewatkan Kaito, termasuk setiap butir keringat yang jatuh ke lantai.

Hari ini giliran Ren harus piket club membereskan semua peralatan, malangnya ia harus melakukannya sendiri karena senpainya yang satu hari piket dengannya tidak masuk. Untungnya Kaito masih ada menemaninya.

“Jadi, bagaimana penampilanku hari ini? Keren kaaan…” Kata Ren bangga. Kaito kebetulan membantu Ren mengumpulkan bola yang berserakan, agar lebih cepat selesai katanya. 3 tas bola dan cone dibawa keduanya masuk ke ruang penyimpanan belakang lapang.

BRUUUUUUUUUUUUUUUUUUUK

Cone yang dibawa Kaito jatuh berhamburan di lantai. Entah apa yang dilihat Kaito sampai ia tak memperhatikan jalan dan terjatuh. Sialnya lagi, celana yang dipakainya sampai sobek dan darah segar mengucur dari lututnya.

“Kai! daijoubuka?”,  Kaito menggeleng. Ren memapahnya untuk duduk di tumpukan busa.

“Ittai…..” Rintih Kaito saat Ren mencoba membersihkan lukanya. Anehnya dadanya bergetar saat tangan Ren menyentuh kulit kakinya. degupan jantungnya semakin kencang.

“Masih sakit?” tanya Ren. Kaito mengangguk sambil melempar pandangannya.

“Oiiii kau kenapa?”

“Tak apa. Terimakasih. Ayo pulang”, Kaito berdiri saat tiba-tiba kakinya tdak kuat dan kembali jatuh ke busa. Tangannya menarik tangan Ren tak sengaja, membuat keduanya bertindihan.

Bukannya cepat cepat melepas, Ren justru memeluk tubuh Kaito. Kaito mencoba melepaskan, tapi pelukannya makin kencang.

“Sebentar saja Kai” Ren membenamkan kepalanya kepundak Kaito, mengelus rambut Kaito.

“Ren…”

Ren beranjak, mengangkat wajahnya tepat diatas wajah Kaito.

Tanpa pikir panjang Ren menempelkan bibirnya ke bibir Kaito. Kaito hanya bisa diam. Air matanya menetes.

Kaget, Ren menghentikan ciumannya, mengelap air mata yang keluar dari bola mata kaito. Kembali menatapnya, Ren mengelap bibir Kaito bekas ciumannya dengan jemarinya.

“Gomennasai….”, kata maaf tak cukup membuat air mata Kaito berhenti keluar.

***

Bersambung 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “TRY – part 1

  1. TANTEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE HSHSHSHSHSHHSHSHSHS MAKASIH BANYAK UDAH DIBIKININ Q////////////////////Q

    AKU SEPANJANG BACA JEJERITAN KEK ORANG GILA. SAMPE MISUH2 ANJIR HASDFGHJKLCVBNM
    REN NYA ATLET FUTSAL TRUS KAITO NYA ANAK JENIUS OMGGGGG NGEBAYANGINNYA AJA UDAH ASDFGHJXCVB

    hal pertama yg bikin aku sesek adalah kalimat “Keduanya bertukar senyum dan ratusan kata lewat tatapan mata.” TT///////////TT OMG tanteeeee gado2 beneran aku bacanyaaaaa
    RenKai anak psikologiiiii weeeeee *//////* cie Ren minta satu kelompok cieeeee, Kai nya juga jangan serius2 belajar nyaaa, nikmati masa mudamu nak! /oi/ Ren nya entah kenapa keliatan badung banget di mataku XDDDD
    Hmmm bau2nya Kai punya masa lalu yang kelam nih dilihat dari mimpi buruknya 😦 /sotoy/
    Ren nya pergi diem2 dan ninggalin note yampuunn aduh mana ada “❤”nya lagi awaaaaaa tengil banget jadi cowo ya loord itu juga pas di kantin sok artis banget yawlaaa >////////<
    uhuk deeto uhuk ke tempat karaokeeee~ duh kok ya pas banget tadi ku lg nyemule shake it up XDDD bahkan ku masih nyemule pas tante kirim link dan baca ff ini sambil nyemule /jadi ga konsen/ /iniseriusan/

    REN KISU KAI OMG ASDFGHJKCVBNERTYUI DUUUHHHH PELUK PELUK TERUS KISU ADUH RAMBUTNYA DIELUS ADUH TOLONGGGGGGGGGGGGGGG KOK KAI NYA NANGIS ADUH DIA PERGULATAN BATIN APA GIMANA TANTEEEEEEEE HSHSHSHSHSHSHHSHSHSHSHHSS TANTEEEEEEEEEEEEEEE AKU TIDA SANGGHUUUPPPPHHHH TT/////////////////TT

    LANJUT PLS TANTE KU PENASARAAAAANNN QAQ DAN AKU SENANG TERNYATA INI NDAK ONESHOT XDDD JADINYA PANJANG DAN LEGA QWQ

    oh iya btw masih ada beberapa typo yaaa, khas tante dila banget pokoknya wwwww next chap dikurangin ya typonya :p wwwww

    DITUNGGU CHAPTER SELANJUTNYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!
    DOAKU MENYERTAIMU TANTEEEEE MWAH MWAH MWAH KU SAYANG TANTE DILA! SERING SERING YA NISTAIN ANAK KING NYAAA AKU RELA KOK QWQa

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s