TRY – part 2

TRY

RenKai-TRY

story by : Hanazuki 

Chara : Nagase Ren, Takahashi Kaito (Mr. King) 

Genre : boylove, romance 

WARNING : PART INI TERDAPAT ADEGAN DEWASA. BILA PEMBACA MASIH KECIL HARAP DI SKIP SAJA, KARENA ADEGAN TIDAK SENONOH YANG TERGAMBAR. 

Disclaimer : Mr. King are under Johnnys assosiation. Author cuman pinjem nama saja untuk dikhilafin yaa karena beberapa saat belakangan RenKai so cute together lah ~

Dibagi jadi beberapa part (?) semoga kelar. Kenapa? Karena kalo langsung abis nanti kepanjangan, author ga suka yang panjang-panjang (?) *okay ini ambigu, abaikan saja* 

Special buat Fufuchan yang rekues. semoga tidak mengecewakan. 

Ditunggu caciannya ❤ 

 

***

Kaito bangun dengan cepat, menjatuhkan Ren yang kini mematung melihat Kaito pergi begitu saja. Kaito terhuyung dalam perjalanan pulangnya. Bibir indah perawannya kini direngut oleh Ren! Yaaa seorang pria yang tiba tiba saja dekat dengannya belakangan ini. Sempat beberapa kali ia berhenti dan mengelus sendiri kakinya yang sakit, tapi semakin ia melakukannya senakin ia merasakan kembali sentuhan tangan dari Ren.

Cepat cepat Kaito masuk ke kamarnya, membenamkan kepalanya dalam bantal sambul masih berfikir apa yang baru saja terjadi. Beberapa kali ia nekat menjedukkan kepalanya ke dinding, sakit memang. Tapi debaran yang masih dirasakan sampai kini terasa jauh lebih sakit menusuk relung hatinya.

Separuh hatinya menyesalkan Ren yang melakukannya, separuh hatinya lagi merasakan ganjalan aneh saat Ren mulai memeluknya. Jiwanya masih bergejolak. Id ego superegonya berebut kendali alam bawah sadar Kaito.

***

Dasar bodoh! Apa yang sudah kau lakukan! Kau lihat sekarang akibatnya? 

Ren kembali mengacak rambutnya sendiri. Ia masih berada di ruangan saksi bisu kelakuan bejatnya.

Bagaimana ia harus menghadapi Kaito besok? Bagaimana jika mereka tak bisa kembali dekat? Bagaimana tugas akhirnya?

Pertanyaan itu terus saja berputar dikepalanya. Ren memegang kepalanya yang pusang, menyadari betapa ruangan mulai gelap dan kampus tentunya makin sepi.

Suara suatu benda jatuh di dekatnya. Ren mengambil seraya merapikan barangnya. Ini… notebook Kaito, pikirnya. Bukannya ingin melanggar privasi, tapi tangannya sudah terlanjur gatal membuka satu persatu lembar buku berukuran 10 cm x 5 cm itu. Nama Takahashi Kaito terpatri indah di halaman depan dengan tinta biru, menandakan siapa pemilik sah buku.

Terlihat coretan di dalamnya bukan hanya dari satu orang, tapi lebih! Matanya bergerak mengikuti setiap lembaran yang dibukanya. Jantung Ren berdegup kencang membaca setiap kata yang tertulis, sama sekali tak terbayangkan di otak nakalnya sekalipun ia membaca semua tulisan itu.

Badannya membeku saat melihat lembar terakhir dengan tulisan yang begitu menyayat hati, lengkap dengan foto orang yang selama ini ia kenal tersenyum begitu bahagia. Senyuman yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Entah mengapa Ren merasa orang yang ada di foto itu sangat jauh berbeda dengan orang yang ada di dekatnya saat ini.

Lututnya lemas, Ren kembali terduduk, mendekap buku catatan besampul hitam dengan motif bunga sakura diujungnya ke dadanya.

.

.

***

“Sejak lahir sampai umur 24 – 30 bulan anak-anak penyandang autis umumnya terlihat normal. Setelah itu orang tua akan melihat adanya keterlambatan berbicara dan keanehan dalam berinter-aksi dengan teman2nya. Suka dengan benda2 yang berputar, tidak bisa memainkan mainan dengan benar. Sebenarnya Autisme adalah kombinasi dari beberapa kelainan perkembangan otak. “, Yamada sensei menjelaskan slide presentasinya.

Biasanya saat mata kuliah psikologi pendidikan Kaito dan Ran selalu duduk bersebelahan, tapi tidak kali ini. Kejadian mendadak tanpa persiapan di ruang penyimpanan barang tim futsal beberapa hari sebelumnya masih membekas sampai sekarang.

Seperti biasa Kaito selalu fokus memperhatikan penjelasan dosen, tapi tidak dengan Ren. Arah pandangannya masih saja keluar jendela kelar, menyusun lembaran puzzel yang masih mengganjal di otaknya.

“Nagase san tolong dijawab pertanyaan saja.. Nagase Ren!” Yamada sensei menaikkan nadanya setelah beberapa kali Ren tidak menggubrisnya. Sayang sekali Ren masih belum sadar juga sampai Yamada sensei berdiri tepat di hadapannya.

“Silahkan keluar kalau memang lebih ingin melihat burung-burung terbang, atau mungkin anda bisa pindah saja ke fakultas Biologi”. Kalimat Yamada sensei mengagetkan Ren dengan sempurna.

“Anoo.. sensei saya bisa menjawab pertanyaannya”, Kaito mengacungkan tangan, membenarkan kacamatanya. Yamada sensei kembali ke depan kelas mempersilahkan Kaito menjawab.

“Yang pertama ada sindrom Asperger, yaitu ditandai dengan kekurangan dalam interaksi sosial dan kesulitan dalam menerima perubahan dalam rutinitas sehari-hari. Autis Disorder, dimana anak yang terkena dampak ini tidak memiliki kemampuan berbicara dan hanya bergantung pada komunikasi non-verbal, dan sikap acuh tak acuh. Autisme Klasik,  pada orang dengan gangguan autisme klasik memiliki masalah berbicara dan berhubungan dengan orang lain. Anak disintegratif Disorder yang mana menyerang anak yang lahir normal tapi mulai ada perubahan di usia dua sampai empat tahun, mereka juga akan memiliki masalah dengan keterampilan motoriknya, juga keterampilan komunikasi mereka mundur beberapa derajat. Yang terakhir ada sindrom Rett, biasanya mempengaruhi anak perempuan dan ditandai oleh pertumbuhan ukuran kepala yang berbeda dari ukuran normal,  memiliki kemampuan verbal dan sosial yang buruk, dan cenderung melakukan gerakan tangan yang berulang.” Terang Kaito dengan sangat jelas.

Seisi kelas hanya tertegun diam. Beberapa diantaranya mengguman mengiyakan kepintaran Kaito yang luar biasa, beberapa lainnya menatapnya jijik.

Dibalik itu semua Ren diam-diam mengamati cara teman-temannya menatap Kaito. Ingin rasanya ia memukul beberapa kepala yang melempar sindiran jahat ke Kaito, sayangnya ia hanya bisa melempar tatapan sadis yang membuat lawannya bergidik takut.

“Seperti yang diharapkan dari seorang Takahashi Kaito yang tak diragukan lagi”, sensei menyunggingkan senyumnya lebar. “Baiklah cukup untuk hari ini, saya ingin mengingatkan tugas akhir kalian sekali lagi jangan sampai lupak dikerjakan. Dan, saya tidak mau ada yang mengerjakan secara individual!” tutupnya.

Seisi kelas berhamburan keluar, pun Kaito. Buru-buru Ren membereskan barangnya dan mengejar Kaito. Entah Kaito keturunan flash atau anak dari mr incredible, tapi baru sekejap Ren sudah tidak bisa menemukannya.

Ren berjalan pasrah ke Toilet. sampai sekarangpun ia masih belum bisa mendekat ke Kaito lagi. Buku catatan miliknya pun masih ada dan disimpan baik oleh Ren yang membuat Ren terbayang selalu isi di dalamnya.

“AAAAAH KAITOOO!!!! samapai kapan sih kau kabur terus”, Ren mengacak rambutnya sendiri di depan cermin di toilet. kebetulan toilet sepi, tak ada orang di dalamnya, mungkin. Toh jika adapun ia sudah tak peduli.

“Hei Nagase Ren! berjuanglah lebih keras untuk meyakinkan Takahashi Kaito agar paham perasaanmu! tapi sebelumnya kau harus lebih paham perasaanmu sendiri!” gumamnya cukup keras sambil menunjuk bayangannya di cermin.

Suara air keluar dan akhirnya dibilas. Entah kenapa Ren selalu menikmati momennya ini.

.

“Gomennasai Ren… Gomeeen… aku tidak siap jika terjadi hal yang sama lagi….”, ucap Kaito sambil menutup mulutnya mendengar kalimat-kalimat yang diucapkan Ren barusan.

Dadanya semakin terasa sesak. Setelah sebelumnya akhirnya dia bisa punya teman lagi, sekarang dia sendiri yang menjauh. Bayangan hari itu kembali tergambar di pandangannya, membuatnya sesak dan mematung di dalam toilet. Rupanya usahanya kabur dari Ren dengan bersembunyi di toilet hari ini gagal dan justru membuat dirinya sendiri makin bergejolak.

***

Hampir dua minggu keduanya tak lagi saling bersama. Jangankan jalan ke kantin dan makan bersama, untuk saling menyapa saja rasanya tak pernah terlihat. Bukan tidak mau berusaha, Ren selalu mencoba dulu, tapi Kaito selalu menghindar, selalu seperti itu. Rasanya Ren ingin menyelinap ke tempat tinggal Kaito dan mengikatnya agar dia bisa mendengar penjelasan dan permintaan maafnya.

“Nagatsuma! apa passingku kurang keras? terlalu lemah? atau kenapa? tendanganmu tadi pelan sekali, aku bahkan tak menyangka tendangan seperti itu keluar dari kaki kiri sempurna seorang Nagase Ren.

“Iya Hirano… sejak kapan kau memberikan passing pelan seperti itu”, Ren menyentil dagu Hirano Sho, partner tim futsalnya. “Ayo latihan lagi, kalau kebanyakan minum kita tidak bisa lari nanti”, Ren mengayunkan handuknya ke semua anggota tim agar segera bangkit dan melanjutkan latihan.

Suara decitan sepatu dan teriakan anggota tim menghiasi  lapangan futsal tempat mereka latihan. Beberapa kali dihiasi senyuman dan saling ejek saat melakukan kesalahan, tapi ketika pelatih meneriakkan kode tertentu maka semua kembali serius. Begitulah tim futsal fakultas psikologi yang sudah terkenal seantoro universitas.

“Kau sudah tidak sama si siapa temenmu yang jenius itu ya Nagase?”, Tanya Kyomoto Taiga disela membereskan barang latihannya.

“Kenapa memangnya? kalau aku tidak sama Kaito terus kau mau mendekatiku yaa?” Ren melempar senyuman yang menyebalkan ke arah Taiga

“Idiih amit-amit yaaa. sama kamu? kalau kau orang terakhir yang harus ku nikahi juga aku lebih memilih menikah dengan siri daripada denganmu. Hahahhaa”. keduanya tertawa lepas, beberapa yang mendengar juga ikut tertawan.

“Oiiii… kata Matsumura kun hari ini dia akan mentraktir kita ramen di kedai Kosaka san!!” Hirano memberikan pengumuman keras. diiringi isakan bahagia dari semua anggota.

“Eeeeh.. chotto!!! Aku tidak bilang begitu!! Dasar Hirano gilaaa”. Hokuto mendekap Hirano dengan kaos futsalnya yang masih basah keringat. Semua kembali tertawa lepas.

.

Jadi, setelah hanya dalam kurun waktu dua minggu dia sudah bisa lupa yaa? baiklah, mungkin aku yang terlalu bawa perasaan. Lagian kejadian itu juga pasti hanya kesalah pahaman. 

Batin Kaito saat melintasi tempat latihan futsal tim Ren. Ia berusaha sebisa mungkin sosoknya agar tidak sampai tertangkap mata Ren yang terkenal jelalatan.

.

Itu sepertinya Kaito, apa yang dia lakukan jam segini diluar rumah?. Ren seperti menangkap sosok Kaito berjalan sendirian tak jauh dari tempatnya dan teman-temannya makan malam.

“Oke, aku duluan yaaa ada acara. Matsumura san, Hirano san terimakasih traktirannya. sampai bertemu hari senin… byeee”. Ren lari begitu saja. Kali ini, kali ini ia harus bisa bicara dengan Kaito entah bagaimana caranya.

“DAPAT!” ucap Ren saat berhasil menangkap tangan yang disinyalir milik Takahasi Kaito.

“Ren…” Kaito masih mencoba memberontak memaksa melepaskan tangannya dari genggaman erat tangan Ren.

“Kaito! Kita harus bicara. Kau mau sampai kapan menghindar terus. Aku akan jelaskan semuanya, kumohon dengarkan aku sebentar saja.”

“Maaf aku buru-buru, aku harus mengerjakan tugas statistika dan metode penelitian. Kalau kau mau membahas tugas Psikologi pendidikan kita bisa bahas di kampus besok”

Diluar dugaan Ren justru mencium kembali Kaito. Tak peduli dengan mobil yang masih lalu lalang dan orang yang berjalan melewati mereka. Ren menggigit bibir bawah milik Kaito. Kaito melawan, mencoba melepas Ren tapi pelukan Ren makin kuat. Dirasa lengah Kaito justru menggigit bibir Ren. Sontak saja Ren melepaskan ciumannya dan Kaito berhasil pergi.

“Maafkan aku Ren…”, Kaito pergi meninggalkan Ren yang bibirnya sukses dibuat berdarah.

***

Ren bodoh Ren bodoh Ren bodoh!! kau lihat apa yang kau lakukan justru membuat Kaito makin menjauh darimu kan?

Ren memukul beberapa kali tembok kamar mandinya. Air shower yang memancar tepat ke kepalanya belum bisa mendinginkan otak dan jiwanya yang panas.

Masih saja, setiap kali melihat Kaito badan Ren bergejolak. Kali inipun ciuman paksanya ke Kaito menaikan gairahnya. Meski bibirnya terluka dan sempat berdarah, tapi rasanya aneh ketika ia justru makin menikmati darah yang tertelan itu.

Ren mencoba kembali meyakinkan perasaannya sendiri ke Kaito. Karena sudah jelas ia tak merasakan ini pada teman-temannya yang lain.

Earphone sudah dipasang ke laptop, pintu kamar sudah dikunci, lampu sudah dimatikan. Adegan demi adegan menggugah gairah dari gadis berambut pendek dengan sailor uniform dengan pria berbadan kurus yang nampak muda menghiasi pandangannya. Ren memperhatikan setiap detail adegan, setiap desahan suara yang masuk ke gendang telinganya.

Tak berhenti disitu, ia coba ganti ke koleksinya yang lain. Wanita cantik dengan dada besar berpakaian ala suster rumah sakit yang lebih menggoda. Adegan yang lebih bergairah, suara yang lebih mendesah.

Sampai koleksi kelimanya Ren akhirnya menyerah. Ia terkulai lemas.

Sebelumnya koleksinya itu sukses membantunya memuaskan diri sendiri, tapi kini NIHIL. Tak satupun dari gadis ber-sailor uniform, berkimono, pakaian suster, maid seksi, sampai bikini two piece yang menggoda berefek pada badannya. Semakin ia lihat justru wajah Kaito yang ada di depannya, semakin ia mengelak semakin suara Kaito dan wajahnya saat menangis muncul.

***

“Hey Kai, nanti setelah kita bisa memenangkan medali olimpiade berjanjilah kita akan masuk SMA yang sama, masuk universitas yang sama dan kita bisa menggapai mimpi kita.”

“Tentu saja Shogo! dan aku tak akan kalah darimu pastinya..”

“Nee Kai, menurutmu apa aku bisa menghadapi olimpiade matematika nanti? haaaaa”

“Memangnya siapa yang bilang kau tak bisa?”

“Aku sendiri barusan”

“Selalu seperti itu. Itu bagian dari Tajima Shogo yang paling aku benci”

“Jangan gitu doong… maaf yaaa aku tak akan begitu lagi. Ayo kita lanjutkan belajarnya

.

.

Satu minggu kemudian….

“Takahashi Kaito, ini partner barumu untuk olimpiade besok, meskipun hanya kurang satu minggu, sensei ingin kalian bsia bekerja sama dengan baik”

“Tapi sensei… aku bisa sendirian! aku tak bisa bila ada orang yang menggantikan posisi Shogo”

“Ini sudah aturan dari sekolah. Takahasi Kaito, Matsuda Genta, sensei dan sekolah mengandalkan kalian..”

.

.

“Jadi si anak jenius itu membunuh dua temannya?”

“bagaimana bisa?”

“Yang satu gantung diri di toilet, yang satu lompat dari gedung olahraga. serem”

“Sudah kubilang berteman dengan orang jenius itu berbahaya”

“Pria pembawa sial”

“Kabarnya kalau kau bersentuhan saja kau bisa tertular sialnya dan ingin bunuh diri!”

“Iiiiiiiiiiiih makhluk macam apa dia itu!!!” 

.

.

Mati saja kau pembawa sial !

Enyah jauh jauh dari sekolah kami !

Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! 

Terkutuk! 

.

.

“Kaito Maafkan aku… aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini…

“Shogo!! Kau kemana saja. kenapa kau meninggalkanku disaat genting…”

“Hei Kaito jangan menangis! Mana ada pria menangis seperti itu! Lihat aku dan Shogo sekarang berteman looh”

“Genta, Shogo. Aku ikut kalian yaaa…”

“Kaito jangan pergi! Enak saja kau mau pergi disaat kau belum mendengarkan perkataanku. Kalian berdua, entah siapa kalian dan apa hubungan kalian dengan Kaito, tapi aku mohon biarkan dia disini, masih ada banyak hal yang harus dia lakukan di sini. Ayo Kaito kita pergi…” 

.

.

Kaito.. Hai Takahashi Kaito… 

Yattaaa~~ aku masih bisa mengirimimu email dan aku lupa! hahah gomenn!

Sore ini, selepas latihan. Aku ingin bicara denganmu! Kumohon beri aku kesempatan kali ini. Aku akan menunggumu di lapangan futsal jam 6 sore. kalau kau tak datang juga aku akan mencarimu hingga ketemu. Tidak! lebih tepatnya aku akan menghantui kehidupanmu, jadi datang yaa

❤ Ren 

Suara pesan masuk di pagi buta dari Ren sukses membangunkan Kaito. Masih pukul 5 pagi dan Ren sudah mengiriminya pesan? Kaito melihat kalender, seminggu sejak Ren tidak masuk kuliah karena ada latihan timnas, jadi hari ini hari perdananya masuk kuliah lagi.

Tidak seperti biasanya, hari ini Kaito berkali-kali memeriksa jam tangannya, seperti menuggu sesuatu. Tumpukan buku di perpustakaan yang akan dibaca juga hanya menggunung saja.

Saking lelahnya Kaito ketiduran di perpustakaan. Kaito bangun dan sadar kalau ternyata sudah jam 6 lewat. Buru-buru ia bereskan barangnya dan lari ke lapangan futsal.

Malang. Hujan turun begitu ia masih dijalan.

Dengan terengah-engah dan bajunya yang basah, Kaito sampai juga di lapangan futsal yang sudah sepi. Lampu lapangan masih menyala, tapi tak ada orang sama sekali. Termasuk orang yang bilang mau menemuinya.

Tubuh Kaito lemas. Buat apa seharian dia panik, sekarang lari ditengah hujan dan percaya saja dengan pesan yang dikirim Ren kalau akhirnya begini.

Kaito berjalan keluar lapangan, kepalanya mengadah ke hujan. Sudahlah… dia dan mereka berbeda, batinnya.

“KAITOOOO”, Ren menarik tangan Kaito, memeluk tubuhnya yang dingin karena bajunya basah

“Yokatta … ku pikir kau tidak akan datang dan aku tidak tau bagaimana cara menghantuimu lagi nantinya.”

“Ren.. bisa lepaskan pelukanmu?”

Ren melepaskannya kali ini. Ia sudah berjanji hanya akan memberikan penjelasan, tidak lebih.

“Maafkan aku untuk kejadian saat itu, dan kejadian lainnya yang membuatmu kesal…”. Kaito menunduk mendengar kalimat dari Ren.

“Aku tidak tau kenapa aku melakukannya.. em maksudku itu terjadi begitu saja… ah tidak bukan begitu…”, Ren bingung, Kaito lebih bingung saat melihatnya

“Kau tau… aku.. aku selalu suka saat melihatmu akhirnya tersenyum. Tapi aku mau melihat yang lain Kai! aku mau kau senyumpenuh dengan ketulusan hatimu, bukan senyum yang dipaksakan…”. Kaito masih belum paham perkataan Ren.

Hachiiiiim….

Sepertinya efek hujan sukses membuat Kaito bersin.

“Kau bisa lepas kemejamu dan pakai jaketku. setidaknya biar kau sedikit kering… yaa kalau kau mau”

“Terimakasih”, tanpa pikir panjang Kaito melepas satu persatu kancing kemejanya sampai akhirnya terlepas. Ren yang melihat kehilangan akal, memeluk Kaito kencang.

“Maafkan aku Kaito.. ijinkan aku melakukannya kali ini sajaaa.” Kaito tidak melawan, ia diam sambil membelai rambut hitam milik Ren. Entah kenapa kali ini air matanya kembali keluar.

Tak kuasa melihat keindahaan tubuh Kaito, nafsu Ren perlahan naik. Diangkatlah kedua tangan Kaito dan dipegang dengan satu tangannya. Bibirnya menempel paksa pada bibir Kaito. Satu tangannya lagi membelai wajah manis milik Kaito.

“R-eeen-n… hen…ti.k…”. Kaito kembali melawan tapi lagi-lagi gagal. Tenaga Ren kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Meski menyangkal, Kaito juga merasakan desirannya meningkat saat disentuh kembali oleh Ren.

Ren masih saya melumat bibir Kaito, dan Kaito masih menyangkal dan menolak. Hingga akhirnya Ren sadar dan memundurkan langkahnya.

“Lagi-lagi.. aku… aaaaaaargh!!” Ren memukuli kepalanya. Miris.

Kaito menghentikan perbuatan Ren. Menyakitkan melihat Ren menyakiti dirinya sendiri seperti itu.

“Maafkan aku Kaito..” Ren mengusap bibir Kaito yang kini berada di depannya. “Kau harus segera pulang.Bawalah payungku, kau harus pulang sebelum makin deras”, tambahnya.

“Kenapa kita tidak pulang bersama dan kau bisa menginap di tempatku. Lagian besok kita libur kan Ren?”

“k-k-k-kau mengajakku ke rumahmu?” Kaito mengagguk

“Aku tidak bisa bilang tidak Kai!!!”Ren kembali melingkarkan tangannya ke pinggang Kaito.

***

“Jadi yang di buku ini….”. Kaito mengangguk. Ia akhirnya berani menceritakan semua tentang kenangan buruk dalam buku catatan itu. Bagaimana ia kehilangan sahabatnya, Tajima Shogo  yang tiba-tiba bunuh diri dan syok karena membaca buku harian sebelum sebelum kematiannya. Disusul kematian partner barunya Matsuda Genta sesaat setelah olimpiade dan keduanya menjadi akrab. Dan semua bullying yang dia dapatkan sejak SMP sampai SMA hingga ia memutuskan pindah jauh untuk kuliah di Tokyo.

“Aku senang berada dekat denganmu Ren, tapi aku tidak mau kau menjadi seperti Shogo dan Genta. Aku tidak bisa membiarkan orang-orang mencibir dan membuatmu ikut bunuh diri juga. Karenanya saat kau melakukan itu pertama kali.. mungkin kupikir itu saat yang tepat untukku mundur sebelum aku membawa perasaanku lebih dalam …”

Ren kembali mencium bibir Kaito, hanya sebuah ciuman singkat yang membuat Kaito tak bisa berkedip.

“Baaakaaa… kau pikir aku akan bunuh diri dengan mudahnya? kau lupa aku ini atlet muda pilihan timnas dan salah satu pemain futsal terbaik fakultas kita?” Ren membelai rambut Kaito.

“Berhentilah memikirkan hal buruk di masa lalu. Kau harus mulai memikirkan dirimu juga. Bagaimana mungkin calon psikolog tidak bisa menghilangkan trauma dirinya sendiri? Kau sudah pergi cukup jauh dari tempat tinggal lamamu. Lihat aku Kai lihat aku!” Ren meremas kedua pundak Kaito, membuatnya hanya melihat dirinya saat ini.

“Aku tidak tau lagi bagaimana caranya agar kau merasakan hal yang sama dengan yang ku rasakan. Tapi sejak aku menyentuhmu saat itu, aku sudah tidak bisa lagi bangun dengan melihat gadis seksi di film porno dan selalu terbayang wajahmu! Mungkin ini terdengar gila, tapi.. aku akan menunggumu.. aku akan menunggu dan membantumu menyembuhkan diri dari trauma yang kau alami di masa lalu.” Ren memeluk Kaito yang mematung kencang.

Perlahan Ren menjatuhkan dirinya dan Kaito ke lantai. Tangannya membelai wajah halus pria di depannya. Rasanya ia bisa melakukan apapun yang tak terduga hanya dengan melihat wajah polos yang begitu lucu ini.

“Bolehkah?”, tanya Ren, belum juga Kaito memberikan jawabannya bibir keduanya sudah bertemu. Lumatan halus dari Ren pasrah diterima Kaito yang baru kali ini melakukannya. Kakinya menggeliat menahan gejolak di dalam diri.

“Pelan-pelan saja, bila kau mau berhenti aku akan berhenti”, bisik Ren di tenggah ciuman mereka.

Perlahan bibir yang sudah mulai basah dan gigi mereka mulai bertabrakan, kini Ren memasukkan pelan lidahnya ke mulut Kaito. Sempat terjadi pelawanan, tapi Ren kembali meyakinkan Kaito kalau semua akan baik saja. Lidahnya perlahan menjalar ke rongga mulut, mengajak menari lidah Kaito. Air liur keduanya sudah saling menyatu. Beberapa kali Kaito mengeluarkan desahan yang dibalas senyum menggoda dari Ren.

Tangan Ren mulai mengelus pelan belakang telinga Kaito yang ada di bawahnya, perlahan turun ke leher dan membuat badan Kaito ikut menggeliat. Suatu perasaan yang belum pernah dirasa sebelumnya. Nafas keduanya mulai berat.

Satu tangan Ren menahan tangan Kaito di atas kepalanya. Perlahan ia turunkan ciumannya ke leher, tangan satunya sibuk mencari jalan membangunkan sisi lain Kaito yang baru setengah sadar.

“Ren…..” Kaito menahan bibirnya. Ia belum siap.

“Percaya padaku, ini tidak akan sakit”, Ren membantu Kaito melepas kaosnya. Ciumannya turun memainkan puting milik Kaito tangannya memainkan puting satunya. Satu tangannya yang masih bebas bermain-main di mulut Kaito yang kelaparan. Memainkan bibir dan lidah, disambut desahan pelan yang ditahan Kaito.

Ciuman Ren makin turun diikuti tangan yang makin liat membelai badan Kaito.Kaito menggeleng takut, Ren tersenyum. Perlahan satu tangannya masuk ke celana training yang dipakai Kaito, memainkan milik Kaito yang masih terbungkus celana dalam tapi sudah terasa keras dan basah.

Ren menurunkan celana Kaito, kembali memainkan dengan tangannya. Birahinyapun juga sudah menegang.

“Percayalah Kai, ini tak akan sakit. aku janji”, Ren melanjutkan permainannya, Kaito hanya bisa pasrah dan menggeram mengikuti permainan dari Ren. Badannya sudah menjadi milik Ren.

.

.

.

“Masih sakit?” Ren memijat rambut kepala Kaito yang penuh busa dari belakang. Kaito mengangguk. Ren memeluk Kaito dari belakang. Air bathup keluar perlahan.

“Maafkan aku yaa.. lain kali kalau sakit kau bisa bilang, jangan di paksa ditahan sambil mendesah gitu…” Ren memalingkan wajah Kaito hingga kini keduanya berhadapan.

“Mana ada lain kali! nggak!”

“Iiiih jangan gitu dooong… “

“Ngga ada lain kali kalau kau nggak pakai pengaman seperti semalam yaaa”

“Nah gitu dong hahaha. Kau lucu Kai. tapi jangan pernah munculkan wajah manismu itu ke orang lain yaaa. Cukup ke aku, dan hanya aku”

Kaito menyiratkan air sabun ke wajah ren setelah mendengar kalimat Ren barusan. Mulai detik ini ia akan mencoba untuk hidupnya yang lebih baik, mencoba perlahan mengubur traumanya dan hidup layaknya orang pada tahap dewasa awal sewajarnya.

“Kai…”

“Hmmm..”

“Munggu depan uji coba timnas kau harus nonton yaa. Akan ku carikan bangku yang paling pas untukmu jadi aku tetap bisa memandangmu saat bermain nanti”

“Tergantung, kalau gojila sensei tidak membutuhkanku untuk jadi asistennya hari itu.”

“Iiih jangan gitu doong, ku tusuk lagi looh…”

“REEEEEEEEEEEEEEEEN!!!”

.

.

.

***

TAMAT \^^/

Advertisements

One thought on “TRY – part 2

  1. TANTEEEEEEEEEEEEEEEEEHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH UPDATE KILAAAAAAATTTTTTTTTT HSHSHSHSHSHSHSHSHHHSHS
    MAKIN GADO2 AKU BACANYA ZSXDCFGHJMK

    duh kai nya kasian dibully gitu ;;A;; sampe tmn2nya pada bunuh diri ;;A;; jadi selama ini kai jaga diri dari orang lain biar ga ada yang bernasib sama kaya temen2nya yg bunuh diri? ;;A;;
    aku baca ini beneran kaya lagi kuliah XDDD ada materi nya beneran soalnya >/////////< asdfghjkxcvbnm,

    DAN ITU PAS BAGIAN XXX NYA SDFGHNJMXCVBNM AD000HHH TOLONG TANTEEEHHH KU TAK SANGGUPHHHH KU KEBAYANG BENERAN /oi/
    KU TERPAKU SAMA INI "Beberapa kali Kaito mengeluarkan desahan yang dibalas senyum menggoda dari Ren." ASDFGHJKXCVBNM KEBAYANG MUKA DO-S NYA REN SDFGHJMKXCVBNMSDFGHJM
    "Badannya sudah menjadi milik Ren."
    ^^^ ASDFGHJKCVBNM TANTEEEEEEHHHH AQ HYZTERYYYZZZZ TULUUUNGGGGG HSHSHSHSHSHSHHSS RENKAI RENKAI RENKAI D////////X

    suka endingnyaaaaaa X/////3 manis banget HAHAHAHAHA
    “Mana ada lain kali! nggak!” <<>> “Ngga ada lain kali kalau kau nggak pakai pengaman seperti semalam yaaa” >///>> “Iiih jangan gitu doong, ku tusuk lagi looh…”
    HAHAHAHAHA RENNYA NAPSUAN AMAT YA LOORRDDDD

    KOK UDAHAN SIH TANTEEEEEE LAGI DONG SEKUEL DONG SEKUEEELLLLLL PLSPLSPLSPLSSSSSSSS /ditendangauthor/
    MAKASIH BANYAK UDAH BIKININ INI >///< SERING2 YA TANTE HAHAHAHAHA MAAFKAN PANJANG KOMENNYA, KUPENUHI JANJIKU SEMALAM BUAT KOMEN DI SETIAP SCENE NYA WALAU EMANG GA DETAIL2 AMAT XDDDDD

    DITUNGGU PENISTAAN KING SELANJUTNYA YA TANTEEE MWAH MWAH MWAH LOVEYOUUUUUU!!!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s