PROMISE

PROMISE

PhotoGrid_1493907557809

Chara : Kikuchi Fuma, Matsuhima Sou (sexy Zone)

genre : romance (?), boyslove, friendship

Kikuchi Fuma dan Matsushima Sou masihada dibawah naungan Johnnys entertainment, dimana saya hanya pinjem chara untuk dinistakan.

Ditunggu caciannyaaa 💜💚

***

“Fuma niichaaaan~~~ kita sekelas lagiii”, Matsushima Sou menimpa pundak Kikuchi Fuma, mengagetkan pemiliknya.

“ssssst… kan udah dibilang jangan panggil pakai niichan kalo disekolah. berapa kali harus ku bilang sih errr”

“maunya apa? Fuma chan? Fuma kun? Fuchan?” hahahahaha

“Dasar kau!”, Fuma memukul pelan kepala Sou yang memang lebih pendek darinya

Kikuchi Fuma dan Matsushima Sou, teman sekaligus tetangga sejak mereka kecil, mungkin lebih tepatnya sejak orang tua mereka sudah saling kenal sebelum masing-masingnya menikah. Ibu Fuma dan Ayah Sou sudah jadi tetangga sejak kecil dan setelah menikah mereka masih tinggal berdekatan. Bahkan setelah Fuma dan Sou lahir keduanya juga langsung dekat.

Masuk di playgroup, TK hingga SMA yang sama tak membuat keduanya bosan. Sempat bertengkar, namun selalu rujuk kembali. Rumah yang bersebelahan, kamar yang berseberangan, tak jarang mereka sejak kecil bermain surat-suratan lewat pesawat kertas.

Fuma meletakkan tasnya ke bangku kosong dekat jendela, Sou mengikuti dan duduk di depannya.

“Oiiii… situ tempatku minggir!”. Gadis perawakan cukup tinggi tiba tiba saja datang dan mengusir Fuma.

“Haaaaaaaaah? Maksudmu apa oiii”, merasa kesal, Fuma berdiri dan berbalik melawan gadis itu

“Aku sudah mengincar bangku itu sejak pengumuman nama kelas”, balas si gadis

“Enak aja! siapa yang dateng dulu dia yang dapat. emang siapa kamu haah? Anak pemilik sekolah? tampang berandalan aja sok banget sih”. Sou melihat Fuma memanas coba menghentikan, tapi nampaknya percuma

“dasar tampang yankee. buruan pindah.” langsung saja gadis tadi menaruh tasnya di meja yang sudah duluan ditempati Fuma.

“Misa chan….” satu lagi gadis datang sambil terengah-engah. “Apa yang kau lakukan disini. aku mencarimu kemana-mana.”

“Nee.. Hika chan, dia mengambil bangku yang sudah dari tadi aku incar. ya aku marah laah…”

“Oiii oiii apa maksudmuuu”

“Mi chan baka! Cepat minta maaf dan kita keluar dari sini. Kelas kita ada di sebelah bodoh!”

“Eeeeeeeeeeeeeeeh?”

Sou terkikik geli mendengar kenyataan memalukan itu, tapi pandangannya tak lepas dari sosok gadis mungil yang rela datang menanggung malu setalah temannya membuat keributan.

“Yeee salah kelas yeee. dasar gadis aneh, buru pergi sana mengganggu pemandangan pagi ku saja”. Fuma cepat cepat duduk sebelum kursinya diambil orang aneh lagi

“Khusus untukmu aku tidak akan minta maaf. byeee,” lalu kedua gadis itu pergi meninggalkan Fuma dan Sou yang masih menahan ketawa.

“Fuma Fuma ….kau lihat gadis yang tadi itu nggak?” Sou berbalik menghadap Fuma dengan tatapan serius

“haah? maksudmu si aneh yang salah kelas itu?”, timpal Fuma

“Bukaaaaan… tapi temennya.. yang rambutnya panjgan bergelombang itu. lucu banget nggak sih”, Sou tampak melihat ke arah pintu, barangkali si gadis tadi lewat lagi.

“Oh… dia. Kalo nggak salah inget dia sekelasku waktu kelas satu, namanya Ito Hikari. Kenapa?”

Sou menggelengkan kepalanya, memperbaiki posisi duduknya kembali. Fuma kembali menatap keluar jendela dengan tangan menyangga dagunya. sesekali pandangannya ke arah Sou yang nampak mengeluarkan aura berbeda.

***

Selang beberapa minggu sejak hari pertama masuk dan kejadian salah kelas gadis aneh berujung Sou yang banyak mencari tau keberadaan gadis lain yang katanya bernama Ito Hikari masih saja berlanjut. Meski selisih satu kelas tapi hanya sedikit info dari Sato Shori, orang yang pernah jadi teman dekat Sou dikelas dua yang kini sekelas dengan Ito Hikari itu.

“Kantin yuuk” Fuma menarik baju Sou.

“Eehhh chotto… aku bawa bento Fuu”

“Udah bawa aja makan di kantin, aku ga bawa apa-apa hari ini”

Dengan pasrah Sou mengikuti langkah Fuma. Matanya berkeliaran mencari sosok Ito Hikari yang mungkin bisa ditangkapnya, tapi nihil.

“Duduk dulu sini, aku mau nyari makan…” Fuma menarik kursi mempersilahkan Sou duduk bak pangeran tampan negeri dongeng. “Silahkan tuan muda”. Fuma meninggalkan Sou dengan kotak bentonya yang berwarna hijau.

“Anoo… apa kursi ini kosong? aku dan temenku kehabisan kursi nih..”. Sou menghentikan kunyahannya mendengar suara yang begitu indah

“Eh… eh…” Sou yang speachleess justru menjatuhkan sumpitnya ke lantai. Bingung dan Panik, kepalanya justru menabrak kepala Fuma yang tiba tiba datang membantu mengambil sumpitnya yang jatuh.

“Udah duduk aja gapapa kalian dari pada berdiri.” Ucap Fuma melihat 2 gadis yang tak asing itu. “Nih, kau pakai sumpitku aja, aku ambil lagi aja”, sambil memberikan sumpitnya ke Sou.

“Sory yang waktu itu yaaa.. Sebagai permintaan maaf kau boleh memakan meron pan ku.”, ucap gadis itu, juga menaruh cepat meronpannya kedepan Fuma

“Oh punya nyali buat minta maaf juga kau hahaha”, Fuma asik mengunyah nasi karenya.

Sou yang masih tak percaya dengan yang di depannya tetap saja makan dengan mencoba tenang dan tetap tampan.

“Terimakasih yaa waktu itu. Maafkan temenku.” ucap gadis manis satunya. Sou mengangguk. ” Ito Hikari, kelas 3.3 dan ini Temanku Kouchi Misaki, gadis berisik yang berusaha mengambil bangku temanmu kemarin.”, Hikari mengenalkan dirinya.

“Ah haik! Matsushima Sou desu! Yoroshiku onegaishimasu!” Sou tiba-tiba saja berdiri sambil mengenalkan dirinya, kursinya pun sampai terjatuh. Menahan malu Sou membangunkan lagi kursinya dan kembali duduk, “Gomenn”.

“Hahaha kau lucu Matsushima san”, balas Hikari.

Mendengarkata lucu dari Hikari, Sou makin salah tingkat dan kehilangan nafsu makannya. Melihat Sou yang makin asik dengan Hikari, Fuma menghentikan makannya.

“Gochisousama”. Fuma merapikan piring makannya, menghabiskan minum dan menarik Sou yang amsih asik ngobrol dengan Hikari. “Ayo Sou, kita pergi”

“Eeeeh Fu.. tapi aku belum selesai makannyaa”, Sou cepat merapikan sebelum semua peralatan makannya tertinggal di pantri

“Sampai ketemu lagi Hikari….”Sou melambaikan tangannya ke Hikari, seolah sudah lama kenal, padahal hatinya begitu deg-degan berada di dekat Hikari.

“Kenapa sih Fu?”

“Gapapa.. “, Fuma masih berjalan cepat sambil menggandeng tangan Sou

“Aneh.. cemburu yaa aku ngobrol panjang lebar sama Hikari?”

“Idiih ngapain…. udah buruan bentar lagi masuk”

“Yaudah siih jalannya biasa aja ngga usah sambil ngegandeng tangan juga hahahaha”. Baru sadar dengan perkataan Sou, Fuma melepas gandengannya, mencoba memasang muka sedatar mungkin.

***

“Fuma niichaaan… oiii Fuma niichaaan”. Sou berteriak dari jendela kamarnya yang memang berhadapan langsung dengan jendela kamar Fuma.

“Fuma niichaaan…..”

“Fumaaaa niiiiichaaaaan….”

Sou menghempaskan nafasnya, tiga kali Fuma tidak menjawab berarti dia tidak di kamar, begitulah perjanjian mereka sejak kecil. Baru saja Sou akan menutup jendela dan…

plaaak

Sebuah alat cukur yang masih basah tepat 3 poin mengenai belakang kepalanya

“itteeee….” sambil berbalik Sou mengelus belakang kepalanya

“Apasih berisik amat masih pagi juga”. Fuma muncul dengan perut kebawah yang tertutup handuk, tangannya juga masih asik mengeringkan rambutnya dengan handuk yang lain

“Nah kebetulan kau udah mandi! Jalan yuuk!”

“Kemana? ngapain tumben amat sabtu pagi pagi gini ngajak jalan?”

“Udah…. ikut aja yayayaya… 5 menit aku ke sana. Kalo nggak buru pakai baju aku seret! byeee”

“Oiiiiiiii…”. terlambat karena Sou sudah menutup jendela dan gorden kamarnya.

“Mau kemana sih anak itu udah ngerusuh gini, ganggu orang mau tidur males malesan aja”batin Fuma.

Belum genap 5 menit, pintu kamar Fuma sudah kembali dibuat berisik dengan ketukan keras dan teriakan khas dari orang yang sangat tak asing baginya

“Iyee berisik!”. Fuma tertegun melihat Sou yang jarang tampil rapi dan manis seperti hari ini.

Setelan celana coklat muda, kemeja warna putih tulang dan jaket coklat yang sering ia pakai juga, belum lagi topi yang menghiasi kepalanya.

“Udah ayooo…”

“Bentar belum pake sunblock nih. Emang mau kemana sih…”

Sou masuk kamar Fuma sambil duduk di kasur ia memperlihatkan pesan yang ia terima semalam.

Fuma mengangguk saja membacanya

“Huffff… jadi aku nemenin adik manisku ngedate ceritanya nih? jadi obat nyamuk dooong, nasib jadi oniichan banget nih”

“Tenaang!! musuh bebuyutanmu juga ikut kok hahahaha”

“wait… jangan bilang si Misaki Misaki siapa yang nyeremin itu ikut? errrr gausah ikut yaa akuuu?”

“Iiih gamau tauuu pokoknya ikut ayooo!”

.

Sou berkali kali melafalkan chantnya saat mendengar Hikari dan Misaki bernyanyi. Sudah lebih heboh daripada menonton idol wanita memenuhi panggung sambil menyebar senyum atau berjabat tangan 10 detik dengan mereka bagi Sou. Fuma? Jangan ditanya. Kalau tidak demi menyenangkan hati seorang Matsushima Sou dia tidak akan ikut ke acara hari ini. Mungkin semua keluh kesahnya bisa dilihat di akun twitternya @KiFumasyalala992784563 itu.

“Nih, Sou chan sekarang nyanyi… aku ke toilet dulu yaaa… jangan kabur!”. Sou membalas dengan senyuman. Misaki mengikuti Hikari dibelakangnya.

Sou sibuk memilah lagu apa dan siapa yang akan dinyanyikan, sampai ia sadar ia tingal sendirian di ruangan.

.

“Udahah Hikari, kamu ngapain sih ngasih harapan dia juga? biar kedokmu nggak kebongkar? kamu nggak begitupun juga ngga akan ada yang tau koook”

“Tapi Michan, kamu tau kan.. aku suka kelepasan kalo lagi sama kamu, makannya aku cari kedok sebanyak mungkin yaaa biar kamu juga aman”

Fuma merasa curiga dengan pembicaraan Misaki dan Hikari sepanjang perjalanan sampai tiba tiba kecurigaannya ternyata benar! Semua info yang ia dapatkan dan cari tahu nampak begitu jelas dan nyata i depan matanya.

Masalahnya, bagaimana Fuma harus menunjukkan semua bukti itu ke Sou? Foto? Ah Sou bahkan lebih pintar mengedit foto, jadi ia pasti berfikir itu foto editan. Bawa korban lain? Bisa dikira ia sendiri yang suka dengan Hikari.

.

“gonna tiga take me take me higher  michi o kiri hiraite yuku

wanna take you Baby take me higher tachi domatterarenai…..” 

Sou mengentikan nyanyiannya melihat Fuma masuk kembali ke ruangan tapi dua gadis cantik lain belom ada yang kembali.

“Dari mana sih?” alunan musik tanpa vokal itu dibiarkan begitu saja. Fuma terdiam, hanya tersenyum sambil mengacak rambut Sou. 

“Udah lanjutin aja nyanyinyaaa”, kali ini pipi Sou yang jadi korban. Sambil memilah lagu yang dinyanyikan, masuklah dua gadis itu. 

“Gomenn lama… Sou kun ayooo kita duet…”. Sou mengangguk, merebut remot untuk memilih lagu dari Fuma. Fuma hanya diam saja. Tatapannya tajam ke arah Hikari sambil menebak apa yang mungkin akan ia lakukan pada Sou. 

Dilain pihak, rupanya Misaki juga mengamati Fuma diam-diam. 

“Kaliam mau makan malam apa?” Sou bertanya sambil berjalan pelan keluar dari temapt karaoke. 

“Apa aja deeeh. Yang rekomen apaan Sou?” jawab Hikari 

“Hikari inget diet gula. Inget kata dokter kemaren. Dan kalo sampe kejadian lagi aku ga akan menolongmu kali ini yaaa”, Misaki menimpuk kepala Hikari.

“Eh Sou, kita kan amsih punya kupon diskonan kedai monjayaki punya Kouchi san. Mau kesana?” Kali ini giliran Fuma yang merangkul pundak Sou. Rupanya Fuma mulai menangkap sinyal kalau Misaki mulai curiga dengannya. 

Kedai Monjayaki Kouchi san memang cukup terkenal. Dengan harga yang murah serta isian yang banyak membuat kedai ini selalu laris setiap jam, mulai dari anak sekolah, kuliahan, sampai tak jarang orang pacaran mampir disini. Kouchi san juga hafal dengan Fuma dan Sou karena sejak SMP setidaknya sebulan beberapa kali mereka selalu mampir. Semua menu sudah dicoba dan Kouchi san sangat hapal menu apa favorit mereka. 

“Menu biasanya?” tanya salah satu staff Kouchi san. Yaaah di hari sabtu memang kedai cukup rame sehingga kini jarang mereka bisa bertemu langsung dengan Kouchi san. 

“Aku mau tuna dan keju. Michan kau mau pesan lain atau ini saja?” Misaki menggeleng untuk jawabannya ke Hikari. 

Sou menunjukkan teknik terbaiknya memasak monjayaki, membuat Hikari beberapa kali ber-waah sambil tepuk tangan. Fuma masih asik dengan repo acara butai di twitternya. Misaki asik memperhetikan tingkah Hikari dan Sou dalam diamnya. 

Selesai makan, nampaknya waktu mereka tak cukup cepat untuk pulang sebelum hujan. Keempatnya berteduh ke sebuah toko 24jam untuk membeli payung. Yaah efek mereka sama-sama mengabaikan ramalan cuaca pembawa cuaca terkenal Abe Aran yang mengatakan malam hari ini akan hujan. 

“Jadi, payungnya tinggal satu? gimana?” Fuma bertanya. Memang Sou hanya mengajaknya masuk dan membiarkan 2 gadis itu diluar. Jahat memang. 

“Udah buat mereka aja. Gapapa kan Fu? Maaf yaaa aku ngajak kamu tapi malah jadi gini”, sambil membayar payungnya di kasir. 

“Gapapa… udah nasib onichan begini deh…”Jawabnya pasrah. 

Keduanya keluar toko. 

Fuma menutup mata Sou. Jantungnya berdetak keras. Sepertinya terlambat. 

Payung yang dibawa Sou jatuh. 

Oke, benar terlambat. 

Dengan senyum yang dipaksa, Sou mengambil payungnya dan menyerahkan pada Hikari. 

“Bawalah, jika tidak kalian akan kehujanan. Kbari jika sudah sampai rumah yaaa. Michan, jaga Hikari chan yaaa… byeeee”

Dengan langkah cepat Sou menarik tangan Fuma menerobos hujan yang semakin lebat. 

Meski suara gemericik hujan memenuhi gendang telinganya, Fuma yakin betul ia mendengar suara degupan jantung Sou yang berdetak cepat, juga samar terdengar suara isakan. 

Fuma menarik tangan Sou. Ditengah hujan yang masih lebat, ia memeluk erat Sou. Kali ini terdengar jelas kalau Sou memang sedang menangis. 

Suara isakannya, juga cengkraman tangan Sou ke balik bajunya yang mengeras. Fuma tak bisa berkomentar, hanya belaian lembut ke kepala Sou-lah yang coba ia lakukan. 

.

“Fuchan… kenapa kita kesini?” Sou masih lemas. Fuma mengeringkan rambutnya dengan handuk yang sudah disediakan

“Gomen… uangku nggak cukup banyak buat naik taxi jadi yaa daripada kita berdua sama sama kedinginan yaudah mampir sini aja…”

“Mandi yuuuk…”

“EEEEEEEEEEEEEEEEEEEH?????” Fuma Kaget mendengar ajakan Sou

“Kenapa? Kan kita biasa mandi bareng dari kecil?”

“Tapi kan kita udah gede Sou…”

“Terus?” belum sempat Fuma menjawab, Sou sudah menariknya ke kamar mandi. 

Air hangat sudah memenuhi bathup. Keduanya memasuki genangan air hangat itu. Fuma memijat rambut Sou yang sudah dipenuhi sampoo. Sambil bermain air, Sou terus bertanya kenapa Hikari melakukan itu. Kenapa rasanya hanya dia yang bodoh dan tak tahu apapun. 

Fuma menjawab penuh kesabaran, masih asik memijit kepala Sou dan sesekali membilas badan kecil di depannya itu. 

***

Kikuchi Fuma menyipitkan matanya. Tak salah lagi, gadis berkepang dua yang ia lihat itu adalah ito Hikari, gadis yang belakangan selalu menjadi topik pembicaraan dari seorang Matsushima sou. 

Beberapa hari sebelumnya ia merasa melihat seorang Ito Hikari juga berjalan bersama Nakajima Kento, tapi kali ini kenapa ia melihat bersama Marius Yo, pria blesteran Jepang Jerman yang sedang in karena menjadi model dadakan majalah terkenal. 

Senyuman dan suara itu, tak salah lagi, batinnya. Bak detektive terkenal, Fuma mengikuti saja pasangan Hikari-Marius itu. sampai akhirnya ia menemukan momen Hikari sendiri. 

“Oiiii…” Fuma menarik tangan Hikari 

“Eh? Kikuchi kun”

“Apa yang kau lakukan di sini..”

“Bukan urusanmu. Maaf permisi, Marius menungguku”, Hiari sambil melepas paksa tangan Fuma.

Fuma membiarkannya pergi begitu saja. Tapi ia yakin mendapatkan suatu kode yang bisa dia pecahkan perlahan dan menyelamatkan Sou sebelum terjebak lebih dalam. 

Fuma berjalan sendiri. tapi pandangan Hikari dan Marius yang berjalan bersama masih saja mengganggunya. Bagaimana bisa kedua orang tersebut berjalan tak jauh dari dirinya yang memang sedang ingin berjalan sendiri. 

.

“HAAAAH? KAU SUDAH TIDUR DENGANNYA? YANG BENAR SAJA!” Fuma histeris mendengar jawaban dari Nakajima Kento. Kento mengangguk menjelaskan kronologisnya. 

“Kau tau, dia yang memintaku untuk melakukannya…”, Fuma tercengang mendengar penjelasan dari Kento

“Iyaa.. katanya dia penasaran kalau sama pria gimana. yaudah dong yaaa karna dia lumayan cantik yaudah aku iyain aja. dan kau tau apa parahnya lagi?”lanjut Kento, Fuma menggeleng.

“Dia sama sekali tidak horny saat aku mulai menyentuh setiap bagian tubuhnya!”. Hampir saja Fuma memuncratkan kopi yang dia minum saat mendengar perkataan Kento. Bagaimana bisa ada gadis yang tidak bergairah saat mendapat sentuhan seorang Nakajima Kento, pria paling populer seantero sekolah karena ketampanan dan kepiawaiannya memainkan piano. 

“Gimana bisa? kau kali yang emang nggak bisa muasin dia?”

“Kau salah! kau tidak dengar gosip yang beredar?”

“Gosip apaan sih?”

“Gosip kalo dia lesbian?”. Fuma kembali tertegun mendengar penjelasan Kento. Yang benar saja. Mungkin ini pertama kalinya mendengar dan melihat ada seorang lesbian di dekatnya.  Tapi hanya dari cerita Nakajima Kento mana mungkin ia bisa percaya, kecuali ia punya bukti lainnya. 

***

Fuma menatap Sou yang terbarik di sebalahnya. Matanya terlihat betul sisa tangisannya. Betapa Sou masih terlihat seperti Sou kecilnya dulu dimata Fuma. Melihat Sou yang menangis saja cukup menyayat hatinya, bagaimana bisa ada makhluk yang tega membuat makhluk lucu nan imut ini menangis. 

Beberapa kali ia mengusap rambut halus Sou. membelai dari ujung rambut turun sampai ke pipi. Perlahan mengusap alis tebal Sou, membelai halus jidat itu. 

Sebuah kecupan singkat ia daratkan ke jidat Sou. sambil berharap cemas pemiliknya tidak terbangun karenanya. 

“Fu… apa yang kau ….”

Belum selesai, Fuma justru membungkam mulut mungil itu. Sou mencoba melawan, badannya meronta, tanggannya mendorong tubuh Fuma yang kini berada di atasnya. tapi tenaganya sudah terkuras saat tadi ia menangis. 

“Gomenn Sou… hanya saja…..”

Sou kembali meneteskan air matanya. Jari Fuma membilas pelan air mata Sou yang jatuh ke pipi. Tangannya yang lain membelai rambut sampai pipinya. Sou diam, menatap Fuma dalam, mulutnya sebisa mungkin coba ia sembunyikan. 

Sungguh, sesuatu yang tak pernah ia bayangkan selam 17 tahun kehidupannya bersama Fuma. 

Jika begini cara Fuma menenangkan patah hatinya, ia akan sangat memberontak. Tapi kalau ini cara fuma menunjukkan suatu perasaan lain kedirinya ia akan terima.

“Maaf…..” Fuma beranjak dari kasur, mengacak rambutnya sendiri. Ia pasti tak bisa memaafkan dirinya jika justru dia sendiri yang menyakiti Sou. 

“Sebaiknya kita pulang. Mungkin uangku cukup untuk kita pesan taxi, yaa meskipun sudah lewat tengah malam.” ucapnya. 

Sou duduk dan terdiam melihat Fuma yang makin menjauh. Sou beranjak dan memeluk Fuma dari belakang. 

“Kenapa? Kenapa kau selalu ada di dekatku? Kenapa kau selalu tau apa yang kubutuhkan?”. Fuma belum berbalik, ia merasakan pelukan Sou makin kencang, tangan Sou juga bergetar. 

Fuma berbalik, menatap Sou dan mengelus rambutnya. “Aku sudah janji dengan orang tuamu kan kalau aku akan selalu ada untukmu dan menjagamu apapun yang terjadi…”

Fuma kembali menciup bibir Sou, kali ini tak ada perlawanan dari pemiliknya. Perlahan keduanya semakin menyatu, suara hujan kembali terdengar dibalik jendela. Sou mengencangkan pelukannya ke badan Fuma. Pun Fuma semakin dalam dalam membelah mulur kecil Sou. 

Sou begitu tenang menikmati setiap belaian yang diberikan Fuma. Karena semakin menegang dan Sou begitu pasrah, Fuma menangkatnya kembali ke kasur. 

Sou menatap kedua mata Fuma. Tentu saja ada rasa takut akan apa yang akan mereka lakukan. Tapi Fuma meyakinkan kembali lewat ciuman dan belaiannya kalau semua akan baik saja. 

***

“Sou chaaan…. Sou chan……”

Fuma berteriak sambil menggoyangkan tubuh Sou. Air matanya tak berhenti mengalir melihat tubuh lemah temannya terbaring. Senyutan jantung masih stabil, air infus masih mengalir ke tubuhnya. Sudah lebih dari 5 jam Sou tak sadarkan diri. 

Kedua orang tua Sou mencoba menenangkan Fuma, tapi tetap saja tangisan tak bisa dihindarkan. 

“Kaasan… Sou chan kapan bangunnyaaa?” Tangisan Fuma sama sekali tak bisa membangunkan jiwa yang pingsan itu 

“Kaasan… Fuma aja yaaa biar Fuma aja yang pakai alat alat dokter itu… Fuma aja yang tidur biar Sou bisa tetep lari lari sama yang lain… Sou banguuun Sou….”

“Fuma kun, kamu istirahat dulu yaaa… badanmu juga luka harus diobati. Gimana nanti kalau Sou bangun dan justru marah karena kamu sakit?” ayah Sou mencoba menenangkan tapi sepertinya tidak berhasil 

“Kaasan… toosan… gomeeen… harusnya aku tidak mengajak Sou main di tepi sungai dengan anak lain…. harusnya aku melarangnya untuk ikut berenang… gomeeeennn…” tangis Fuma semakin pecah. 

“Sudahhh kau lihat kan Fuma kun, Sou tidak apa-apa.. Sou sudah ditolong tim dokter yang hebat. Yaa.. kau juga harus istirahat yaaa…”

“Kaasan…. biarkan aku menjaga Sou chan kedepannya yaaa hiks… Aku.. hiks.. Aku akan jadi laki-laki kuat.. hiks.. jadi aku bisa melindungi Sou terus…. hiks…”

Orang tua Sou tersenyum dan merangkul pria cilik itu. 

***

“Ohayooo.. sudah bangun rupanya” Fuma menyenderkan kepalanya disamping kepala Sou

“Itt….tteeee….”, Sou perlahan membuka matanya sambil masih merasa kesakitan di badannya. 

“Kau bisa bangun?”, tanya Fuma. Sou menggeleng.

“huuuft… aku harus gendong beban berat sampe rumah nih”. Fuma merapikan barang barangnya dan Sou. Perlhan ia menggendong di punggung Sou yang lebih kecil darinya. 

Jarak dari hotel ke rumah tak begitu jauh. Taxi berhenti tepat di depan rumah Sou. 

Masih menggendong Sou, Fuma masuk ke rumah yang kebetulan sepi itu. Perlahan menaiki tangga dan menuju kamar Sou. 

“Yooosh.. kita sudah sampai…” Fuma menurunkan Sou pelan ke kasurnya. Ternyata Sou tak cukup lemah seperti yang dibayangkan. Sou menarik Fuma hingga jatuh tepat disamping badannya 

“Mau ronde duaaa?” Fuma menantang. Sou menggeleng sambil tertawa 

Chuuuppp… 

Kecupan di jidat diberikan Fuma. 

Istirahat dulu… nanti kamu keenakan minta terus aku yang repot… hahahaha” sambil memejamkan mata Fuma berbaring di sebelah Sou yang tersenyum ….

***

TAMAT 🙂 

Advertisements

4 thoughts on “PROMISE

  1. Ahssvdvd)dbdjdhdfj imuuuuut yampun dek sooouuu 😍😍 mana malumalu lagi ngecengin hika, masang tampang sok tampan 🙈 terus fuma jadi cundele yampun 😂 lucu banget ngejagain adek kecil 😍
    eh terus aku kok ngga kebayang ya dek aran jadi pembawa berita cuaca 😂 *udah terlanjur kecetak image dia yg sok ganteng
    Terus terus aku ngakaks gegara komennya fuma tentang kenty “kau kali yang memang ngga bisa muasin dia” 😂 kebayang kan gimana sok gantengnya kenty selama ini kalo digituin betapa ngelesnya duh embuh ah ngakaks 😂
    DAN
    ASTAGHFIRULLAHALADZIM BEELNYA MULAI 😂😂😂 lha kok isoooooooo ngonooooo.. andnxjfhfjddj 😂😂😂 tak pikir mung relationship imut empuk2 ngono……. eh fumanya nganu, sounya mau juga dianu.. 😂😂😂 *ngesot

    Like

    1. Karna belakangan aran muncul terus lalu lalang di otak, jadi drpd masukin abebe yg emg udah jago mending dibelokin aja aran gitu, tp bayangin deh mak aran pake rambut item rapi gitu vsbzkdid bgt *salagfokus*
      Tp kan beelnya anuannya ngga keras gitu doang hahahaaha
      Makasih yaaaa udah baca btw 💜💚

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s