Shining Stars

SHINING STARS

shining stars

Cast : Matsumura Hokuto, Jesse, Kyomoto Taiga, Tanaka Juri, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro (SixTONES)

Genre : Friendship, Romance

Story by : Hanazuki, Cover by :  my lovely mamih Dinchan

All cast under Johnnys entertainment. Semua cerita disini adalah fiksi semata dan hanya untuk kepentingan senang-senang. Selamat membaca, ditunggu caciannya ❤

 

“Jesse stop!” suara Yugo pelan sambil mendorong pelan pundak Jesse yang makin mendekat.

“Tapi cuman ini kesempatan kita Yugo,” timpal pria yang dipanggil Jesse itu

“Hokuto itu temanku juga, aku tidak bisa melakukan ini Jess…” Kouchi Yugo mencoba memalingkan wajahnya, tapi Jesse semakin mendekat

“Tapi Hokuto juga melakukannya dengan Taiga!”

“Dan kau juga mau melakukan hal yang sama denganku?”, Yugo terjatuh, badan Jesse yang lebih besar jelas berada di atasnya kini..

“Tapi…..”

sreeeeeeeek

suara pintu tenda yang terbuka mengagetkan keduanya, terlebih dengan sosok yang kini berdiri dengan tatapan yang tak bisa lagi dijelaskan keduanya.

***

“one.. two.. three.. four… one .. two…three… four….” suara lantang dari seorang Jesse lewis memandu latihan group bernama SixTONES itu. Beberapa bulan sebelum tour konser debut mereka terlaksana, latihan demi latihan terus mereka jalani. Tidak hanya latihan fisik, tapi juga latihan spiritual untuk jiwa mereka yang lebih baik.

Jesse Lewis, Matsumura Hokuto, Kyomoto Taiga, Morimoto Shintaro, Kouchi Yugo dan Tanaka Juri, setelah melewati tahun-tahun yang berat, terpisah, dan akhirnya berkumpul lagi dalam satu grup hingga pengumuman debut bersama. Bak cerita dongeng, keenamnya saling merasa ada benang merah yang terhubung diantara jari kelingking mereka.

“huaaaa tsukareta …” Yugo mengambil handuk dan botol minumnya, menegak langsung sampai tersisa seperempat bagian saja.

“Dasar ojisan lemah haha”, Shintaro menimpal

“enak aja.. dasar gorila”, Yugo mendekat dan mengalungkan handuknya ke leher Shintaro membuat yang lainnya tertawa

“Sibuk amat Ga? fans yang mana lagi ini?” Juri yang sedari tadi hanya menatap akhirnya ambil bicara

“Oh enggak, ini senpai di butai kemarin, dia ngajakin dinner sih”, jawab Taiga masih sambil menatap ponselnya

“Aktor senior terkenal itu? terus kamu mau dateng?”

“Hmmm mungkin, dia bilang aku boleh ajak temanku kalo aku mau. kamu mau ikut?”

“Ah.. kalau kau memaksa boleh deeeh tapi aku bilang mamah dulu yaaa”, Juri membalas dengan senyum sambil mencari ponselnya

“Baiklah semua, aku pamit dulu yaa..”, Hokuto yang tiba tiba sudah rapi kembali menjadi orang pertama yang berpamitan.

“Eh? mau kemana Hok?” Jesse menaruh minuman energinya

“Aku ada tugas kuliah. Byee… “

“Eh tunggu…”, Jesse cepat membereskan pakaian dan mengikuti Hokuto di belakang.

“Mereka akrab yaa…” ucap Yugo pelan

“Lah, bukannya dari awal kau yang dekat dengan Hokuto ya ojisan?”, timpal Shintaro

“Tapi gara-gara mereka dipaksa bersama beberapa tahun lalu kayaknya Jesse ga bisa lepas dari Hokuto deh,” Juri tiba tiba masuk.

Taiga tak ikut berkomentar, matanya masih mengikuti langkah Hokuto dan Jesse yang berlalu.

.

“Oy… Hokuto pelan dong jalannya…”, Jesse memanggil dari belakang, Hokuto masih diam, beberapa kali nampak membenarkan posisi tasnya.

Hal yang sama berjalan hampir setiap hari, tak jarang Jesse sampai menginap di rumah Hokuto dan baru pulang pagi-pagi. Meski yang Jesse lakukan hanya duduk dan melihat Hokuto mengerjakan tugasnya, sesekali memainkan keyboard kecil milik Hokuto.

“Kamu nggak bosen ya belajar terus gitu?” Jesse tiba tiba menempelkan kepalanya di meja belajar Hokuto. Hokuto hanya menggeleng

“Haaaaaaaah…. lagi lagi aku di diemin”, Jesse menyangga kepalanya sambil menatap Hokuto. Senyumnya mengembang kecil melihat warna wajah Hokuto yang berubah

“Arrrkh… Hokuto mengacak rambutnya sendiri, menempelkan telapak tangannya menutupi wajahnya. Alis Jesse terangkat melihat Hokuto yang berekspresi begitu manis menurutnya.

Hokuto pelan menarik dagu Jesse dan menciumnya pelan. Jesse membalas perlahan dan membiarkan Hokuto menikmatinya malam ini.

***

“Jadi, bagaimana SixTONES sekarang?”, Shirota Yuu membuka percakapan sambil memakan sushi nya

Taiga hanya tersenyum sambil asik mengunyah sushi yang ada di depan mejanya. Sementara Juri yang sengaja ikut Taiga sok acuh sendiri.

“Oh ya senpai, kenalkan ini Tanaka Juri”

“Oh Juri yang biasa kau ceritakan itu yaa….ouch!”, belum selesai kalimatnya, tapi Taiga seperti memberi kode tertentu untuk tidak dilanjutkan.

Juri nampak bingung. Biasa diceritakan? apa maksudnya?

Ketiganya asik saling bercerita, tentu saja Juri yang merasa sudah dikenalkan sok asik dengan memasukkan dirinya kedalam pembicaraan Taiga dan senpainya itu.

“Mata naa senpai.. terimakasih traktirannya lagi hehehe”, Taiga berpamitan dengan senpainya, dan masih bersama Juri.

“Jadi, kau tidak akan pulang lagi hari ini?” Juri mengambil kunci mobil yang dari tadi hanya dipegang Taiga.

“Nginep rumahmu yaa?” Taiga kembali mengeluarkan jurus puppy eyes andalannya yang tentu saja langsung meluluh lantahkan hati  Juri.

Juri mengangguk, masuk dan membawa mobil Taiga. Kebetulan hari ini rumahnya kosong. Orang tuanya sedang bulan madu kesekian kalinya ke Hawai, dua kakaknya sama-sama sedang live tour entah sampai dikota mana, adiknya sedang ikut perkemahan internasional.

“Juriiii… mau minum doong…”, Taiga menjatuhkan badannya ke sofa begitu sampai di rumah Juri.

“Enak aja, emangnya kau tuan putri disini?”

“Memang kan! Dan kau adalah pesuruhku hahaha!” Taiga tertawa, matanya menatap ke langit langit ruang tamu keluarga Tanaka.

“Tehmu sudah siap tuan putri…” Juri mengagetkan Taiga dengan mendadak muncul di atas Taiga.

Belum sempat bergerak, keduanya mematung dalam tatapan masing-masing.

“Ah! Aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi,” Juri tersadar dan berjalan meninggalkan Taiga menuju kamar mandi untuk memanaskan air.

“Aaaaaaaaaarkh apa yang ku lakukan! Hampir saja ketahuan kan…” Juri menatap air yang mengalir deras ke bathup. Derasnya suara air dan lamunannya membuatnya tak sadar kalau sedari tadi Taiga sudah masuk dan berdiri di belakangnya.

“Taiga… sejak kaa….”

Taiga tak menjawab, ia menjatuhkan diri memeluk Juri yang masih kaget melihatnya. Juri kaget dan hanya bisa terdiam. Takut tapi mau, tangannya menggapai punggung Taiga. Mengelus pelan punggung pria kurus itu. Keduanya masih terdiam, air bak masih mengucur deras diikuti asap tanda air panas yang mulai mengepul.

Taiga menarik badan Juri yang masih berpakaian lengkap masuk ke dalam bak mandi. Juri yang terduduk tak percaya dengan yang ada di hadapannya. Tidak ada bau alcohol dari Taiga, Juri benar-benar ingat kalau Taiga sama sekali tak minum alcohol tadi. Lalu kenapa?

“Taiga….kau mabuk? Tanya Juri. Taiga menggeleng.

Pikiran Juri semakin melayang kala Taiga perlahan mendekatkan dirinya ke tubuh Juri. Air yang masih mengalir panas menyelimuti tubuh keduanya yang perlahan mulai memanas. Juri mengikuti alunan yang dilantunkan Taiga. Sesekali tatapan matanya menuju Taiga yang asik memainkan tubuhnya. Berharap tak berharap kalau yang di depannya hanya ilusi dan mungkin sebentar lagi dia akan segera terbangun.

***

“Eh udah tau belom besok kita pemotretan majalah lagi nih…”, Shintaro  menunjukkan pesan dari fotografer mahalah yang besok akan memotret mereka.

“loh udah jadwal majalah lagi ya? Kayaknya baru kemaren hahaha” Yugomenimpal

“Aduuuh ojisan sih udah tua pikun kaan….”, Jesse mendekat dan mengacak rambut Kouchi Yugo. Entah sejak kapan keduanya menjadi dekat. Bahkan Yugo terang-terangan mengaku kalau dia dan Jesse sering pergi ke onsen bersama.

Hokuto menatap keduanya dalam. Beruntung selama ini tatapan matanya selalu begitu sampai tak mungkin ada satupun yang curiga, kecuali Taiga. Iya Kyomoto Taiga juga diam diam mengamatinya yang sedang menatpa Jesse dan Yugo yang sedang asik bercanda.

“Oiiii… kalau ngeliatin orang biasa aja dooong”, Juri menempelkan jus jeruk kalengan dingin ke pipi Taiga.

Taiga menatap Juri penuh kode. “Iyee iyee tau aku diem kook”, senyuman pahit keluar dari bibir Juri. Tentu saja dia harus menyembunyikan lagi apa yang ada di hatinya setelah melihat Taiga begitu dalam menatap Hokuto.

Hari pemotretan…

“Yak, jadi tema pemotretan kali ini adalah destiny dan kalian akan diberi property seperti yang bisa kalian lihat. Disitu ada tiga jenis tali-talian, yang pertama ada rantai, ada benang tapi tebal berwarna merah dan tali seperti tanaman merambat lengkap dengan daun dan bunga. Kalian nanti bisa pilih sendiri mana yang akan kalian gunakan. Karena tali hanya ada 3 maka akan dibuat perpasangan secara bergantian yaa. Selain foto dari kamera saya, tiap member akan diberi kamera untuk mengambil momen dibalik pemotretan kali ini. Ada pertanyaan sebelum kita mulai?”, Sakurai Keito, fotografer dari majalah yang biasa memotret SixTONES sejak mereka belum debut menjelaskan sebelum pemotretan dimulai.

Member berganti pakaian yang sudah dijelaskan. Tema destiny dengan kostum yang fress namun tetap cool bagi mereka.

Bergantian secara berpasangan mulai pemotretan. Dari Hokuto dan Taiga yang memilih rantai untuk properti mereka.

Jantung Hokuto berdegup tak beraturan saat badan Taiga yang terbuka menyentuh kulitnya. Ikatan rantai yang kencang justru membuat Taiga makin menarik. Tak mau kalah Hokuto mengeluarkan ekspresinya yang selalu dipuja fotografer.

Jesse yang sedang menyiapkan diri dengan tali merahnya bersama Yugo diam sesaat. Senyumnya tak keluar. Yugotau itu. Tapi ia tak mau banyak komentar.

Juri mengarahkan lensa kameranya. Ada rasa sesak saat ia menekan tombol shutter berkali kali. Tapi ia tetap tersenyum. Ia sadar ia harus profesional saat ini.

“Arigatou Keito san”, ucap Taiga diikuti anggukan dari Hokuto

“Kau menikmati sekali yaa diikat pakai rantai gitu?” Ucap Hokuto sambil melepas ikatan yang tersisa di badannya

“Ah kau juga. Baru kali ini aku melihat seorang Matsumura Hokuto begitu menjiwai pemotretan”, balasnya

“Heh jangan pacaran terus. Nih kamera jatah kalian. Tuh Jesse dan Yugo udah mau mulai”, Shintaro mengoper kameranya.

“Yugo, kau ingat yang kemarin kan? Keluarkan lagi ekspresi itu kali ini”  Jesse berbisik di telinga Yugo

“Dih, nggak. Malu lah Jess nanti semua orang tau” bisiknya

Juri masih menerawang langit langit studii. Mengumpulkan kuatannya untuk kemungkinan terburuk yang akan terjadi kedepannya.

Pemotretan selesai. Keenamnya berpamitan dan bersama menuju kedai masakan italia. Jesse bilang kali ini traktirannya karna setelah ulang tahunnya ia belum sempat mentraktir member SixTONES.

“Jadi…. bagaimana rencana kita kedepannya?”Shintaro membuka percakapan

“Takoyaki! Aku mau makan takoyaki saat di Osaka Nanti. Dan juga kita bisa ajak teman teman Kansai Junior seperti waktu itu”, Hokuto pertama menyampaikan idenya

“Ah ide bagus! Tapi aku mau melihat geisha geisha cantik saat di Kyoto nanti hehe”,Juri malu malu menyebut geisha sambil melirik Taiga yang nyatanya biasa saja.

“Onsen!”

“Ojisan, ga ada tempat lain?” Jesse menyerobot jawaban Yugo yang selalu hanya terbayang onsen.

“Abis kan aku pernah bilang ke kalian kalau aku akan jadi orang Jepang yang mengunjungi semua onsen yang ada di negara ini! Ahaha”

Asik bercanda makanan pesanan mereka datang. 1 loyang besar pizza dengan toping papperoni, keju, paprica dan tomat, 1 lopyang besar pizza dengan toping keju, 2 porsi lasagna, 2 porsi Fettuccine Alfredo, dan 2 porsi Risotto. Sepertinya mereka benar benar berniat membuat Jesse miskin setelah ini.

Tak perlu waktu lama untuk menghabiskan semuanya, kini perut mereka sudah penuh. Ditutup dengan masing masing 2 scop gelato benar benar membuat malam mereka jadi sempurna.

“Hoo Jesse terimakasih makananya malam ini hihi” Juri merangkul pundak temannya itu sambil mereka jalan.

“Seepertinya kita harus istirahat cepat malam ini. Ingatkan besok kita akan berkemah di alam?” Shintaro mengingatkan

“Eeeeeh? Besoook? Bukan minggu depan? Mati!”Taiga berteriak dan mengagetkan member lainnya.

“Jangan bilang kau belum nyiapin apa apa yaaa?” Juri bertanya

Taiga tertawa kecil sambil menggaruk rambut pendeknya, “Hokuto ayo bantu aku buat persiapannya”, Taiga menarik tangan Hokuto. Juri, dan Jesse melihat dengan penuh kecurigaan. Hokuto yang bingung pasrah saja tangannya ditarik pria yang badannya lebih kecil dari dirinya itu.

“Udah biasa aja doong pandangannya”, Yugo menepuk pundak Jesse, membuat pemilknya itu sadar dan menggelengkan kepala

“Udaaaah ayoo kita pulang… sampai bertemu besok….” Shintaro yang memang paling muda diantara yang lain merangkul kakak-kakaknya sambil berjalan.

.

.

“Iga… pelan woooy…”Hokuto berhenti dan menarik kembali tangan Taiga yang menariknya dari tadi. Sudah cukup jauh mereka berdua berlari dari teman temannya, dan sudah cukup dekat dengan rumah Taiga. “Kau sengaja? Bukannya kemarin kau bilang sudah sangat siap dan menantikan acara besok?” tambahnya sambil mengatur nafas

“Sengaja hahahaha” Taiga kini berjalan pelan bersebelahan dengan Hokuto. ” Ayo masuk dulu”, tangannya kembali menarik tangan Hokuto memasuki rumahnya yang selalu sepi.

Hokuto mengikuti Taiga memasuki kamarnya. Kamar yang luas dan sangat bersih. Hokuto tak asing dengan kamar itu, tapi setiap kali memasuki dan melihat foto Taiga bersama SixTONES dari masa ke masa membuat hatinya bahagia.

Hokuto duduk di sofa samping tempat tidur Taiga, menikmati ukiran indah di langit langit kamar serta warna kuning yang memancar dari lampu kecil disampingnya. Aroma vanilla merelekskan tubuhnya.

“Ayo kita lakukan”, ucapan Taiga yang tiba tiba dan diikuti tubuh Taiga yang sudah berada di atasnya membuat Hokuto kaget.

“Tapi besok kita akan kelelahan kalau melakukannya sekarang” Hokuto mencoba menghentikan namun tangan Taiga sudah masuk perlahan ke badannya.

“Taiga…. berhent….” Hokuto yang mau menyerah dibuat kewalahan dengan Taiga yang tiba tiba mengganas. Hokuto melepas paksa ciuman Taiga, “Apa yang terjadi denganmu.. kau tak seperti biasanya”

Taiga diam, duduk diatas badan Hokuto yang masih terbaring di sofa. Hokuto sedikit menarik pundak Taiga, membelai pelan rambut Taiga yang seperti landak itu.

“Kalau kau bicara baik-baik aku akan dengarkan…”

***

Rombongan sixTONES beserta manager sudah tiba di hutan tempat mereka melakukan campt. terbagi dalam 2 tenda untuk masing-masingnya 3 orang. Sementara Ikkei-san, manager mereka bilang akan bergabung dengan salah satu tendanya.

Langit musim panas yang cerah, hawa alam dan nyanyian burung disekitar camp jelas akan membuat mereka lebih rileks. Belum lagi gemericik air sungai dan ikan-ikan yang berenang disungai siap ditangkap kapanpun mereka mau.

“Ternyata bikin tenda itu capek yaa…” Yugo mengelap keringatnya yang berjatuhan

“Woooy ojisan lemah amat sih hahaha.. baru bangun tenda, gimana bangun masa depan? bangun keluarga?” timpal Shintaro

“Dih anak kecil gausah sok dewasa deh..” Juri menambahi

“Aku akan mencari kayu bakar untuk masak nanti….” Taiga berpamitan.

“Aku ikut, mana mungkin seorang Kyomoto Taiga berkeliaran sendiri di hutan, tambah Hokuto

“Demi keamanan kalian aku akan ikut, Jesse kuserahkan anak-anak kecil ini padamu yaa..” Ikei menengahi

“ROGER!” jawab Jesse was-was. Sebenarnya diapun ingin ikut Taiga dan Hokuto, sambil sesekali mengawasi apa yang terjadi antara keduanya. Tapi ternyata harapannya pupus.

Ikkei san, Hokuto dan Taiga mencari kayu untuk masak dan api unggun. Yugo dan Juri menyiapkan sayur untuk persiapan memasak. Shintaro dan Jesse mencari ikan di sungai dekat tenda untuk dimasak juga.

“Ikkei san, kok udah pulang?” Yugo bertanya saat tiba tiba melihat Ikkei san tiba

“Handphone ku tertinggal. Aku sudah janji dengan atasan untuk selalu bawa handphone”

“Ikkei san?” Jesse datang membawa beberapa ikan juga ikut kaget. Langsung saja meyerahkan ikannya ke Shintaro dan lari masuk ke hutan. Member lainnya hanya diam sambil bertanya masing masing.

.

“Hokuto stooop nanti tiba-tiba Ikkei san datang lagi”, Taiga mendorong Hokuto yang sudah menyudutkannya ke pohon besar ditengah hutan.

“ssst… salah siapa semalem mulai duluan?”

.

.

Api unggun menyala besar ditengah keenam member dan Ikkei san. Suara gitar mengalun dari petikan jemari Taiga diiringi nyanyian member bergantian. Sesekali semuanya tertawa karena ada misslyric atau sebagainya.

Bintang makin bersinar, angin yang mengalir membuat kulit makin dingin. Tawa keenamnya masih mengalun sambil makin mendekatkan diri di api unggun.

Taiga masih asik memainkan gitarnya diikuti Juri yang bernyanyi lagu lagu barat dengan bahasa Inggris yang pas-pasang. Yugo dan Jesse sudah pamit dahulu utuk tidur, katanya persiapan untuk besok. Hokuto tak lepas dari buku bacaannya meski hanya ditemani api unggun. Shintaro bersama Ikkei san merancang gerakan sederhana untuk persiapan SixTONES kedepannya.

“Hoku mana?” Shintaro tiba tiba saja sadar kalau ada satu orang lagi yang hilang.

“Tauk deh, pipis mungkin?”, Juri menjawab namun kembali melanjutkan nanyiannya.

Tiba tiba saja Hokuto muncul dan minta bertukar tenda dengan Taiga. Taiga ikut saja dan membiarkan Hokuto masuk duluan ke tenda yang harusnya jadi tempatnya.

“Hokuto !” Ikkei san mengejar dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi Hokuto hanya tersenyum sambil memaksa Ikkei mempercayainya kalau semua baik saja.

Hari kedua campt tidak berjalan mulus. Tidak ada timbal balik positf dari masing masing member. Semua hanya melakukan hal yang memang diminta oleh Ikkei san, sangat berlawanan dengan keseharian mereka yang berantakan dan semaunya sendiri tapi hasilnya bagus.

Shintaro sempat cemas, namun ia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk saat ini. kata kunci dan bukti apapun tak ada yang ia punyai.

Sudah beberapa hari sejak mereka kembali ke Tokyo namun suasanya masih sama. Kali ini giliran Juri dan Taiga juga ikut mengeluarkan aura yang sangat mengerikan. Janji taiga membuat lagu dan Juri membuat lirikpun sepertinya hanya wacana yang entah kapan.

Desas-desus grup yang sedang tak akur sampai juga di junior yang akan menjadi backdancer mereka di konser nanti. Ikkei san juga mulai panik. Johnny Kitagawa sudah tak mau tau, tiket konser, goodies, promosi, sponsor semua sudah siap, bisa rugi kalau konser ini dibatalkan.

“Shintaro kemana hari ini?”, Ikkei masuk ruangan latihan dan melihat Shintaro yang tidak ada ditempat, padahal biasanya dia yang paling rajin.

“Entahlah, dia juga tak ada kabar di grup nih” jawab Yugo. Jesse mengangguk mengiyakan jawaban Yugo.

brrrrb brrrrb

Hokuo mengambil handphonenya yang bergetar. sebuah videocall dari Shintaro masuk.

“Oy Shin kemanaa buruan kita mau latihan”, dari seberang sana Shintaro hanya diam, dengan background yang nampak asing bagi semuanya shintaro hanya senyum. Hokuto pun tak bisa banyak berkata-kata.

“Kau sedang bersama yang lain kan Hok?” akhirnya Shintaro mulai bicara, sambil memperlihatkan backgroundnya Shintaro melanjutkan kata-katanya, “Aku ada di atap gedung kita latihan, kalian tau… aku mulai lelah dengan grup kita yang lebih parah daripada sebelum debut. Mungkin hari ini dan lewat videocall ini aku akan berpamitan untuk selamanya ke kalian….”

“Oyyy Shin.. jangan mati dulu shiiin…” Hokuto mulai keluar ruangan sambil berlari berharap Shintaro hanya main-main dengan kalimatnya.

Yang benar saja! debut berenam adalah impian mereka bersama sejak dipertemukan berenam, dan sekarang setelah debut keenamnya tidak bisa bekerja secara profesional?

Juri, Jesse, Taiga, Yugo, Ikkei san berlari bersama dibelakang Hokuto.  Semuanya panik tentu saja.

Keenamnya mengatur nafas sambil melihat Shintaro yang justru asik berjalan pelan di pinggir atap melawan hembusan angin yang cukup kencang.

“Shintaroooo!!!”teriak keenamnya bersamaan

“Oh haiii kalian datang yaa.. wah ada Ikkei san, hallo Ikkei san terimakasih yaa sudah menjaga kami selama ini, maaf kalau aku yang paling merepotkanmu”

“Shin, kita bisa bicara baik baik kan?” Juri pelan pelan maju, “Kau bisa ceritakan ke kami kan seperti sebelumnya?”, lanjutnya

“Cerita? hahaha yang benar saja! sejak kejadian yang entah apa aku tak tahu di saat kita camp semua berubah dan rasanya aku ingin teriak ke Johnny san kalau lebih baik kita tidak usah dibikin satu grup saja hahahahaha”, jawab Shintaro sambil mengeluarkan senyuman khasnya

Hokuto tiba tiba mendekat dan menampar pipi Shintaro!

“Kau lupa saat apa yang terjadi dengan kakakmu hah? kau lupa bagaimana kau meluapkan semuanya padaku saat itu? lalu sekarang kau akan bunuh diri? bagaimana keluargamu akan menghadapi masyarakat nantinya? kau pikir kalau kau mati kita berlima bisa bubar gitu aja haaah?”Teriak Hokuto tepat di depan wajah Shintaro.

Shintar diam sambil menarap ke langit dengan beberapa gumpalan awan yang mulai datang

“oi…”, Juri datang menyerahkan kertas lagu yang dibuatnya. “Kau mau mati dan meninggalkan lagu yang sudah ku buat? yaudah mati aja sana!” lalu kembali meninggalkan Shintaro

Yugo menarik pelan tangan Shintaro menjauh dari tepian gedung yang berbahaya itu, “nee, Shin katakan saja semuanya seperti saat kita bersama. kau kan gorila kesayangan kita semua, adik kita yang berharga. yaaa”

“Enak aja dasar ojisan!”

“yaak baiklah kita mulai latian lagi ayooo” Ikkei mendekat ke keenamnya, berharap keenamnya kembali mereda dan bisa siap untuk tour konsernya seminggu lagi.

***

Gemerlap lampu panggung dan lightstick berbentuk diamond dengan enam warna memenuhi semua tempat di Tokyo Dome, venue terakhir live tour debut kosner SixTONES. Merah, Pink, Biru, Hijau, Kuning dan putih yang menggantikan warna hitam, juga kipas kipas bergambar wajah tiap member mengiringi teriakan histeris fans dari setiap penjuru Tokyo Dome.

“Yosh gais, ini perform terakhir kalian di rangkaian tour debut kalian. Kalau perform kalian masih tidak bisa menyatu seperti konser sebelumnya aku akan minta ke JOhnny san untuk membubarkan SixTONES saja. dan ingat, dikonser terakhir ini lagu yang kalian buat bersama akan kalian tampilkan. Jangan mengecewakan penonton kalian. Rumor kalian mungkin sudah menyebar luas dan fans kalian sudah berebut tiket sampai kita mengadakan live viewing di beberapa tempat untuk penutupan konser ini jadi kumohon dengan sangat untuk kalian bisa mengendalikan ego kalian demi kepuasan fans kali ini”, Ikkei membuka meeting terakhir mereka sebelum konser dimulai.

Ketujuhnya membentuk lingkaran dengan perasaannya masing-masing. Rumor keretakan ikatan antar member masih menyebar dan banyak fans yang khawatir debut kali ini tidak sesukses debut grup Johnnys lainnya. Bahkan beberapa fans di tempat konser lain tak hentinya menangis setiap selesai konser.

“Yosh!! aku tak peduli apa yang akanterjadi setelah ini, tapi ayo kita berjuang bersama.” Jesse menaikkan suaranya, memberi semangat pada rekan rekannya.

“SIXTONES …… “

“WOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOY!!!!”

Alunan musik mulai menyebar mengelilingi dome. Suara teriakan fans nyaris menyaingi suara musik. permainan indah lampu menari-nari menantikan kemunculan setiap member. Banyak johnnys jr yang menjadi backdancer perlahan keluar ke area menyipkan kedatangan bintang utama malam itu.

Layar besar mulai menyala dengan diiringi musik khas satu persatu wajah member muncul diikuti suara member yang memperkenalkan diri, tak ketinggalan teriakan fans setiap kali satu nama disebutkan.

Lampu dome padam, cahaya dari percikan kembang api kecil muncul mengiringi keenam anggota SixTONES yang muncul dengan manis dari atas panggung dengan cara terbang sambil menyanyikan lagu Be Crazy. Penonton semakin histeris. Lautan penonton berubah menjadi ajang karaoke masal diikuti lightstick yang menanya mewarnai dome yang memang sudah indah.

 Lagu demi lagu mereka nyanyikan, sesi mc dan tertawa bersama fans, berlari dan melakukan tos dengan fans. Ada rasa sesak dihati keenamnya saat konser terakhir ini.

“Minnaaaa… arigatoooo….”Keenamnya membungkuk dalam di akhir penampilan. Berpamitan pada fans dan perlahan kembali ke backstage.

Teriakan encore berkali kali dari fans meskipun lampu sudah mati menambah kehebohan seisi dome. Hingga pada akhirnya SixTONES kembali naik ke atas disambut teriakan heboh yang tak ada hentinya dari fans.

Lagu AMAZING!!!!!! Mengguncang dome hingga akhirnya lagu yang mereka berenam ciptakan sendiri dari musik hingga lirik menggumam diikuti lampu lightstcik yang berubah menjadi warna putih.

Lagu mellow yang menceritakan masing-masing mereka, perjalanan panjang mereka sejak di junior hingga debut, perselisihan diantara keenamnya, perebutan, sakit hati, hingga saling menjauh begitu terasa di lirik yang bergantian dinyanyikan member.

Tangis haru pecah diantara keenamnya tanpa sadar. Sorak sorai dan tepuk tangan penonton turut menghujani haru mereka. Keenamnya saling berpelukan seolah mereka menyelesaikan suatu misi yang membawa masa depan mereka.

“Maafkan aku aku selama ini terlalu egois” Hokuto tak hentinya meminta maaf sambil terisak

“Tidak ini semua salahku…” Taiga menunduk dan menangis sejadinya

“Kalian semua penting untukku….” Jesse mencoba tegar menahan tangisan keluar dari matanya

“Hei… ayo kita mulai kembali seperti semua”, Juri menambah

“Dan kali ini tak boleh ada rasa saling sakit hati dan tidak percaya satu sama lain yaa”Yugo juga tak henti meneteskan air matanya

“Aku sayang kalian.. aku ingin grup kita ini bisa bertahan dan tak pernah bubar kecuali karena maut memisahkan kita…”Shintaro yang paling muda juga mencoba menahan agar tidak nangis

“Goritaro….”Hokuto kembali menangis sejadinya.

“SIXTONES…SIXTONES….SIXTONES… SIXTONES… SIXTONES”

Teriakan dari fans membuat keenamnya makin haru dan tak bisa berkata-kata.tepuk tangan dan teriakan dari fans hari ini dan selama ini membuat mereka sadar kalau hubungan apapun diantara member mereka tetap harus profesional. Banyak orang diluar sana yang menunggu kehadiran mereka. Banyak yang begitu mensupport mereka.

“Ayo kita bangun dan berterimakasih pada mereka yang selama ini ada untuk kita”Yugo mencoba mencairkan suasana

“cieeeh ojisan…”Taiga mengacak-acak rambut Yugo

Keenamnya melepas pelukan melingkar mereka. Berbaris sejajar masih saling merangkul di pundak

“se…no… ARIGATO GOZAIMASU ……………”

Advertisements

One thought on “Shining Stars

  1. nanggung iiihhh adegan aneh2nya. wkwkwk. ceritanya deep tapi dila kayaknya agak buru2 masukin inti ceritanya ya? hehehe. terus ini hubungab jesse taiga hoku gimanaaaa?? eh ama juri jga.. wkwkwk sequel boleh lah.. #plakk tiap kali kou dibilang ojiisan aku ngakak. 😂😂😂 aammiinnn ya semoga mereka cepet debut… doa bgt nih ah aku terharu 😘😘

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s