What if …. ?

What If ….?

Chara : Hagiya Keigo, Nagatsuma Reo (Love Tune-Johnnys jr)

Genre : boyslove NC-17

Karakter dalam tulisan ini adalah member dari grup Love Tune, Hagiya Keigo dan Nagatsuma reo yang saya pinjam untuk dinistakan.

Selamat membaca, ditunggu caciannya ❤

“Hagiya, siapkan berkas ini untuk kita meeting dengan divisi produksi 1 jam lagi yaa”, Sanada memberikan setumpuk berkas hasil inspect divisi kualitas pada garmen baru yang sedang jalan produksi.

“Siap….” jawab Hagiya Keigo singkat sambil menyiapkan komputernya untuk mulai merangkum masalah hasil inspect

“Wooow… banyak banget tumpukan berkasnya. masalah lagi yaa?” Nagatsuma Reo datang dengan kursinya yang memang beroda

Sanada menghembuskan nafasnya panjang, “Setelah Matsumura san resign dan produksi dipegang oleh Kyomoto san kualitas hasil garmennya jadi menurun. Kalau terus begini kita bisa rugi dan banyak dapat custumer claim lagi”

“HAAAAAAAAH”. Hagiya berteriak membuat dua rekan kerjanya mendekat. “Kalian harus lihat ini, ternyata masalah tidak hanya di pabrik ini. Aku baru mendapat data dari Yasui san di Indonesia kalau kualitasnya juga sedang menurun. Bagaimana ini Sanada san?”

“Kalau ini kita harus rapat darurat. Hagiya siapkan berkas tadi dalam waktu 30 menit! kita percepat.

Ketiga tim divisi kualitas bergerak cepat. Sudah menjadi tanggung jawab mereka untuk masalah standar dari pabrik garmen pakaian rumah sakit itu yang tak hanya di Jepang, tapi juga untuk cabang Indonesia dan Thailand.

30 menit persiapan materi selesai. Meeting dengan divisi Produksi, HRD, termasuk PPIC berjalan cukup alot. Butuh waktu 3 jam lebih untuk menemukan titik terang kemana arah untuk meningkatkan standar kualitas garmen mereka.

“Huaaaaaaa.. aku lapar… Hagiya makan yuuuk”, Nagatsuma melemaskan badannya setelah meeting yang panjang dan alot tadi.

“Boleh.. kau traktir yaa”

Keduanya menuju kedai oden di ujung jalan. Bukan makan banyak, namun Reo justru lebih banyak minum. Sudah 3 gelas besar beer ia habiskan sendiri.

“Hagiyaaaa… aku nggak bisa pulang.. gendong dooong” Reo yang sudah tidak sadar terlalu banyak mengigau

“Oiiii bangun.. aku ga tau rumahmu, gimana bisa bawa kamu pulang. Ayo bangun dulu”, diluar dugaan, Reo justru makin menyandarkan badannya ke dada bidang Hagiya. “Uh bau beer”. Hagiya menghembuskan nafasnya. Akan sangat tidak bertanggung jawab jika meninggalkan makhluk mabuk itu sendiri atau memanggil taxi tanpa tau dimana rumahnya.

Dengan terpaksa Hagiya memapah Reo dan membawanya pulang ke apartemennya yang tidak jauh dari tempat mereka makan.

“Yooosh… lumayan juga buat olahraga gedein otot tangan bawa orang ini”, Hagiya melemparkan Reo ke kasurnya.

“Oiiii Nagatsuma bangun oiiii….”beberapa kali tamparan yang tidak cukup keras diberikan ke pipi Reo, tapi tak ada respon. Suara dengkuran justru keluar dari badannya.

“Yaaah tidur pulas enak banget sih. Terus aku tidur di sofa gitu? Yaampun udah nyusahin orang aja. Besok kau harus bayar yaaa telinga besar!”

Baru saja Hagiya akan meninggalkan Reo untuk tidur di sofa, tapi ternyata Reo mengigau dan menarik kedua tangan hagiya dan membuatnya jatuh tepat diatas badan Reo.

“Hagiya san…. Hagiya san jangan pergi… bobok bareng aku aja..”Reo masih menggumam sambil matanya setengah terbuka.

“Nagatsuma san… lepaskan.. uh Nagatsuma san…”, Hagiya mencoba melepaskan diri namun entah kenapa pelukan Reo begitu kencang

“Hagiya…”Reo membuka matanya sepenuhnya. Aroma alkohol sisa masih terasa kuat dari mulutnya.

“Lepaskan Nagatsuma!”

Bukannya melepaskan, kali ini justru Reo dengan sadar mengubah posisi Hagiya dan dirinya. Dengan duduk tepat diatas tubuh Hagiya Reo membelai kepala Hagiya yang membuat tubuh dibawah tubuhnya itu bergidik.

“Rea selalu menunjukkan koleksi yaoinya ke aku, dan aku mau kau mencobanya denganku”, ucap Reo masih membelai-belai wajah milik Hagiya yang mulai panik

“Apaan sih, lepaskan Nagatsuma!” tangannya mencoba mendorong tubuh Reo yang duduk diatasnya.

Reo membuka sabuk yang dipakainya, erangan minta lepas dari Hagiya masih keras, tapi Reo hanya tersenyum seolah berhasil mendapatkan mainannya. Kini sabuk tadi sudah mengikat kedua tangan Hagiya diatas kepala, membuatnya makin tak bisa melayang.

“Jangan takut Hagiya-san, kalau di komik Reo mereka selalu bilang tidak akan sakit kook…”. Reo menggigit keras telinga Hagiya

“Na…gat..eh…Nagatsumaa… uh! lepas…. uh lepaskan Nagaa.. uuuuuh!” Hagiya tak berkutik, tubuhnya mengeram mendapat gigitan dari Reo, kini giliran mulutnya yang dibungkam oleh Reo.

Makin tak bisa berkutik tubuhnya sudah mulai melemah, wajahnya memerah dan Reo makin berkuasa atas tubuhnya.

.

Reo terbangun dengan kepalanya yang pusing, badannya juga terasa sangat lelah. Sepertinya semalam ia mendapat mimpi yang bahkan tak mau diingatnya sendiri.

“EEEEEEEEEEEEEEEEEHHHHHHHHHHH”

Reo kaget melihat kenyataan ia terbangun tanpa sehelai pakaianpun. Tempat tidur Hagiya juga terasa sedikit basa. Masih dengan pikiran positifnya bahwa semalam hanya mimpi, Reo cepat memakai kembali bajunya.

Kau pingsan semalam. Aku ke kantor dulu karena ada janji dengan Yasui san lewat skype pagi ini. Ini sisa sarapanku habiskanlah. Tolong bawa kunci apartemenku dan serahkan saat di kantor-Hagiya Keigo” 

Cepat cepat Reo melahap sandwich yang memang disisakan Reo untuknya. Mencuci muka seadaanya tanpa sempat pulang rumah untuk berganti baju Reo bergegas ke kantor karena sudah hampir jam masuk kantornya.

“Ohayoooo” Reo memasuki ruang divisi kualitas sambil tersenyum tanpa dosa. “Ehhh kok pada diem sih”

“Kemana saja jam segini baru dateng? kau terlambat dasar bodoh!”, Sanada mengingatkan sambil lewat saja.

“Eeeeh?” Reo mengecek jam tangannya, mencocokkan dengan jam dindin.

“EEEEEEEH??? TELAT SEJAM! SIAL”. Sadar kalau jam tangannya terlambat, reo bergegas merapikan dirinya dan bersiap dengan pekerjaannya kembali

“Terimakasih sarapannya Hagiya san… masakanmu enaaak”. Reo mendekatkan dirinya ke Hagiya, tapi Hagiya hanya mengangguk dan menjauhinya.

Pun saat jam istirahat disaat biasanya Hagiya dan Reo menghabiskan waktu bersama, ditambah Abe Aran dari divisi HRD kali ini berbeda. Hagiya lebih memilih menyendiri dan cepat kembali pada pekerjaannya dibanding bersama Reo dan Aran.

***

Air shower mengalir membasahi tubuh Hagiya dihari yang masih begitu gelap. Jam 3 pagi disaat semua mahkluk masih tidur puas, Hagiya menghabiskan sisa malamnya dibawah shower kamar mandinya. Tubuhnya sakit menerima apa yang Reo lakukan padanya.

Tak terpikirkan sebelumnya kalau Nagatsuma Reo, partner kerjanya yang sudah bersama 5 tahun ini akan melakukan hal macam itu ke tubuhnya. Tentu saja tidak siap dan tidak mau tubuhnya dimasuki benda milik orang lain yang gendernya sama dengan dirinya, secara paksa lagi.

Sudah sampai tak bisa lagi menangis Hagiya mulai menyiapkan masakan untuk sarapannya dan mungkin akan pergi lebih awal ke kantor. Masih pukul 5 pagi, bahkan matahari belum mengintip.

Hagiya memperhatikan kembali wajah Reo yang sedang tertidur. Perlahan tangannya mengelus wajah orang yang menodai tubuhnya itu. Rasanya masih tak percaya tentu saja. Sedikit terhuyung Hagiya melangkahkan kakinya keluar apartemen, melawan langit yang masih gelap menuju dunia luar yang lebih dingin dan makin menyakitkan untuk badannya.

Tubuhnya yang masih tidak seimbang mengantarnya ke toko 24 jam untuk sekedar meneguk kopi dan mengistirahatkan lagi pantatnya yang masih sangat sakit. Dengan bantuan pil pereda nyeri yang berhasil ia temukan, harapannya cepat reda sakitnya.

Berkali kali Hagiya menyangga kepalanya yang sebenarnya tidak pusing, berfikir keras apa yang akan dia lakukan bila bertemu Reo mengingat pekerjaannya sangat berkaitan dengan Reo. Bagaimana bila hubungan keduanya dikantor menjadi awkward.

Sanggahan kepalanya jatuh saat alarm dari hpnya berbunyi. Nyaris saja dia tertidur lama di tempat ini. Dengan sekuat tenaga memaksakan badannya yang masih sakit Hagiya bergegas ke kantor.

“Ohayoooo” Reo memasuki ruang divisi kualitas sambil tersenyum tanpa dosa. “Ehhh kok pada diem sih”

Sekuat tenaga dan sebiasa mungkin Hagiya ke Reo tapi tak bisa. Sejak pagi setiap melihat wajah Reo ia akan teringat kejadian menakutkan itu. Kepalanya yang pusing ditambah sedang banyaknya masalah di pabrik. Satu-satunya jalan ia akan bekerja terus menerus untuk melupakan kejadian itu.

***

Seminggu berlalu sejak kejadian di apartemen Hagiya, hubungan Hagiya dan Reo masih merenggang. Beberapa kali Sanada menanyakannya ke Hagiya tapi hanya dijawab senyuman olehnya dan selalu dialihkan ke topik pembicaraan lain. Hagiya juga makin sering menghabiskan waktunya untuk lembur dikantor dan sesering mungkin membantu Yasui menyelesaikan masalah dari pabrik Indonesia.

Sementara Reo juga lebih tidak tahu apa yang terjadi. Parahnya ia masih belum sadar kalau kejadian itu bukan mimpi tapi benar terjadi. Beberpa kali Reo mencoba bicara dengan Hagiya, tapi Hagiya selalu menjauh bila pembicaraan itu bukan tentang pekerjaan.

“Hagiya, Yasui san mengabarkan kalau masalah di Indonesia sudah cukup berkurang. Ia berterimakasih untukmu dan berjanji mentraktirmu saat dia pulang ke Jepang”, Sanada menyerahkan berkas masalah dari pabrik Indonesia yang sudah terselesaikan

“Yokattaaa… dan Kyomoto san pun sekarang sudah terbiasa dengan produksi dan bisa perlahan membaik disini”, ucap Hagiya sambil membereskan dokumennya.

“Sanada san, ada telpon untukmu dari pabrik Thailand”, reo mendadak muncul dan memberikan telepon ke Sanada. Suasana mendadak kembali awkward antara dirinya dan Reo.

“Bisa kita bicara?”Reo mengawali

“Maaf… masih ada yang harus ku kerjakan di area produksi.” Hagiya lagi lagi menghindar. Reopun mengalah. Ia tidak bisa memaksa Hagiya ditempat kerja, sekalipun ia tak tau apa yang membuat Hagiya menjauhinya.

.

Lebih dari jam lembur pabrik sudah dilewati Hagiya sendirian. Sebisa mungkin memang ia menambah jam kerjanya sendiri untuk melupakan masalah itu. Meski lebih dari dua minggu namun pikirannya selalu terbayang. Wajah Reo yang polos di tempat kerja, wajah yang ceria dan selalu bisa membawa kebahagiaan juga selalu berubah saat otaknya lengah sedikit saja.

Hagiya berjalan terhuyung ke apartemennya. Sudah pukul 11 malam dan ia belum merasa lelah sama sekali.

“Nagatsuma san…”, Langkah Hagiya terhenti melihat Reo yang tertidur dalam posisi duduk di depan pintu apartemennya. Entah sudah berapa jam pria itu disana ditengah udara yang mendingin

“Okaerinasai Hagiya…”

“Apa yang kau lakukan disini. Kau sebaiknya pulang karena sudah sangat malam dan dingin”Hagiya membantu Reo bangun dari posisinya. Tangannya Reo yang dingin dapat ia rasakan.

“Kau mau masuk?”, tawarnya. Tentu saja ia perlu berpikir ribuan kali saat akan menawarkan kalimat itu. Bagaimana jika Reo tiba tiba menyerangnya disaat dia lemah.

“Gomennasaaai!! Hontoniii gomennasaaaaaai…..” Reo membungkukkan badannya dalam. Ia sudah tidak tahu harus bicara apa lagi ke Hagiya dan sudah pasrah kalaupun seumur hidup ia dan Hagiya hanya akan berhubungan layaknya rekan kerja biasa.

“Masuklah dulu, tidak enak kalau ada yang lihat”

“Tidak sebelum kau memaafkanku atas kesalahan yang akupun tak ingat sudah lakukan padamu”. Reo masih membungkuk.

Hagiya terdiam cukup lama memproses kalimat Reo barusan.

Jadi, selama ini dia benar benar tidak ingat apa yang terjadi? dia tidak sadar apa yang dia lakukan malam itu? Dia tidak ingat bagaimana ekspresinya sendiri saat melakukan semua itu dan tertidur begitu saja setelahnya? Kalimat tanya yang terus melingkar ke kepala Hagiya.

“Cepat masuk atau kau tak akan kumaafkan”, Hagiya melunak. Perlahan Reo masuk dan duduk di kursi yang ada diruangan.

Hagiya melepas jaket dan menaruh tasnya. Mengambilkan minuman hangat untuk Reo

“Ano… Hagiya san, kau bisa ceritakan apa yang terjadi? aku benar-benar tidak ingat apa yang terjadi”, Reo memohon.

Merasa kasian dan sekalian mengeluarkan pikirannya akhirnya Hagiya putuskan untuk menanyakannya.

“Rea? Siapa?”

“Eeeeh?” Reo kaget, bagaimana Hagiya bisa tau adiknya? Rasanya selama ini ia tak pernah membahas masalah adiknya dengan siapapun. “Dia adikku. dan dia punya hobi yang.. errrr…. tidak usah dibahas yaaa”

“Fujoshi?”

Reo menelan ludah mendengar pertanyaan kedua Hagiya. Sial! Kenapa tau?

“Kau sering membaca komiknya?”

Bagai ditusuk petir dari ujung samudra, kini ia tak tau bagaimana menyembunyikannya lagi

“Nagatsuma.. apa kau….”

“Waaaaa! CUKUP!” Reo berdiri dari posisi duduknya.

“Aku memang membaca manga yaoi adikku, itupun karena paksaannya. Dan… Maafkan aku Hagiya san, setiap kali aku membaca manga manga itu entah kenapa wajahmu selalu muncul” Reo membuang wajahnya sambil menahan malu

Hagiya terdiam. Pandangannya ke tanah dan kosong. Belakangan memang tak ada wanita yang sedang dekat dengannya, tapi kenapa harus pria? kenapa harus seorang Nagatsuma Reo?

“WAAAAAAA!!!JANGAN BILANG MALAM ITU AKU MELAKUKANNYA DENGANMU!!!” Reo mendadak panik dan memegang kepala dengan dua tangannya. Membayangkannya saja sudah membuatnya malu, yaah meski hati kecilnya sebenarnya tidak menolak juga kalau mereka melakukannya. tapi mengaku di depan Hagiya? yang benar saja!

Hagiya masih tak menjawab.

“Maaaafkan aku Hagiya! kau tau waktu itu aku mabuk berat. Maaf”

Kini Hagiya makin tak tahu apa yang harus dikatakannya.

“Sabuk itu….”

Reo terkaget. Sabuk?sabuk apa?

“Sabuk itu… setidaknya kau tidak perlu sampai melakukannya. Kau bisa katakan kalau kau memang mau melakukannya?”

“HAAAAAH? APA AKU TAK SALAH DENGAR HAGIYA-SAN?”

“Ah.. air panasnya mendidih, aku harus matikan kompor”, Hagiya mencoba mengalihkan kembali pembicaraan dan meninggalkan Reo.

“Lain kali… lain kali aku akan lebih gentle saat melakukannya”Reo tiba tiba menghentikan langkah Hagiya dengan pelukan kencangnya

“Apanya yang lain kali? Tidak tidak ada lain kali!” Hagiya melepaskan pelukan Reo

“Ayolaaah …”

“Yang benar saja! Kau tau harus berapa hari aku menyembuhkan pantatku haaaah?”Hagiya berjalan meninggalkan Reo untuk mematikan kompornya. Reo mengekor dibelakangnya

“Ayolaaah… mau gantian?”

Tatapan Hagiya nampak marah.

“Kau… anak nakaaal… mau kubunuh kau dengan pisau di dapurku haaaah?”Hagiya mengatakannya sambil mendorong Reo sampai akhirnya jatuh ke sofa.

Reo yang gemas menarik Hagiya dan memberikan kecupan manis di bibirnya.

“Sebagai permintaan maafku lagi..” ucapnya sambil tersenyum

“Sudah kubilang tidak ada lain kali!” Hagiya memukul kepala Reo dengan tangannya

“Ayolaaah sedikit ajaa.. gantian posisi kook”, Reo merangkulkan tangannya ke pinggang Hagiya.

“Sini kamu!” Hagiya yang kesal menarik tangan Reo dan melemparnya ke tempat tidur. Dengan cepat ia membuka bajunya dan sudah bertelanjang dada. “Kau yang minta jangan menyesal kalau butuh waktu lama untuk sembuh!”

Ciuman cepat diberikan ke bibir Reo ditangkap dengan senang hati. Kini Hagiya sudah memainkan lidahnya. Airliurnya bercampur dengan milih Reo, sesekali keluar melalui celah mulut mereka yang terbuka.

Tangannya kanannya berpegangan dengan milik Reo, satunya bermain disekitaran tubuh Reo.

Reo melepas ciumannya dengan Hagiya, ” Ga usah buru-buru, you are top for tonight, I am your bottom”, ucapnya sambil melepas bajunya.

Hagiya tersenyum, melanjutkan eksplorasinya. giginya menggigit kecil telinga dan leher Reo membuat pemiliknya bergetar. tangannya asik berkeliaran di sekitar mulut Reo. Sampai keduanya siap kembali melakukannya dengan berganti posisi.

.

.

.

.

“Ohayo… gimana rasanya jadi bottom?”Hagiya tersenyum geli melihat wajah Reo yang setengah sadar

“Sakit tau! untung hari minggu dan libur huh!”

“makannya jadi anak jangan nakal”, Hagiya menggusap kepala Reo yang berantakan. Gigitan kecil ke leher Reo pagi ini sebagai tanda kalau Reo sudah ada yang punya dimana  tanda itu baru bisa hilang beebrapa hari kedepan.

***

TAMAT

Advertisements

One thought on “What if …. ?

  1. ya ampun Seke ya duanyanya.. ahahaha. ah Hagi emang manis ya.. ama siapa aja bisa jadi uke.
    Ini aku baca sebelah om loh dia ampe heran aku ngikik ngikik mulu. wkwk.. ada iket2an nya segala.. hahaha
    aku suka adegan d kantornya real sekali.. berasa balik ke pabrik deh. 😋
    hokutai dong diiillll.. :p

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s