What if …. ?

What If ….?

Chara : Hagiya Keigo, Nagatsuma Reo (Love Tune-Johnnys jr)

Genre : boyslove NC-17

Karakter dalam tulisan ini adalah member dari grup Love Tune, Hagiya Keigo dan Nagatsuma reo yang saya pinjam untuk dinistakan.

Selamat membaca, ditunggu caciannya ❤

Continue reading “What if …. ?”

Advertisements

Suddenly In Love (Chapt 4 – END)

Suddenly In Love
By. Kiriechan, Veve dan Dinchan
Minichapter (Chapter 4) –END-
Genre: Romance, Shounen-Ai, Yaoi, Friendship
Rating    : NC-17
Starring : Hagiya Keigo, Yasui Kentaro, Nagatsuma Reo (Love Tune)
Disclaimer: We don’t own all characters here. Love Tune members are under Johnnys & Associates

photogrid_1480478980877

COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil collab gara-gara liat foto anak Love Tune yang oh-so-fanficable banget (?). PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for us! ^^

“Hagiya-kun… ini catatan list kamar buat di onsen,” Aran menyerahkannya ketika Hagiya membereskan tas di bagasi bis yang akan digunakan field trip. Kali ini ada tiga divisi yang ikut. Humas, Penjualan dan Akunting.

Hagiya menatap daftar nama itu, “Sebentar Abe-san! Ini.. kenapa namaku.. bersama Yasui-san?” nama Hagiya dan Yasui ditulis berdampingan.

“Itu berarti kalian satu kamar.. masa gitu aja gak ngerti? hehehe,”

HAH?!

“Kenapa? kok bisa?”

“Aduh maaf Hagiya-kun, itu random kok.. aku mengundinya secara adil,” Hagiya agak curiga karena jelas-jelas nama Myuto dan Aran ada di satu kamar juga.

“Tapi.. bisa di ubah aja gak?” tanya Hagiya pada Aran yang langsung dijawab gelengan.

“Gomen… nanti semuanya jadi kacau.. sorry ya.. memangnya kenapa sih?”

Malas menjelaskan akhirnya Hagiya hanya bisa pasrah dan akan mencari cara lain agar dia tidak perlu satu kamar dengan Yasui nanti.

Sepanjang perjalanan Hagiya mencoba menikmatinya dengan bersenda gurau dengan Reo atau divisi lain walaupun d bangku yang tak jauh darinya Jurina dan Yasui terus menempel satu sama lain membuatnya jengah.

Onsen yang dipilih oleh Aran dan Hagiya memang memberikan pemandangan yang fantastis. Apalagi salju sudah mulai turun sehingga membuat daerah sekitar onsen itu tertutup salju putih dan pastinya akan memberikan pengalaman yang keren dapat berendam sambil melihat salju turun.

“Turunkan barang-barang yuk,” kata Aran, diikuti Myuto dan Hagiya pun turun mengekor bersama Reo. Sementara Yasui sudah masuk duluan untuk menemui pemilik penginapan.

Setelah membagi-bagikan tas kepada peserta, semuanya masuk ke dalam penginapan, berkumpul di aula untuk penyerahan kunci kamar masing-masing.

“Chotto Abe!! kenapa aku gak sekamar dengan Ken-kun?” Jurina mendekati Aran dan Hagiya, berniat untuk protes.

“Perempuan dan laki-laki.kamarnya memang terpisah, Matsui-san,” jelas Aran.

“Tapi harusnya aku dan Ken-kun beda doonngg..”

“Sudahlah Jurina.. ini kan hanya perjalanan dua malam, jangan banyak protes,” Yasui sudah menghampiri mereka dan membuat Jurina terlihat kesal, “Sudah ayo aku bawakan tasmu,” Yasui mengambil tas milik Jurina dan membawanya menjauh dari Aran atau Hagiya.

“Kau tau Hagiya, itu salah satu alasan aku tidak mau pacaran dengan wanita,” kata Aran dengan cueknya.

“EHHH?!”

Aran menepuk kepala Hagiya, “Tentu saja aku bercanda, bodoh! ahahaha,” padahal kalimat tadi sama sekali tidak terdengar main-main.

Hagiya mengambil tasnya, berniat untuk menyimpan tasnya di kamar.

Ojamashimasu..” ucap Hagiya ketika ia masuk ke kamar itu, betapa kagetnya ketika melihat Yasui juga ada di dalam.

“Yo!” sapa Yasui, aura canggung langsung menguar di antara keduanya membuat Hagiya merasa tidak nyaman.

“Aku mau… beli minuman dulu,” kata Yasui. Padahal jelas-jelas di kamar itu disediakan air mineral sebagai welcome drink.

“Apakah.. sebaiknya aku pindah kamar?” tanya Hagiya saat Yasui hampir keluar membuka pintunya.

“Terserah kau saja,” jawab Yasui dingin. Meninggalkan Hagiya dalam keheningan dan rasa sakit di hatinya.

***

Hagiya membereskan barang barangnya, tidak salah lagi dua malam ini ia akan tidur sekamar dengan Yasui. Setelah semua beres Hagiya merebahkan badannya di kasur, acara baru akan dimulai nanti malam, jadi ia bisa sedikit santai dahulu. Hagiya ketiduran.

“Keigo….Keigoooo….Keigooo oiii kau mati yaaa? Hagiyaaaa…” seseorang membangunkan Hagiya, menggoyangkan badannya.

“Yasui san…. apa itu kaaau?” belum sadar betul Hagiya justru menyebutkan  nama Yasui, tangannya mengadah minta dipeluk, pandangannya masih buram.

Ada rasa kesel dirasakan lelaki itu, tapi kesempatan emas tidak akan ditinggalkan tentunya. Diraihnya tangan Hagiya, dipeluknya pria yang masih setengah sadar itu, dan diberi bonus ciuman kecil yang manis.

“Waaaa Nagatsuma! Apa yang kamu…..” Hagiya terdiam memegang bibirnya yang lagi lagi dengan sengaja dicium Reo.

“Hehe, kau sih lama amat dibangunin, dan wajahmu tidur benar benar lucuuu!!” Reo mengusap rambut Hagiya. “Ayo cepat bangun, sebentar lagi acara dimulai” Reo menarik paksa tangan Hagiya yang masih lemas.

Pintu kamar terbuka. Yasui menahan diri, hati dan pikirannya tak karuan melihat Hagiya dan Reo berduaan dengan posisi Hagiya di bawah Reo. Langsung saja pintu kembali di tutup dan Yasui pergi

“Okey, perang dunia kesekian akan dimulai lagi. Ah kalian memang merepotkan saja”, Reo menghembuskan nafasnya panjang, Hagiya yang mendengan hanya mengerutkan dahinya.

Acara selesai, Hagiya kembali ke kamarnya. Yasui sudah disana ternyata.

Aura aneh diantara keduanya meski jarak duduk sudah berjauhan

Tok tok..

“Ken kun… ken kuuun”

Suara Jurina. Mungkin sebagiknya aku membiarkan mereka berduaan. Hagiya bersiap berdiri saat Yasui sudah di depan pintu dan menatap Jurina di depannya.

“Kau tidak ingin berduaan denganku? Aku kedinginan loooh” Jurina dengan genitnya menempelkan dadanya di tangan Yasui.  Yasui mengikuti langkah Jurina meninggalkan kamarnya. Saat tiba tiba.

“Yasui san!” Hagiya menarik tangan Yasui, tapi tak berani menatap. Keduanya diam beberapa saat. “Jangan pergi….” Lanjutnya sambil masih menatap lantai. Yasui masih diam. Jurina menatap Hagiya dengan pandangan jijik

Hagiya menarik paksa Yasu masuk kr kamar. Meninggalkan Jurina yang masih mematung. Pintu kamar dikunci. Hagiya melempar Yasu ke samping pintu.

“Kita harus bicara,” ucapnya dengan posisi mengkabedon Yasui.

“Hagiya….”

“Aku… aku menyukai Yasui san! Sejak saat itu dan sampai sekarang,” nafasnya serasa berhenti. “Aku….. aku tidak rela Yasui san bersama Matsui-san!” Hagiya memundurkan langkahnya. Keduanya membisu.

“Maafkan aku Hagiya.”

“Aaaah kusooo!” Hagiya memukul dinng sebelah Yasui keras. Jurina yang masih diluar mendengar dan ketakutan

Tak tahan, Hagiya merobek paksa pakaian yang dipaki Yasui, meleparkan tubuh mungkil atasannya itu ke kasur. Menciumnya buas. Adrenalinnya meningkat. Ini kesempatannya, kesempatan terakhirnya mungkin. Desahan Yasui mengeras. Ia tidak melawan. Ia membiarkan Hagiya mengeksplorasi tubuhnya. Hagiya berhenti sesaat, menatap Yasui yang begitu menikmati sentuhannya.

“Aku, masih menunggu Yasui-san seperti yang ku katakan”

“Tapi, kau sudah bahagia bersama Nagatsuma, begitupuku dan …” belum selesai, mulut Yasui dibekam oleh mulut Hagiya.

“Kau salah! Aku tidak pernah ada hubungan dengan Reo. Justru aku yang seharusnya kesal karna keputusanmu yang mendadak dan tanpa sebab itu,” Hagiya melanjutkan, “maaf Yasui san, tapi aku tidak bisa menahannya lagi,” tambahnya. Dibuka paksa sabuk yang masih mengikat celana jeans Yasui. Perlahan dibuka kancing dan resletingnya. Tampak milik Yasui yang sudah mengeras.

“Hagiya! Hentikan Hagiya!” Yasui mendesah, mencoba menolak tapi Hagiya menghentikan dengan bibir dan lidahnya yang makin menjelajahi mulut Yasu. Tangan Hagiya menari-nari ke seluruh bagian tubuh Yasui, tak terkecuali bagian sensitifnya. Yasui hanya bisa mengikuti alur yang sudah dibuat Hagiya, memang ini yang sudah lama ditunggu dan ditahannya. Seolah kejadian bulan bulan sebelumnya sama sama tak pernah terjadi.

***

Reo keluar dari toilet saat seorang gadis menghadangnya. “Wa!” Reo terkejut, dia menghela napas lega mendapati yang di depannya ini adalah Jurina, bukan Kuchisake Onna. “Kau mengagetkanku, Matsui-san,” ucap Reo sambil melangkah, “kukira kau hantu.”

“Aku mencintai Yasui-san.”

Reo berhenti, dia menoleh menatap Jurina yang memunggunginya. “Aku sangat mencintainya,” ucap Jurina, “selama ini aku hanya mengaguminya, tapi aku sangat bahagia saat dia menyatakan perasaannya kepadaku.” Jurina tertawa. “Tapi kenapa?!” Jurina berteriak, “kenapa Yasui-San lebih memilih Hagiya itu?! Apa yang dilihatnya dari bocah itu?!”

“Oh, kalau itu kau tanyakan saja kepada Yasui-San,” jawab Reo santai “aku tidak tahu isi hati Yasui-San. Bye.” Reo melangkah meninggalkan Jurina, dia bersiul pelan.

“Jauhkan Hagiya dan Yasui.”

Reo berhenti, dia menoleh dan setengah berjengit melihat Jurina tiba-tiba di belakangnya. Jangan-jangan orang ini hantu sungguhan, habisnya tidak kedengaran langkah kakinya.

“Kau menyukai Hagiya, aku tahu itu,” ucap Jurina, “kumohon jauhkan mereka. Kau bisa memiliki Hagiya.”

Reo diam saja, dia langsung meninggalkan Jurina. Benar kata Jurina, dia bisa memiliki Hagiya. Reo sangat menyayangi Hagiya, dia tidak rela Hagiya berdekatan dengan Yasui. Dia tidak rela Hagiya dimiliki oleh Yasui. Reo yang mengenal Hagiya lebih lama, dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Hagiya lebih tertarik kepada Yasui yang baru dikenalnya.

“Nagatsuma-kun.”

Reo menoleh, dia tersenyum dan memberi salam kepada Sanada. “Kau kenapa?” Sanada bertanya, “sepertinya kau sedang banyak pikiran.”

Reo tersenyum, dia menggeleng saja. “Aku hanya memikirkan satu hal yang entah kenapa sangat rumit,” jawab Reo.

“Soal perasaan, hm?”

Reo menatap Sanada. “Kakekku pernah mengatakan sesuatu,” ucap Sanada, “ada lima tingkatan perasaan. Yang pertama adalah tertarik, lalu suka, kagum, cinta, dan tingkatan tertinggi adalah sayang.” Sanada tersenyum dan menepuk bahu Reo, dia meneruskan, “Pikirkan baik-baik, rasakan ada di tingkatan mana perasaanmu kepada Hagiya, dan kau pasti tahu harus melakukan apa.”

Reo diam, dia memikirkan ucapan Sanada. Ada di tingkatan mana perasaannya terhadap Hagiya? Kagum? Cinta? Atau…

Sayang?

Reo menghela napas, dia menggaruk tengkuknya dan berjalan ke kamarnya. Reo baru akan masuk kamar saat dia menyadari sesuatu.

Lho?

“Oi, Sanada-san! Kenapa kau menyebutkan nama Hagiya?!”

***

PLAKK!

“Stop!! Hagiyaaa!!” tangan Yasui menampar wajah pemuda dihadapannya yang terlihat marah dan emosinya tidak terkontrol.

Hagiya mundur beberapa langkah, kaget karena Yasui terlihat terluka, “Kenapa, Yasui-san?”

Yasui tidak menatap mata Hagiya dan berteriak marah, “Kenapa kau selalu melakukan apapun tanpa memikirkan perasaanku?!!” serunya.

Hagiya mendadak terdiam. Melihat Yasui yang terluka membuatnya merasa bersalah. Yasui berdiri, mengambil kemejanya yang tadi sudah dilepas oleh Hagiya lalu memakainya cepat, keluar meninggalkan Hagiya.

BRUKK.

“Yasui-san?” Reo ternyata ada di lorong menuju ke kamar mereka dan menabrak Yasui yang berjalan terburu-buru.

Yasui memandang Reo sekilas dan berlalu meninggalkan Reo yang menyadari bahwa penampilan Yasui sangat berantakan. Langkah Reo diteruskan menuju kamar Hagiya, dia memang mau mengajak Hagiya untuk berendam.

“Keigooo..” Reo membuka pintu dan melihat Hagiya memunggunginya, tubuh bagian atasnya tidak tertutup apapun hampir saja Reo teriak. Ya ampun, mereka melakukannya?! otak Reo berkeliaran kemana2, “Keigo, kau baik-baik saja?” Reo menghampiri Hagiya, menepuk bahunya.

Hagiya menatap Reo, pandangannya sedih dan terluka.

“Ada masalah dengan Yasui-san?”

Hagiya menggeleng. Reo tidak perlu tau, pikirnya.

“Ayolaahh.. jangan bohong padaku,” Reo merangkul bahu Hagiya, “Aku ini sahabatmu,”

Hagiya menghela napas berat, mengambil kemejanya dan memakainya, “Aku mau berendam,” katanya lalu beranjak. Reo mengikuti Hagiya, memang itulah niatnya dan ternyata Hagiya sama-sama mau berendam.

“Kau menyukai Yasui-san, ya?” Hagiya masih menunjukkan wajah masam, menatap kosong ke pemandangan di depannya.

“Kenapa sih, Keigo?”

“Sebanyak apapun aku mencoba membuat Yasui-san melihatku, dia selalu memalingkan mukanya ke tempat lain, menghindariku. Aku tidak bisa membaca hatinya,” kata Hagiya, akhirnya.

“Karena Keigo tidak membiarkan Yasui-san datang sendiri kepadamu, tapi memaksakan perasaanmu. Kau tau, itu akan membuat Yasui-san tidak nyaman dengan hal itu,” Reo merutuki dirinya sendiri. Padahal ini adalah kesempatannya untuk merebut Hagiya, tapi melihat Hagiya sedih dirinya tidak sanggup menjauhkan Hagiya dengan Yasui.

Hagiya menggeleng, “Entahlah, aku lelah mengejarnya,”

“Kayaknya sebentar lagi kita harus ke aula deh..” Reo melihat ke jam yang ada di dekat mereka, “Fokus ya Keigo,kita harus tampil loh..” Reo mengajak Hagiya keluar dari onsen dan karena malas berdebat dengan Reo, dia pun ikut keluar dari tempat berendam itu.

“Wow.. badanmu bagus ya,” kata Reo, berusaha mencairkan suasana hati Hagiya yang hanya ditanggapi pandangan dingin dari Hagiya. Roman romannya bahkan ada badai sekalipun Hagiya tidak akan berkutik.

Setelah menggunakan kimono yang disediakan pihak hotel, Hagiya dan Reo segera ke aula dan ruangan itu sudah dipenuhi oleh pegawai yang lain. Sebagian pegawai juga sudah selesai berendam sebelum Reo dan Hagiya tadi.

Di tempat se ramai ini, dengan sake dan makanan yang ada dihadapannya memang terasa ramai, belum lagi dengan penampilan dari oegawai lain di panggung kecil yang disediakan. Tapi Hagiya tidak bisa menemukan sosok Yasui. Beberapa kali ia memindai ruangan itu tapi hasilnya tetap nihil.

“Ayo, giliran kita!” Reo menepuk bahu Hagiya, mengembalikan temannya dari lamunannya.

Hagiya menarik napas, mencoba fokus dengan lagu yang akan mereka nyanyikan. Dirinya dan Reo akan bernyanyi, dengan Reo memainkan keyboard dan dirinya akan bermain alat musik cajon, mereka akan menyanyikan lagu Heavenly Psycho dari Kanjani8. Hagiya agak surprise sih ternyata orang seperti Reo juga mendengarkan lagu Johnny’s. Itu loh, agensi yang terkenal menelurkan laki-laki tampan.

Reo memulai nyanyiannya, sementara Hagiya mengiringi Reo. Di tengah lagu tiba-tiba Hagiya melihat Yasui berdiri di dekat pintu aula, menatap Hagiya dengan pandangan yang tidak bisa Hagiya gambarkan. Beruntung Hagiya masih bisa mengendalikan emosinya dan penampilan mereka berhasil membuat semua orang bertepuk tangan. Sungguh refreshing setelah penampilan komedi gagal dari Tanaka dan Kouchi dari divisi Akunting sebelumnya.

Turun dari panggung Hagiya sudah tidak lagi melihat Yasui. Dan Reo tiba-tiba saja bersikap aneh.

“Ikut aku!” Reo menarik tangan Hagiya, menariknya sampai ke depan kamar milik Hagiya, tak lama Reo membuka pintunya tanpa basa-basi. Yasui ternyata ada di dalam, terlihat supervisor mereka itu sedang membereskan barang-barangnya.

“Aku akan pergi sebentar lagi kok,” kata Yasui.

Chigau yo Yasui-san!!” seru Reo, “Aarrgghh kalian ini merepotkan sekali!!” Reo mendorong Hagiya, lalu berbalik dan mengambil kunci kamar itu. Tanpa mengatakan apapun Reo keluar dari kamar itu, menguncinya dari luar.

“Ooiii Nagatsumaaa!!” Reo bisa mendengar suara protes Hagiya dari dalam.

“Selesaikan dulu masalah kalian. Aku akan membuka kamar kalian besok pagi!!”

Yasui masih sibuk membereskan barang-barangnya. Hagiya hanya bisa mematung di bersender pintu. Apa yang harus ku lakukan disaat seperti ini? Sambil menatap langit-langit kamar Hagiya masih diam.

Yasui beranjak dari tempat duduknya. Mengarah ke telpon yang ada di kamar, mencoba menghubungi resepsionis.

“Aku akan minta bantuan,” ucapnya. Sialnya entah apa yang terjadi sambungan telepon bermasalah.

Yasui menghembuskan nafasnya panjang sambil menatap ke luar jendela. Pikirannya saling beradu memikirkan apa yang akan terjadi dan yg harus dilakukan kali ini bila Hagiya menyerangnya, lagi.

“Maaf…..” sepatah kata ya diucap Hagiya, masih belum berani menatap atasannya. Yasui kaget, menatap Hagiya lurus.

“Maaf aku selama ini memaksakan keinginanku tanpa tau perasaan Yasui-san sebenarnya.” Nafas Hagiya terasa sangat berat. “Aku tau seharusnya dari awal aku tidak malakukan itu. Maafkan aku” Hagiya melanjutkan.

Batin Yasui terdengar perih saat mendengarnya. Mulutnya terasa dilem kayu, kaku, dan tak bisa terbuka.

“Yasui san boleh marah padaku, boleh memukulku, melaporkanku pada sachou, atau apapun itu akan aku terima. Hanya saja….” Hagiya kembali terhenti, kini ia berani menatap Yasui. “Jangan membenciku…”

Kini ia justru berbalik menatap pintu dibelakangnya. Memukulnya keras. Aah! Sial! Akhirnya aku mengatakannya. Rasanya Hagiya sudah siap bila Yasui tiba tiba memukulnya dengan benda keras  ruangan itu

Hagiya mendengar langkah kaki Yasui mendekat. Mati mati mati … aaah mamah papah maafkan aku kalau aku mati disini, semoga kita bertemu di surga nanti, pikiran Hagiya kemana-mana.

Plaaak

Yasui memukul kepala hagiya dengan telapak tangannya

“Huuuuft… bodoh! Kau pasti berpikir aku akan membunuhmu ya?” Yasui membalik Hagiya yang ketakutan sambil tersenyum.

“Aku tidak akan memaafkanmu!”, masih memegang kedua pundak Hagiya, Yasui menatapnya serius, Hagiya menelan ludahnya ketakutan.

“Aku tidak akan memaafkanmu karena kau melupakan janjimu padaku,” lanjutnya

“Eeeeh?”

“Sudah ku duga kau lupa,” Yasui tampak makin kecewa. Ditinggalkannya Hagiya yang masih bingung, Mengambil handuk yang tergantung di ujung kasurnya.

“Adikku kemarin dari comicon dan aku tak sengaja melihat ini di komiknya”, Yasui kembali mendatangi Hagiya sambil mengikatkan handuk di tangan Hagiya.

“Yasui, apa yang kau…” Hagiya masih bingung dan ketakutan

“Sudah kubilang aku tidak akan memaafkanmu dan akan melakukan hal yang jahat padamu?” Hagiya mengerutkan alisnya.

Yasui menarik tangan Hagiya yang terikat dan melemparnya ke kasur terdekat. “Kau bilang akan menungguku sampai aku siap, tapi nyatanya mana? Kau selalu menyerangku tanpa sekeinginanku,” Yasui menduduki badan Hagiya yang masih shock hanya bisa mengedipkan matanya tak percaya. Sementara Yasui masih sibuk melepas kimono Hagiya.

“Yasui san apa yang kau….” belum selesai mulut hagiya dibekap dengan tangan  Yasui. Satu tangannya mencoba mengambil sesuatu dari kantong celananya.

Dilemparnya dua buah kondom ke samping tubuh Hagiya. Membuat pemuda itu kaget. Matanya melihat perubahan warna di wajah Yasui.

“Aku…. aku tidak bisa bersama Jurina. Dia uh lebih agresif daripada dirimu dan tubuhku menolaknya,” Yasui dengan posisi yang masih sama.

Hagiya mengangkat paksa kepalanya, melayangkan kecupan kecil ke Yasui yang sedikit menunduk ke arahnya, “Yasui san tidak perlu memaksakan diri lagi. Aku sudah menyerah untuk bisa bersamamu,” Keduanya saling bertatapan dengan pikiran masing masing. Yasui mengelus pelan rambut Hagiya yang masih sedikit basah. Hening.

“Hagiya……” perlahan Yasui menyentuh wajah Hagiya, masih dengan posisi yang sama. “Ijinkan aku melakukannya denganmu?”

Eeeeeeeh??

Hagiya masih kaget dengan ucapan Yasui. Mungkin terlalu lama berendam di onsen, pikirnya. Yasui menempelkan tubuhnya ke badan Hagiya yang terbuka. Mendaratkan kecupan ke bibir merah Hagiya. Melumat perlahan. Tangan Hagiya yang masih terikat tak berdaya, Hagiya pasrah.

Perlahan kecupannya turun ke leher dan tubuh Hagiya. Hagiya sedikit mengerang nyaman.

“Kau tau, melihatmu bersama Nagatsuma bersama, tertawa bersama…. itu menyakitkan,” birahi yasui meningkat. Dicium kasar sekujur tubuh Hagiya hingga membekas. Yasui seakan tau pasti dimana titik-titik rangsang Hagiya, menciumi dan menjilati setiap jengkal tubuh Hagiya membuat pemuda itu mengerang pelan. Hagiya mencoba melawan, tapi tangannya yg terikat tak mampu membantunya membalas perbuatan Yasui.

Yasui membuka kaosnya. Kali ini badannya yang toples bertemu dengan badan Hagiya.

Ciuman keduanya tak dapat dihindarkan. Air liurnya kembali meyatu bersama milik hagiya. Lidahnya mendorong pelan milik Hagiya, gigitan tipis disekujur bibir Hagiya terasa lebih nikmat dari cheesecake manapun, “Bibirmu rasa sake,” bisik Yasui, tepat di atas bibir Hagiya, “jelas lebih memabukkan dari sake,” katanya lagi. Cheesy memang, tapi Hagiya merasakan debaran di dadanya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Yasui.

Tangan Hagiya perlahan dilepas Yasui. Hagiya membalik posisinya. Melempar Yasui ke bawahnya, “Jangan paksa aku berhenti kali ini Yasui-san.”

“Sepertinya malam ini, aku justru akan memintamu tidak berhenti,” keduanya tersenyum, Yasui tidak sanggup berbohong lagi pada dirinya sendiri. Ia jatuh cinta pada Hagiya dan ia tak sanggup terus berpura-pura, ia menginginkan Hagiya seutuhnya. Jadi miliknya.

Hagiya tak berhenti memberikan sensasi manis di bibir Yasui. Perlahan turun dan meninggalkan bekas yang sama dengan yang ditinggalkan Yasui ditubuhnya. Perlahan-lahan ciumannya turun turun dan terus turun. Jari jarinya menari indah di mulut Yasui.

Malam itu, keduanya beradu menyatukan tubuh dibawah sinar bulan yg masuk paksa melalui celah jendela. Tanpa kebohongan lagi, tanpa gengsi lagi.

***

Reo bersiul pelan, dia berhenti kala melihat pintu kamar Yasui dan Hagiya masih tertutup. Reo menoleh, dia perlahan membuka pintu kamar dan mengintip.

Eh.

Reo cengo melihat Hagiya dan Yasui tidur berpelukan, tubuh bawah mereka tertutup selimut.

Lho.

Reo tersenyum kecil kala melihat Hagiya terlihat tenang dan nyaman di pelukan Yasui. Reo menghela napas, dia mengendap keluar kamar.

Reo berjalan pelan, dia duduk di beranda penginapan. Reo mendongak, dia menatap gumpalan awan yang menghiasi langit biru. Reo tersenyum mengingat hari-harinya selama menjalani OJT. Dan memori yang sangat membekas tentu saja saat dia menyatakan perasaannya kepada Hagiya. Yah, walaupun dia mengatakan itu hanya bohong, tapi setidaknya perasaannya tersampaikan. Entah Hagiya menyadarinya atau tidak.

“Kenapa kau malah menyatukan mereka?”

Reo menoleh, dia menghela napas melihat Jurina berdiri di dekatnya dengan memasang wajah kesal. “Kau harusnya memisahkan mereka,” ucap Jurina, “bukannya kau menyukai Hagiya? Kenapa kau malah membiarkannya berdekatan dengan Yasui?”

“Aku tidak pernah mengatakan aku menyukainya,” jawab Reo santai.

Jurina mengerutkan dahi bingung. “Kau mengatakannya kemarin,” ucap Jurina.

Reo menghela napas, dia beranjak dan berkata, “Aku tidak pernah mengatakan aku menyukai Hagiya,” ucap Reo, “tapi aku pernah mengatakan kalau aku menyayanginya.”

“Sama saja,” sahut Jurina.

“Oh jelas berbeda dong,” jawab Reo, dia terkekeh, “suka bisa hilang, tapi sayang itu selamanya.”

Jurina diam menatap Reo. “Aku membiarkan Hagiya bersama Yasui-san karena aku menyayanginya,” ucap Reo, “dan karena aku menyayanginya, aku ingin dia bahagia.” Reo tersenyum, dia menepuk bahu Jurina yang termenung dan menjauhi gadis itu.

***

“Yasui-san,” Yasui membuka matanya perlahan, sinar matahari dengan malu-malu masuk melalui jendela kamar mereka.

“Hmmm?” gumam Yasui, ia masih mengantuk, dipeluknya Hagiya dengan posesif.

“Kalau aku terus jadi anak buahmu, apa tidak apa-apa?” tanya Hagiya.

Yasui tersenyum, “Asal kau berhenti menciumku dimana saja kau mau, kita punya banyak waktu setelah pulang kerja, jadi jangan serang aku saat di kantor,”

“Baiklah aku berjanji asal Yasui-san berhenti mengirimiku teks aneh-aneh saat kerja,”

Yasui terkekeh, “Itu kan juga gara-gara kau yang memancing, tau!”

“Mulai sekarang pun, mohon bantuannya ya, Yasui kachou,”

Yasui tidak menjawab dan mencium kening Hagiya pelan, “Selesaikan TA mu tepat waktu dulu!”

“Uh! Pake diingetin TA! Aku serang nih!” Hagiya menciumi Yasui tanpa ampun, “Daisuki, Yasui-san,”

“Aku juga sangat mencintaimu,” jawab Yasui, menatap mata Hagiya tanpa keraguan.

Apapun yang akan menghadang mereka di depan, Yasui entah kenapa yakin, bahwa ia akan bisa melaluinya bersama Hagiya.

***

THE END

Suddenly in Love (Chap 3)

Suddenly In Love

By. Kiriechan, Veve dan Dinchan

20161203181624

Minichapter (Chapter 3)

Genre: Romance, Shounen-Ai, Yaoi, Friendship

Rating    : PG-15 tapi nyerempet NC-17, tapi karena gak eksplisit jadi gak aku kunci yaaa

Starring : Hagiya Keigo, Yasui Kentaro, Nagatsuma Reo (Love Tune)

Disclaimer: We don’t own all characters here. Love Tune members are under Johnnys & Associates
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil collab gara-gara liat foto anak Love Tune yang oh-so-fanficable banget (?). PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for us! ^^

Continue reading “Suddenly in Love (Chap 3)”

Suddenly in Love (Chapt 2)

Suddenly In Love

20161203181624

By. Kiriechan, Veve dan Dinchan

Minichapter (Chapter 2)

Genre: Romance, Shounen-Ai, Yaoi, Friendship

Rating    : NC-17

Starring : Hagiya Keigo, Yasui Kentaro, Nagatsuma Reo (Love Tune)

Disclaimer: We don’t own all characters here. Love Tune members are under Johnnys & Associates

COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil collab gara-gara liat foto anak Love Tune yang oh-so-fanficable banget (?). PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for us! ^^

***

Hagiya memainkan layar smartphonenya, memilah nama nama di kontaknya. YASUI KENTARO.

Batinnya bingung, ia ingin minta maaf tapi sudah terlalu larut untuk menghubungi atasannya itu. Tunggu besok saja batinnya. HPnya berdering, sontak Hagiya melemparkan HPnya ke udara. Beruntung Hagiya berhasil menangkapnya kembali.

Continue reading “Suddenly in Love (Chapt 2)”

Suddenly in Love (Chapt. 1)

Suddenly In Love

By. Kiriechan, Veve dan Dinchan

20161203181624Minichapter (Chapter 1)

Genre: Romance, Shounen-Ai, Yaoi, Friendship

Rating    : PG-13

Starring : Hagiya Keigo, Yasui Kentaro, Nagatsuma Reo (Love Tune)

Disclaimer: I don’t own all characters here. Love Tune members are under Johnnys & Associates

COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil collab gara-gara liat foto anak Love Tune yang oh-so-fanficable banget (?). PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for us! ^^

Daftar nama itu ditelusurinya terus menerus. Sampai saat ini belum juga ia temukan nama miliknya. Mulutnya bergumam, menyebutkan namanya sendiri, “Hagiya Keigo.. Hagiya Keigo…”

Continue reading “Suddenly in Love (Chapt. 1)”