Tomorrow Never Know Part 2

Tomorrow Never Know

Story by : Hanazuki

Chara : Tanaka Juri, Jesse Lewis (SixTONES), Kazuya Aika

Selamat membaca, ditunggu caciannya ❤

Aika memeluk Juri kencang, Juri terdiam, tangannya tak mampu melanjutkan tulisannya. Juri mengubah posisinya, menghadap Aika, menempelkan jidatnya ke Jidat Aika. Aika tau betul bau rokok di sekujur tubuh Juri ini.

“Aika.. kau harus tidur, ini masih jam 2 pagi…”ungkapnya sambil menatap mata Aika yang setengah sadar. Sepertinya efek minuman alkohol itu masih merayap di tubuh Aika.

“Aika maunya bobo sama Juri.. Aika ga bisa bobo sendirian…”, Aika menggantungkan tangannya ke leher Juri, menempelkan bibirnya cepat ke bibir Juri. Benar saja, Juri masih merasakan alkohol di mulut Aika. Sedikit rasa bersalah di diri Juri karena ia mengubah gadis polos itu menjadi seperti sekarang.

Aika masih saja mengulum bibir Juri dengan paksa, tapi Juri tak menikmatinya sama sekali. Ditatapnya mata Aika yang terlihat Asik memainkan bibirnya. Beberapa kali juri membelai rambut Aika yang halus, masih sambil mengiyakan ciuman paksa Aika yang nyatanya tak ia nikmati sama sekli.

“Aika…” Juri melepas ciuman Aika, menggelengkan kepalanya. Aika terdiam, matanya masih sipit karna belum sadar betul. Juri beranjak dari posisinya duduk, mengangkat tubuh Aika dan menggendongnya kembali ke tempat tidur.

 “Kau harus tidur Aika, aku tak mau kau besok pucat dan nampak kelelahan…”Juri mengecup jidat Aika lembut, Aika mengangguk saja mengikuti perkataan juri.

“Oyasuminasai…”, ucap Juri sambil mengelus pelan rambut hitam milik Aika. Juri meninggalkan Aika yang nampak mulai tak sadarkan diri, tapi Aika menarik tangannya, membuatnya kembali duduk dan berbaring di sebalah Aika.

Juri mengelus kembali secara perlahan rambut Aika, membawa pemiliknya larut ke dunia mimpinya. Juri tersenyum seraya melepas pelukan Aika di badannya.

.

StonesMan memulai kembali latihannya setelah vakum 2 minggu. Lagu baru akhurnya berhasil diselesaikan Juri, meski ia sendiri kurang puas dengan hasilnya, Jesse banyak membantunya menukis lirik.

Beberapa panggilang manggung kembali menghampiri StonesMan. Ritme band nampaknya juga kembali normal. Beberapa waktu terakhir Juri juga sudah bisa tidur nyenyak.

“Juri, kabarnya Lukisan Aika masuk kedalam salah satu lukisan yang akan ikut pameran lukisan Yasunori sensei?”, Hokuto menyela ditengah persiapan latihan. Juri mengangguk bangga, masih menyetel gitarnya.

“Pandangannya biasa aja dong Jes!”, Taiga menimpuk kepala Jesse, tau kalau Jesse sedang tidak enak menatap Juri yang asik membahas Aika dengan Hokuto dan Shintaro. “Kau cemburu yaaa? Hahahaha”, tambah Taiga.

“Berisik…” Jesse melepaskan tangan Taiga yang sedari tadi melingkar di lehernya. “Ayo kita mulai latihannya! RedMoon Festival tidak bisa menunggu kita bulan depan!”, tambahnya keras.

Stones memulai latihannya dengan mencoba 3 lagu barunya dan lagu lain yang biasa mereka cover. RedMoon Festival, festival terbuka untuk band-band yang masih indie ataupun sudah terkenal untuk menunjukkan bakatnya. Bagi band indie yang beruntung bisa mendapat kontrak mayor album dengan produser berbagai label yang sudah dipastikan hadir. Sementara untuk band yang sudah terkenal tak jarang ajang ini digunakan untuk promosi album baru atau tour mereka. Bagi band-band dari Hokone Akademi juga banyak yang mendapat debutnya setelah mengikuti ajang ini, meski persaingan dengan band lain terasa cukup berat.

StonesMan sedang dalam posisi terbaiknya kali ini. Dalam kurun waktu sebulan, tak satupun hal tak menting mengganggu konsentrasi mereka. Bahkan mereka sudah menyiapkan beberapa buah goodies yang siap dibagi dan beberapa dijual di area stage, tentu saja dengan seizin dari akademi.

“Teman-teman…”, semua terhenti berberes dan memperhatikan Kouchi. “Ayahku memberikan tiket di taman bermain, barangkali kita bisa kesana untuk refeshing sebelum festival? Ada 12 tiket, kurasa kita bisa mengajak pasangan kita masing masing. hehehe”, Lanjut Kouchi sambil memamerkan senyum yang membuat matanyamakin sipit

Plaak

Sebuah stik drum mendarat tepat dikepala Kouchi. Shintaro, selain jago main drum, dirinya juga ahli melempar bola basket ke ring dengan tri poin nya.

“Oiiii!!! disini yang punya pasangan kan cuman kau, Hoku, dan Juri. Sengaja manasin nih?” Shin tiba-tiba muncul kehadapan Kouchi dengan badannya yang besar.

“Eeeeh…. bukan begitu Shin.” Kaouchi menggaruk rambutnya bingung. kelima temannya tertawa saja melihat tingkah Kouchi yang mudah saja dibuat bingung dan dikerjain.

“Baiklah.. kalau begitu sabtu ini kita pergi ke sana! karna ada 12 tiket sayang sekali kalau dibuang, mari kita ajak pasangan kita.” Hokuto menyimpulkan. Shin datang dan menubruk badan Hokuto hingga terjatuh, mengacak rambut dan menggelitiki badannya yang sensitif. Ruang latihan kembali ricuh oleh suara tertawa keenamnya.

***

Rombongan StonesMan janjian jam 10 pagi di pintu gerbang taman bermain kota yang tak jauh dari sekolah mereka. Semua sudah dengan pasangan masing masing. Kouchi dan Sora, Hokuto dan Hazuki, Taiga mengajak Kotori adiknya, Shintaro dan Ryotaro kakaknya, hanya Jesse yang memang berniat sendiri hari ini.

“Kalian masuk duluan aja. aku akan menunggu Aika disini”. Juri mengecek handphonenya, tidak ada pesan masuk dari Aika. Terakhir pagi tadi Aika masih menghubungi Juri, tapi ini sudah lewat 15 menit tetap tak kunjung datang. Tak biasanya Aika datang terlambat.

Juri menunggu dengan gelisah, berkali-kali melihat jam tangan dan handphone, tapi tak ada tanda kehadiran Aika. Sementara teman-temannya sudah duluan masuk seperti permintaan Juri tadi. Jesse mencoba menunggu Juri, tapi ditolak Juri.

Aika nampak lari sambil terengah-engah.

“juri kun! Gomenne… aku harus menemui Yasunori sensei tadi…”. Belum selesai berkata, Juri sudah memeluk Aika erat.

“Bodoh! aku khawatir setengah mati tau! kupikir kau diculik orang. atau kau kecelakaan dijalan, bagaimana kalau kau ditangkap pemburu loli yang belakangan marak, bagaimana kalau… “, Aika menepuk punggung juri. Pelukan Juri terlalu kencang sampai ia sendiri susah bernafas. Aika mencoba menyadarkan Juri dengan kode tepukan dan suara yang tak keluar jelas. untungnya juri sadar.

“Gomenne Juri kun… HPku tmati dan aku juga panik. Terus Yasunori sensei lama banget. aku nggak enak mau motong. Maaf membuatmu kawatir”, Aika menatap Juri dalam. Juri memakaikan topi yang dia pakai ke kepala Aika.

“Nih pakai biar kamu nggak kepanasan” ucapnya. Keduanya masuk ke taman bermain sembari bergandengan tangan menyusul anggota StonesMan yang lain.

Beberapa kali rombongan terpisah karena beberapa tidak mau naik wahana yang sama, terutama Taiga yang harus mengalah demi adiknya Kotori yang mudah takut naik wahana menakutkan. Sementara Shintaro dan Ryutaro paling semangat naik semua wahana. Sisanya hanya ikut apa yang dituju temannya.

“Hokuto ayo naik yang lebih serem dari roller coster tadi..” Hazuki paling semangat sambil menarik Hokuto.

“Hazu neechan.. Kotori takuuut… Taiga nichan..kita naik itu aja….”, Kotori menarik Taiga dan menunjuk ke arah biang lala besar yang ada di pusat taman bermain.

“Kotori chan…. kita makan siang dulu yuuuk.. Shin nichan laper nih, kita naik biang lala nya nanti sorean aja biar bisa liat matahari terbenang. Bagus looh…” goda Shintaro. Kotori yang ketakutan bersembunyi di balik tubuh kakaknya.

“Shin! jangan takuti Kotori dong… inget badanmu tuh besar dia bisa takut…”Ryuutaro memukul pelan kepala adiknya itu.

Kotori masih saja bersembunyi di balik badan Taiga disaat semuanya tertawa.

“Baiklah.. ayo kita makan saja…” Juri menggandeng Aika, diikuti rombongan StonesMan dan pasangan masing-masing.

KEsebelasnya berhenti dan makan siang di sebuah resto cepat saji di dalam kawasan taman bermain. Puas memesan banyak makanan, mereka asik ngobrol dan bercanda satu sama lain.

Juri kenapa cuman pesen sedikit makanan? kenapa ngga disentuh juga?, pikir Aika saat menatap Juri yang dari tadi tiak menyentuh makanannya.

“Juri kun, tidak makan?”

“Ini… buat Aika aja, aku udah kenyang minum jus jeruk ini”

“Tapi.. kau bahkan dari tadi tidak makan apa-apa, kalau Juri sakit gimana?”

“Kan ada kamuuu…” Juri menempelkan kedua telapak tangannya ke pipi Aika, menurunkan kepalanya dan bersandar pada pundak Aika

“Juriii niisannn…. nggak boleh mesra-mesraan di depan anak kecil”. Sontak semua tertawa saat Kotori datang dan menepuk pundak Juri.

“Nggak papa… makannya Kotori chan cepet gede biar nanti Juri niichan bisa senderan ke Kotori chan… yaaa?” balas Juri

“Nggak mau….. Juri niichan jelek.. Kotori chan mau sama Hoku niichan aja.. boleeh yaaa Hazu neechan?”, semuanya kembali tertawa. Memang adik Taiga ini terlalu menggemaskan dan selalu menjadi bintang saat StonesMan berkumpul. Kebetulan juga karena kedekatan Taiga dan Hokuto, tak jarang adiknyapun ikut dekat baik dengan Hokuto maupun dengan Hazuki.

Belakangan memang nafsu makan Juri kembali memburuk, setelah beberapa hari nafsu makannya meningkat pesat, kini kembali hilang. Parahnya, kebiasaan merokok dan minum alkololnya juga tidak ikut hilang seiring hilangnya nafsu makannya.

“Juri, cepat makan…”, Jesse tiba-tiba saja menjejalkan exstr big cheese burger ke mulut Juri. Teman-temannya tidak ada yang merasa aneh karena Jesse dan Juri sudah sangat dekat dari awal. Tidak dengan Aika. Setiap kali ia melihat Jesse dan Juri bersama dan berdekatan, ia ingat kejadian di siang hari kala itu.

Aika meninggalkan rombongan ke toilet, cukup lama untuk menjernihkan pikirannya lagi dari pandangan saat Jesse dan Juri berciuman di hutan sekolah saat ia sedang bersama Ayaka.

Toilet wanita bersebelahan dengan toilet pria, malangnya lagi saat akan keluar lagi lagi Aika lihat pemandangan itu. Tidak salah lihat kali ini pasti karena Jesse dan Juri melakukannya dan terpancar dari bayangan cermin toilet.

Jantung Aika berdegup kencang, sangat kencang. Ia terkulai lemah di wastafel toilet beberapa saat, membiarkan kran air toilet yang sepi itu terbuka.

“Aika?”

“Hazuki….”

“Kau baik-baik saja? matamu merah.. Mau ku carikan sesuatu?”

“Ah tidak usah tidak… aku baik kok”, Aika mengelap kedua matanya yang memang bekas menangis.

“Ayolaah Aika, kau bisa bicarakan padaku kau mau..”, belum selesai Aika sudah menghambur ke pelukan Hazuki. Hazuki bingung dengan Aika yang hanya diam sambil terisak.

.

Juri menatap Aika yang keluar bersama Hazuki, terasa ada yang aneh menurutnya, tapi ia tak tahu apa itu, yaa mungkin hanya perasaannya saja.

“Tangan oy tangan, Aika dateng”, juri berbisik ke Jesse. Jesse hanya bisa menghembuskan nafasnya panjang mengiyakan permintaan Juri.

“Juriii kuuun… nanti kita naik biang lala yaaa…” Aika datang, menyembunyikan bekas matanya yang sempat basah

“Wuiiih jadi dato nihhh berduaan aja yaaa? pasti mau liat matahari senja yaaa?”Kouchi iseng

“Ah elaaah Yugooo kau kan juga bisa berduaan naik sama Sora senpai”, Hazuki mengelak

“Niichan, kita naik bareng Hoku nichan dan Hazu neechan yaaa?” Kotori merajuk

“Iiiiih Kotori chan, Shin niichan kan juga mau naik bareng Kotori chan, emang Kotori chan nggak mau bareng sama Shin niichan dan Ryuu nichan?” Shintaro menggoda

“Iiiih Kotori sama satu SHintaro niichan aja udah pusing masak ketambahan Ryuu nichan”. Semua kembali tertawa

Sambil menunggu waktu matahari mulai berpamitan, rombongan masih sibuk berkeliling, naik wahana bergantian dan makan jajanan ala taman bermain itu.

“Udah mulai sepi tuuuh yuuuk ngantri!” Yugo menunjuk antrian biang lala di tengah taman bermain.

Biang lala besar memang selalu menjadi primadona, terlebih dikala hari senja seperti saat ini. Karena kendala terbatasnya ruang, tentunya rombongan tidak bisa ada dalam satu tempat.

Kotori memaksa Taiga agar satu tempat dengan Hokuto dan Hazuki, untungya Hokuto dan Hazuki mau di ganggu. Sora dan Kouchi berdua, pun duo Morimoto masing amsing dalam tempat yang berbeda. Jesse yang sendiri mau tak mau jadi pengganggu antara Juri dan Aika, meski awalnya Jesse menolak ikut naik tapi Juri memaksa dan menarik tangannya masuk biang lala.

Aika pasrah saja kesempatannya berduaan dengan Juri hilang. Padahal dalam bayangannya ia akan bisa berciuman dengan Juri saat dipucuk sambil melihat matahari terbenam pelahan, bercanda, berfoto berdua, dan menertawakan kehidupan.

“Maaf ya Aika, kasian kalau Jesse ditinggal jadi ku ajak deh”, Juri menghibur. Aika tersenyum pasrah. Sebenarnya tak ada masalah ia dan Juri berciuman disini, toh Jesse juga sudah tau hubungan mereka.

“Juri… sini sini..” Aika mengeluarkan handphonenya, beberapa kali mengabadikan momennya berdua bersama Juri.

Sementara itu Jesse yang menjadi orang ketiga asik saja dengan handphonennya.

“Sini…” Juri mengambil handphone Jesse

“oiiii…”

“Cheeesuuuuuuu”. Tombol shutter ditekan tepat saat Jesse menempelkan bibirnya ke bibir Juri …..

***

To be continued

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s